“As an offering to our father, we will today surrender nine human lives. That is four new bloods. Four from Harga. And one to be chosen by the Queen. Nine in all, to die, and be reborn in the great cycle.” – Siv.

Menyelisik dari judulnya dan poster yang beredar di sejumlah media, film ini tak terlihat seperti film yang memuat konten terlarang. Namun faktanya, film ‘Midsommar’ sempat tertunda penayangannya di Indonesia akibat sempat tidak lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Awalnya, ‘Midsommar’ dijadwalkan tayang pada 3 Juli, namun harus mundur hingga akhirnya bisa tayang di Indonesia per 11 September.

Meski durasinya harus rela dipangkas sampai 9 menit (menurut rilis resmi di Indonesia), sejatinya film ini mempunyai rilis resmi Director’s Cut hingga 171 menit. Tentunya agak berbeda jauh dengan versi Theatrical Cut yang kalau dihitung-hitung hanya berkisar 147 menit (belum termasuk 9 menit yang dikurangi untuk versi Indonesia). ‘Midsommar’ yang ditayangkan di Indonesia, mempunyai rating 21+ dari LSF yang tentunya sudah dapat dipahami maknanya. Pastinya itu karena adanya konten vulgar dan terdapat unsur sensitif yang ada di dalam film.

Tapi kita tak akan berlama-lama membahas polemik soal durasi film yang terbilang sangat panjang. Kita mulai saja review-nya di bawah ini.

Kisah bermula ketika Dani Ardor (Florence Pugh) mengalami trauma akibat insiden yang terjadi di masa lalu dan hal tersebut turut mempengaruhi hubungan percintaannya dengan sang kekasih Christian Hughes (Jack Reynor). Suatu hari Christian diundang oleh salah satu temannya Pelle (Vilhelm Blomgren) untuk menikmati perayaan musim panas di Halsingland, Swedia. Walaupun sempat dilanda keraguan akhirnya Christian mengajak Dani bersama kedua teman lainnya Josh (William Jackson Harper) dan Mark (Will Poulter).

Tawaran itu begitu menarik karena perayaan tersebut hanya dilakukan sekali dalam 90 tahun dan berlangsung selama 9 hari. Kehadiran mereka di sana disambut kehangatan matahari, rerumputan nan hijau, orang-orang berkumpul untuk menari-nari dan bernyanyi layaknya sedang menikmati perayaan musim panas.Namun tak butuh waktu lama bagi mereka di balik keceriaan dan kegembiraan yang ada bahwa perayaan tersebut menyimpan berbagai kengerian yang tak pernah mereka duga.

Film Ari Aster sebelumnya, ‘Hereditary’ (2018) berhasil mencuri perhatian publik. Dalam film debutan dari sutradara yang selama ini banyak menggarap film pendek, Ari Aster mampu menampilkan horor gelap dengan latar belakang permasalahan keluarga. Kali ini Aster menawarkan horor yang berbeda dari film sebelumnya. Sesuai dengan judulnya, ‘Midsommar’, film ini mengambil latar musim panas (summer) di Swedia. Dalam bahasa Indonesia, midsommar berarti tengah musim panas atau ‘midsummer’ dalam bahasa Inggris.

‘Midsommar’ garapan Ari Aster memiliki genre folk horror yang melibatkan elemen folklore namun dengan eksploitasi sisi mistis. Khususnya, dalam film ini berhubungan dengan suatu ritual pagan. Genre ini pertama kali dipopulerkan oleh film ‘The Wicker Man’ yang rilis pada tahun 1973. Ada beberapa kemiripan kalau kita melihat apa yang disuguhkan dalam film ini dengan ‘The Wicker Man’ puluhan tahun silam itu, walaupun eksekusi dan naratifnya ada sejumlah perbedaan.

Jika selama ini film horor identik dengan kegelapan malam, dimana mimpi-mimpi buruk selalu datang menghantui atau makhluk-makhluk mengerikan selalu tampil di dalam bayang-bayang, hal ini tidak sedikit pun terjadi dalam ‘Midsommar,’ dimana kengerian dan teror yang terjadi selalu dilakukan tepat pada saat matahari sedang bercahaya dengan cerah-cerahnya.

Film-film horor yang ada selama ini seakan- akan membuat janji tak terucapkan dengan penonton, bahwa mereka tidak perlu takut selama tetap dalam cahaya. Ari Aster menjungkirbalikkan semuanya itu dengan menyajikan teror di tengah siang dengan berlatar belakang festival pertengahan musim panas dimana siang lebih panjang dari pada malam tepat di saat titik balik matahari.

Selain itu, ‘Midsommar’ menyuguhkan tampilan visual menawan penuh nilai estetik yang jauh dari kesan horor. Dengan lansekap hutan yang terang dan indah menawan dan hal- hal yang serba mendetail pada pakaian, rumah-rumah dan juga tari-tarian menjadikan film ini sangat artistik dan melalui tampilan visual ’cantik’ itulah kengerian dipaparkan dengan sadis dan brutal.

Film ini dari awal memiliki alur cerita yang lambat pada awalnya, seakan-akan audiens dimanjakan oleh keindahan visual dan ikut menikmati kegembiraan pesta pertengahan musim panas, tapi semuanya itu cepat berubah ketika adegan-adegan sadis dan gore satu bersatu mulai bermunculan dan membuat perasaan tak nyaman yang cukup kuat. Jangan berhadap ada adegan jumpscares. Sebagai gantinya kamu akan dipertontonkan dengan tampilan horor yang benar-benar sadis. Tak cocok ditonton buat kamu yang berhati ‘lemah’. Beberapa adegan yang brutal memang ditampilkan langsung tanpa basa-basi.

Seperti halnya ‘Hereditary’, film ‘Midsommar’ juga menceritakan kisah seorang wanita yang trauma, terasing dari dunia, akibat ditinggal orang tua dan saudaranya. Akting Florence Pugh menjadi salah satu kekuatan penting yang membuat film ini terasa begitu memikat dan mampu membuat penonton turut merasakan kekalutan yang dimiliki karakter Dani. Karakter Dani di dalam film yang ingin keluar dari mimpi buruk hidupnya. Ia begitu merasa tersiksa secara jiwa dan batin. Kemarahan yang terpendam dan tidak berdaya yang mengalir melalui Dani, dan Pugh dengan ahli mengartikulasikan kebingungan dan kesedihan itu.

Secara keseluruhan film ini mudah sekali ditebak, tak seperti ‘Hereditary’ yang memberikan kejutan demi kejutan. ‘Midsommar’ bahkan sudah bisa kita prediksi bagaimana ending-nya. Rasa duka mendalam yang tak bisa ditampung dalam waktu singkat, membuat karakter Dani seperti kehilangan pegangan, pun ia agak ragu dengan kekasihnya, Christian yang dirasa tak mampu menenangi dirinya.

Kelabilan ini seketika mampu ditutupi oleh kehadiran sekelompok individu yang mampu berbagi suka dan duka dengan dirinya. Walaupun tindakan yang mereka tunjukkan lebih mendekati ‘orang sakit jiwa’ ketimbang orang normal yang mampu berinteraksi secara positif dan berempati dengan jiwa-jiwa yang terluka dan bukan dengan pengorbanan diri dan melakukan perbuatan ‘menghilangkan nyawa orang lain’ dengan kedok tradisi.

Pengurangan durasi, pastinya akan membuat dari kita yang menonton sedikit kesulitan dalam mencerna secara keseluruhan film ini, akibat banyak sekali simbol-simbol yang perlu ditelaah lebih lanjut. Dan sekaligus juga menegaskan, kalau film ini bukan untuk semua orang. Hanya untuk kalangan tertentu yang berwawasan terbuka akan suatu karya seni dari individu yang bebas berekspresi lewat suatu medium.

Director: Ari Aster

Starring: Florence Pugh, Jack Reynor, William Jackson Harper, Will Poulter, Vilhelm Blomgren, Isabelle Grill, Gunnell Fred

Duration: 147 Minutes

Score: 8.2/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here