“Bao”, Film Pendek Terbaru Pixar yang Tampil Sebelum “The Incredibles 2”

0
550

Salah satu film yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya tahun ini adalah The Incredibles 2. Bagaimana tidak, film ini merupakan sekuel dari film pertamanya (The Incredibles) yang rilis 14 tahun lalu. Eits, tapi sebelum menonton filmnya, ada yang harus kamu ketahui dulu. Seperti film-film Pixar yang lain, The Incredibles 2 tidak langsung memainkan filmnya di awal. Menjadi sebuah kebiasaan di mana Pixar memutarkan satu film pendek terlebih dahulu sebelum hidangan utama disajikan. Informasi ini termasuk penting untuk diingatkan kembali agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selain itu, menyaksikan film pendek di setiap awal film Pixar juga menjadi pengalaman unik, di mana Pixar tidak main-main dalam membuat film-film animasi pendeknya. Mulai dari teknik animasi hingga ceritanya, semua melalui proses yang matang. So, tidak jarang film-film ini pada akhirnya masuk ke dalam nominasi Oscar untuk kategori “Best Animated-Shorts”.

Untuk film The Incredibles 2, Pixar sudah menyiapkan Bao (baca: Pao), film pendek yang berhasil mengukir sejarah. Film ini disutradarai oleh Domee Shi, sutradara wanita pertama yang sukses menyutradarai sebuah short movie dari studio sebesar Pixar. Merupakan seorang storyboard artist veteran, Domee mendeskripsikan kisah ini sebagai “dongeng kekinian yang ajaib”. Lewat pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Pixar, ia menjelaskan bahwa Bao mencoba untuk mengeksplorasi pahit-manis kehidupan yang ditampilkan lewat sebuah hubungan antara ibu dan anak. Nah, film jadi makin spesial dan berwarna karena Domee menerjemahkan eksplorasi tersebut dari potret sebuah keluarga kecil beretnis Cina yang tinggal di Kanada.

Seorang ibu diceritakan mengalami masa kesepian dalam hidupnya. Ia tinggal bersama sang suami yang memiliki kesibukan sendiri sementara dirinya sudah mulai menua. Suatu hari, terjadi keajaiban di mana sebuah dumpling yang ia buat tiba-tiba hidup sendiri! Tidak hanya memiliki mata, mulut dan telinga, dumpling ini juga punya tangan dan kaki. Bentuknya pun menggemaskan sekali. Sontak sang ibu langsung terkaget-kaget, namun lama kelamaan dia semakin menyayangi si dumpling kecil ini. Ia seperti mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi seorang ibu dan membuat hidupnya menjadi tidak sesepi dulu. Tapi, seiring berjalannya waktu, si dumpling pun mulai tumbuh.

Dalam menyutradarai film pendeknya, Domee Shi dibantu oleh orang-orang hebat. Salah satunya adalah sang ibu yang menjadi konsultan budaya untuk Bao. Sebagai orang yang berasal dari keluarga imigran, Domee ingin menampilkan budaya aslinya secara tepat di film. Maka dari itu, dibuatlah cerita yang memanfaatkan salah satu produk budaya Cina yang terkenal yaitu dumpling. Memang di sini dumpling memiliki arti yang lebih penting dari sekedar makanan, namun makna aslinya juga tidak begitu saja dilupakan. Mulai dari detik pertama, film langsung menunjukkan gambar yang menawan (dan menggugah selera, tentunya) mengenai cara pembuatan dumpling. Ini tentu tidak sembarangan. Sutradara harus memastikan bahwa teknik pembuatan dumpling disajikan dengan teknik animasi yang berkualitas baik memiliki detail yang akurat.

Lebih jauh, Pixar saat ini dikenal sebagai studio penghasil film-film berkualitas yang kerap menyertakan ethnic identity di dalam DNA-nya. Bagi masyarakat Amerika yang terdiri dari beragam etnis, hal ini termasuk penting karena berkaitan dengan representasi mereka. Dalam beberapa features dan film pendek terakhir yang pernah dibuatnya, Pixar selalu memerhatikan hal tersebut agar isu etnis menjadi lebih inklusif. Coco adalah contoh yang paling baru dan paling diingat karena film tersebut menampilkan kebudayaan dan kepercayaan orang-orang Meksiko akan “Dia de los Muertos”.

Harapannya, dengan adanya Bao, Pixar bisa semakin menjawab pertanyaan yang sampai sekarang masih berkecamuk mengenai eksistensi “Asian Flavour” di industri perfilman Hollywood. Mereka dianggap belum berhasil menampilkannya, bahkan sering kita mendengar istilah whitewashing. Setelah Pixar menampilkan “Sanjay Super Team” yang berisi dewa-dewa Hindu di tahun 2015, Bao menjadi gebrakan berikutnya. Sebuah awal yang baik untuk semua, mengingat ke depannya Pixar dan Disney akan merilis “Aladdin” dan “Mulan”, dua film live-action yang pastinya kental akan nuansa Asia. Lebih luasnya, untuk yang terdekat kita juga akan melihat bagaimana sebuah keluarga besar dari Asia ditampilkan secara berbeda lewat film “Crazy Rich Asians”.

Sebuah sajian yang hangat, sehangat kasih sayang ibu pada anak-anaknya yang tiada tara. Saksikan Bao, film pendek terbaru Pixar yang diputar tepat sebelum film The Incredibles 2 dimulai. Jangan sampai terlambat karena di sini kamu akan menyaksikan satu pengarahan unik dari problematika kehidupan. Bahwa pada akhirnya memang tidak ada satupun yang abadi. Life must goes on. Nothing can stay cute and small forever.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here