Mengenang Stan Lee dan Warisan “Shared Universe”-nya.

240


“Marvel is a cornucopia of fantasy, a wild idea, a swashbuckling attitude, an escape from the humdrum and prosaic. It’s a serendipitous feast for the mind, the eye, and the imagination, a literate celebration of unbridled creativity, coupled with a touch of rebellion and an insolent desire to spit in the eye of the dragon.” – Stan Lee.

Tanggal 28 Desember adalah hari lahir salah satu legenda pop culture yaitu Stan Lee. Ia adalah pencipta sekaligus penulis dari banyak komik Marvel. Kepergiannya pada 12 November 2018 sangat disayangkan banyak orang. Tokoh dengan nama asli Stanley Martin Lieber ini terkenal passionate, lucu, dan betul-betul menjadi contoh yang hebat dalam bagaimana seseorang berjuang untuk merealisasikan impiannya. Stan Lee mulai menggambar ketika dirinya masih berusia tujuh tahun. Ia saat itu tinggal di Washington Heights – Manhattan, di mana keluarganya baru terkena dampak dari ‘Great Depression’ di tahun 1929. Stan Lee kecil tidur di kamar yang tidak memiliki jendela, dan ini membuatnya berkreasi untuk membuat jendelanya sendiri. Ia mulai menggambar. A little illustrated story to amuse himself.

Dalam buku “Excelsior! The Amazing Life Of Stan Lee”, ia berkata bahwa kegiatan ini memberikan sebuah dunia yang ia percayai. Sebuah dunia yang ia bisa ambil. Sebuah dunia ciptaan yang membuat Stan Lee terbentuk menjadi seorang escapism yang hebat sejak lahir. Lebih jauh, dunia ini tercipta dari situasi keluarga Stan Lee yang saat itu memang sedang terpuruk. Ia kemudian menggambar dan ini menunjukkan bahwa Stan Lee adalah orang yang selalu berusaha untuk berpikir positif. Membenci kemalasan agar bisa menemukan cahaya di kala situasi sedang berada di posisi yang tidak menguntungkan.

Stan Lee, Jack Kirby, Steve Ditko (Dari kiri ke kanan)

Mentalitas yang pada akhirnya membuat Marvel Comics, perusahaan komik yang ia buat bersama Goodman, Kirby, Ditko, dan artist-artist lainnya, menjadi perusahaan yang tidak hanya kreatif namun juga tangguh. Marvel tidak hanya berbicara di satu ranah pop culture yaitu komik, namun juga ranah pop culture lain yaitu film. Seperti yang kita tahu, Marvel, dengan Marvel Studios-nya, adalah game changer di dunia perfilman modern lewat konsep “cinematic universe”. Ini merupakan satu model mutakhir dari pengembangan seri yang mengkombinasikan semua praktik film (sekuel, remake, reboot, crossover, spin-off). Semua itu kemudian dibuat compact dalam satu dunia, dan dunia tersebut di-setting sedemikian rupa agar memiliki kontinuitas yang otentik, baik secara cerita maupun artistik.

Dalam sejarah perfilman modern, tercatat baru Marvel yang memiliki grand design “cinematic universe” sebesar, semegah, dan terencana sangat baik. Rencana jangka panjangnya terbentang luas dan sangat ditunggu-tunggu kelanjutannya, tidak hanya oleh fans namun juga masyarakat seluruh dunia. Tapi tahukah kamu, di balik cerita sukses tadi ada perjuangan berdarah-darah dari Marvel itu sendiri? Usaha untuk memperjuangkan playbook dari Stan Lee yang selalu membentur tembok? Sesungguhnya ide untuk menyatukan dunia para pahlawan super sudah ada di dalam komik. Hanya saja, untuk mentransformasikannya ke medium film, itu bukan perkara mudah. Bahkan untuk Stan Lee sekalipun.


Stan Lee saat ajang San Diego Comic Con 1975 (Photo by Alan Light)

Terbukti, Marvel awalnya harus merasakan jatuh dulu. Dalam artikel yang ditulis oleh Empire pada edisi 357, sekitar 40 tahun yang lalu studio film masih waspada, atau bahkan curiga, terhadap materi-materi cerita yang berasal dari buku komik. Apakah cerita-cerita ini bisa mendatangkan keuntungan? Tampilan gambarnya cerah, menyolok (garish), kesannya cuman buat anak-anak doang. Kadar kesuksesannya belum pasti, kadang tinggi seperti film Superman (1978) tapi bisa juga bisa disastrous seperti Howard the Duck (1986). Simpel-nya adalah, resiko yang ditanggung untuk membuat film superhero termasuk tinggi karena untuk menampilkan cerita yang terlihat meyakinkan dari komik ke layar lebar membutuhkan teknologi yang mahal.

Stan Lee di masa-masa ini tercatat sangat struggling. Ia ingin karakter-karakter atau propertinya bisa masuk ke layar lebar. Pada tahun 1981 Stan Lee pindah ke Hollywood agar ia bisa lebih mudah bertemu orang-orang dan mendapatkan deal. Tapi yang terjadi adalah deal-nya masih belum sukses. Tanpa strategi yang koheren dan kuat, hak milik dari properti Marvel terjual dalam sebuah situasi yang istilah kata “mau gak mau”. Hasilnya? Bisa ditebak. Apa adanya banget seperti Fantastic Four-nya Roger Corman di tahun 1994 yang low budget dan kurang menarik bila dilihat dari segi visual.

Situasi mulai menemukan jalan, meski masih belum sesuai dengan yang diinginkan oleh Stan Lee. Pada tahun 1993 Marvel perlahan memiliki separuh saham raksasa mainan, Toybiz yang akhirnya menjadi anak perusahaan Marvel di tahun 1998. Kemudian masuklah Avi Arad yang mulai sadar kalau Marvel memiliki potensi yang cukup untuk menambang emasnya sendiri. Setelah itu Marvel terlihat lebih serius dalam dunia bisnis perfilman. Mereka membentuk Marvel Entertainment, cikal bakal Marvel Studios, sebuah perusahaan yang bergerak agar Marvel bisa ikut terlibat dalam film-film adaptasi yang berasal dari properti mereka. Hasilnya bisa dilihat dari beberapa film Marvel yang rilis akhir 90-an hingga awal 2000-an. Bersama New Line, Marvel merilis “Blade” (1998). Rilisnya Blade ini ternyata meyakinkan Fox untuk berjudi dengan membuat film “X-Men”, properti Marvel yang sudah mereka punya sejak 1994, namun baru dirilis filmnya pada tahun 2000.

Komplit dengan cameo Stan Lee, “X-Men” meraih kesuksesan finansial yang luar biasa. 300 juta dollar Amerika di box office seluruh dunia berhasil meyakinkan raksasa berikutnya, Sony – untuk memfilmkan Spider-Man, karakter superhero paling populer dari Marvel. The rest is history, di mana Marvel terus menerus mengeluarkan film-film lainnya seperti Daredevil dan Fantastic Four (Fox), Ghost Rider (Sony), sampai The Incredible Hulk (Universal). Marvel, setelah menjalani tahun-tahun penuh ejekan, mulai setapak demi setapak mengubah imejnya sebagai pemain besar di Hollywood.

Tapi, masih ada yang kurang benar di sini. Karena ambisi untuk memfilmkan karakter-karakter superhero-nya, Marvel sudah memberikan copyrights dari beberapa karaker besar ke major studios. Ini memunculkan kekhawatiran karena faktor kepentingan bisa memengaruhi hasil akhir dari film-film yang ditampilkan. Namun keresahan terbesarnya ada pada keinginan awal Stan Lee, yang mana jika dilihat tetap berkaitan dengan faktor copyrights. Bagaimana ia bisa mewujudkan keinginannya untuk menyatukan para karakter dalam dunia yang sama di versi film jika yang punya sudah berbeda-beda? Boleh saja Stan Lee seenak hati membuat “shared universe” di komik, tapi ini dunia yang berbeda. Stan Lee dan timnya, yang sudah berhasil bernapas, dihadapkan pada tugas yang sulit; mulai merealisasikan mimpi perusahaan yang paling ambisius.

Masuk lah Kevin Feige menggantikan Avi Arad. Ia mengambil alih komando dan memimpin Marvel Studios untuk memasuki hutan belantara atas nama mereka sendiri. Jujur, saat itu Kevin dan tim berada di situasi yang tidak kalah berbahaya. Marvel ketika itu hanya memiliki modal karakter-karakter superhero “lapis dua” seperti Captain America, Iron Man, dan Thor. Apakah saat itu superhero-superhero tersebut bisa menjamin kesuksesan baik di box office Amerika maupun dunia? Tentu tidak. Lantas apa yang harus mereka lakukan? Well, back to roots. Kevin melakukan apa yang belum pernah dilakukan oleh film-film Marvel sebelumnya kala itu yang sudah terlanjur dimiliki oleh studio-studio besar.

Kevin meyakinkan diri pada bagaimana karakter ini diciptakan sesuai dengan penggambarannya di komik, yang mengarah kepada ambisi terbesar perusahaan yaitu menciptakan sebuah multi-part narrative dengan dimensi waktu bertahun-tahun panjangnya. Kemudian, dimensi waktu ini diisi oleh beberapa film yang memang sengaja dibuat memiliki keterkaitan informasi dari apa yang sudah terjadi di installment sebelumnya dalam dimensi waktu yang sama. Dimensi ini bisa dikatakan sebagai “phase”, di mana sekarang Marvel Cinematic Universe sudah memasuki peralihan dari phase 3 ke phase 4 di medio tahun 2019 nanti.

Keputusan back to roots adalah keputusan yang tepat karena keputusan ini mewujudkan impian liar fans menjadi nyata. Mereka akhirnya bisa melihat karakter-karakter pahlawan dalam satu film yang sama dan memiliki cerita masing-masing yang kuat juga dari standalone film-nya. Jika sudah membuat fans bahagia, tentu Marvel sudah mendapatkan bensin yang cukup untuk terus bergerak maju. Ditampilkannya karakter-karakter lapis dua juga memiliki keuntungan. Untuk fans yang sudah tahu siapa saja Iron Man, Captain America, dan lainnya, mungkin tidak masalah jika Marvel membuatkan standalone film dari mereka terlebih dahulu. Tapi bagi masyarakat umum, tampilnya pahlawan-pahlawan ini memiliki arti yang lebih krusial, karena merupakan kali pertama mereka bertemu.

Kesan pertama memang selalu mendebarkan, namun jika dijalani dengan baik ke depannya akan lancar-lancar saja. Dan sejauh ini Marvel lancar-lancar saja dalam memperkenalkan karakter baru, terutama di phase 2 dan phase 3, di mana kita diperkenalkan oleh karakter superhero yang lebih asing lagi seperti Guardians of the Galaxy, Ant-Man, Doctor Strange, dan Black Panther. They offer new things in store constantly and it’s getting more attractive yet infectious by the time. Turut didukung oleh kepercayaan diri yang timbul dari penokohan masing-masing hero dan juga unsur unik yang dimiliki oleh komiknya kemudian ditonjolkan di dalam filmnya, Marvel mulai tak terbendung.

Balik lagi, semua berawal dari kerja keras dan mentalitas untuk melihat sesuatu yang positif dalam kondisi negatif. Jauh sebelum Kevin Feige memutuskan untuk membuat multi-part narrative bagi MCU, Stan Lee sudah menampilkannya di dalam bentuk komik. Kevin pun sebetulnya juga merancang rencana MCU berdasarkan playbook-nya Stan Lee. Sedikit flashback, pada awal tahun 60-an, Lee, Kirby, dan Ditko menciptakan satu kondisi di mana karakter superhero yang ada di komik hidup dalam satu dunia. Mereka bisa datang dan pergi dalam cerita yang ada. Pada bulan Maret 1963, Marvel menyertakan Spider-Man dan Fantastic Four dalam kisah yang diberi judul “Spider-Man Meets the Fantastic Four”.  Beberapa bulan setelahnya terbit “The Avengers” yang menyertakan The Hulk, Thor, Ant-Man, dan Iron Man. Empire menulis, crossover dan cameo menjadi tren dan ini ternyata tidak hanya berhasil booming di masa lalu, namun juga booming di masa sekarang dalam bentuk film.

Dengan segera rilisnya “Avengers: Endgame”, Marvel, seluruh pihak yang pernah terlibat dengan perusahaan ini, dan kita sebagai penikmat film harus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Stan Lee. Ia adalah sosok yang tidak hanya berperan penting sebagai kreator komik-komik Marvel, dedengkot Marvel, atau apalah itu namanya. Stan Lee adalah orang yang berjuang paling keras untuk mewujudkan sesuatu yang mengubah nantinya dunia, tentu dengan bantuan dari banyak orang di sekitarnya. Ia rela menjadi orang yang menelan pil pahit dan ejekan sebelum bisa betul-betul mewujudkan apa yang ingin dicapai ketika usianya sudah memasuki masa renta. Stan Lee tidak pernah berhenti berusaha, selalu melihat segi positifnya. Disadari atau tidak, dari film Marvel jadul, film Marvel yang diproduksi oleh studio lain, hingga MCU, semua pada hakikatnya adalah kesatuan. Kesatuan yang tidak hanya berujung pada satu bentuk penceritaan bombastis yaitu ‘Marvel Cinematic Universe’, tapi lebih dari itu. Satu kesatuan yang membuat kita percaya akan kekuatan super yang sesungguhnya dimiliki oleh setiap manusia.  

Sangat menggetarkan jika seluruh imajinasi ini menjadi nyata dari sebuah kamar yang tidak memiliki jendela. Excelsior, Stanley Martin Lieber!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here