“We need to throw a punch, so they know what it feels like to be hit.”- Admiral Chester Nimitz.

Sekurang sukanya kita sama “Pearl Harbor”, mau tak mau itu adalah film yang sangat populer. Bagaimana tidak, di situ lah sutradara Michael Bay semakin memantapkan diri sebagai sineas yang jago dalam urusan ledakan. Sayang, film dirasa juga memiliki unsur dramatisasi yang kelewatan sehingga apa yang diinginkan dari sebuah film perang kurang tersampaikan. Sekarang, follow-up dari kejadian Pearl Harbor difilmkan.

Judulnya adalah “Midway” dan disutradarai oleh Roland Emmerich. Dibandingkan dengan Bay, Roland Emmerich merupakan seorang sutradara yang tidak kalah jago untuk membesut film-film perang kolosal seperti ini. Berkaca pada film-film karya Emmerich sebelumnya seperti “2012”, “Independence Day”, “Day After Tomorrow” dan “Godzilla”, jelas bahwa ia adalah ahli spectacle yang sangat visioner.

“Midway” sendiri sebenarnya bukan film yang baru pertama kali dibuat. Sebelumnya di tahun 1976, film ini pernah dibuat dengan sederet cast papan atas dan digarap dengan sangat serius, terlebih era tahun 1960 hingga tahun 70-an merupakan tahun-tahun banyaknya film berlatar belakang Perang Dunia yang diangkat ke layar lebar.

Film ini dibuat untuk menghargai perjuangan para fighters Amerika dan Jepang pada pertempuran hebat “Midway”. Maka dari itu, pantas jika film ini mengambil point of view dari banyak karakter. Yang pertama adalah Edwin Layton (Patrick Wilson). Ia adalah seorang intelijen Amerika yang bertugas di Pearl Harbor. Edwin menjadi salah satu saksi kekejian Jepang ketika Pearl Harbor diserang. Parahnya, ia sebagai intel justru kecolongan karena tidak mengetahui akan bahaya ini.

Kedua ada Dick Best (Ed Skrein). Bisa dibilang dari ensemble cast yang ada, Dick Best adalah karakter utama. Ia adalah pilot AS yang dikenal berpendirian keras. Imi dideskripsikan dalam dialog, di mana ketika Dick sudah terbang seakan-akan dia tidak ingin kembali. Kemudian yang terakhir, film juga menampilkan point of view dari pihak Jepang yang diwakili oleh aktor Tadanobu Asano.

Penceritaan yang luas ini turut didukung oleh jajaran cast yang oke. Selain nama-nama yang kami mention di atas, “Midway” juga diisi oleh nama-nama aktor kondang lainnya yang bisa dikatakan lintas generasi. Tercatat ada Dennis Quaid, Luke Evans, Woody Harrelson, Aaron Eckhart, Mandy Moore, hingga aktor kekinian macam Darren Criss, Keean Johnson, dan Nick Jonas. Ini tentu memberi aura positif untuk film karena ada unsur kejutan ketika aktor-aktor itu tampil di layar.

Para aktor senior tentunya ditunggu untuk memberikan kedalaman dalam menampilkan karakter masing-masing, meski ada yang screen time-nya cuma sedikit. Kemudian untuk para aktor muda, kita jadi penasaran juga gimana mereka dapat berakting di sebuah film perang? Genre yang sebelumnya belum pernah mereka mainkan. Apakah para “babyface” ini cocok mengarungi medan pertempuran yang tidak kenal ampun?

Tapi ada kelemahan yang kita bisa lihat dari penceritaan yang luas ini. Cerita dari “Midway”, khususnya yang mengarah ke strategi peperangan, kurang greget. Kita akan mengalami kesulitan untuk mencerna strategi yang digunakan Amerika untuk menghadapi Jepang. Di dalam filmnya dikatakan bahwa ada sebuah jebakan yang disiapkan oleh Amerika. Penonton harus fokus pada dialog yang ada karena hal tersebut dijabarkan secara efisien.

Proses eksekusinya juga kurang ngena. Mungkin karena tertutupi oleh layer-layer lain, mengingat “Midway” juga menampilkan lika-liku di luar kapal induk seperti di Pearl Harbor, dan markas intelijen. Kebersamaannya bisa kita rasakan, namun proses kebersamaan tersebut untuk bisa membalikkan keadaan itu yang sulit didapat.

Tapi, karena film ini memiliki latar waktu setelah kejadian Pearl Harbor, maka “Midway” dituntut untuk bisa menampilkan situasi Angkatan Laut Amerika saat itu, yang mana sedang jatuh-jatuhnya. Bagaimana tidak, pangkalan mereka dihancur-leburkan. Banyak tentara yang mati. Banyak yang kehilangan. Itu semua membuat mental para tentara ambruk. Lewat penggambaran sinematik khas Emmerich yang hancur-hancuran, kemudian ada juga yang nuansa gelap dan eerie, Angkatan Laut Amerika berada di titik terendah.

Itu yang paling bisa dirasakan penonton. Bagaimana mereka waswas, bahkan takut dengan kekuatan Jepang saat itu. Mendekati perang besar, unsur ini justru menjadi yang paling jelas terasa. Ketakutan mulai menyelimuti Dick Best cs, terlihat dari pilot-pilot yang tersedia.

Untuk sinematiknya, selain menjadi aspek penting dalam memperlihatkan jatuhnya Angkatan Laut Amerika, Roland Emmerich juga mengaplikasikan apa yang menjadi hobinya. Dari awal film kita sudah disuguhi kekacauan akibat serangan Jepang dengan permainan spectacle yang maksimal. Pesawat-pesawat Jepang memporak-porandakan kapal-kapal Amerika tanpa ampun. Bahkan, mereka menyerang daratan dengan cara terbang rendah.

Untuk sebuah enrertainment, ini akan seru. Kemudian nanti juga ada sequence di mana mereka yang berusaha untuk selamat ditempatkan di circumstances yang hampir mustahil. Di sini akan terlihat bagaimana Emmerich memainkan spectacle-nya di mana dengan CG yang dominan ia menciptakan neraka. Korban-korban yang tewas ditampilkan secara aman, mengingat film rating-nya adalah 13+.

Hanya saja jika dilihat-lihat lagi, spectacle ini memang sangat bergantung oleh CG. Masih dapat terlihat beberapa scene yang jelas polesan komputernya. Entah mengapa spectacle-nya memang “grande” tapi akibat hal-hal semacam ini aspek visual tersebut akhirnya masih belum bisa meyakinkan kita seratus persen. Ada yang bilang bahwa filmmaker adalah seorang pesulap karena bisa membuat kita berada di dunia yang lain, sesuai dengan cerita film yang mereka bawa. Anggapan tersebut jelas bukan untuk filmmaker di film ini. Dogfight-nya biasa saja. Lebih terlihat seperti video game dengan perpindahan kamera ke wajah pilotnya biar lebih dinamis.

Jika dibandingkan dengan film yang memiliki dogfight sekeren “Dunkirk”, jelas “Midway” harus ngumpet dulu. Sebagai sesama film 13+ yang dominan adegan dogfight-nya, “Midway” tidak memiliki beberapa poin seperti keindahan manuver pesawat ketika bertempur yang ditampilkan di layar, kemudian kamera jelas tidak ada yang diposisikan di sayap pesawat sehingga variasi gambar dogfight “Midway” meski dinamis namun masih jauh dari kata keren.

Kemudian yang berikutnya adalah character build-up. Dick Best adalah sosok dengan sifat yang sudah biasa ada di film-film. Seseorang yang piawai dalam bidangnya tapi cenderung ceplas-ceplos. Gak santai lah istilahnya. Hal tersebut membuat dirinya kerap tidak mendapatkan respon yang baik. Itu sesuatu yang sudah lazim ada. Tinggal bagaimana hal tersebut diolah sehingga kita bisa masuk ke karakternya, atau bersimpati terhadap dia.

Film berusaha untuk itu, di mana Dick Best memiliki motif sehingga ia sangat termotivasi. Hanya saja hal itu belum cukup karena tidak ada scene yang menunjukkan kedekatan yang real antara Dick Best dengan orang yang dimaksud ini. Justru yang lebih ngena ada di midpoint, ketika Dick bertemu dengan ‘wingman’ baru yang masih hijau. Untuk karakter pendukung, tidak ada yang istimewa, termasuk Edwin Layton. Semua karakter hanya ditampilkan satu dimensional saja. Memang tidak salah, tapi ini membuat penonton tidak terlalu “engage”, bahkan tidak “engage” sama sekali. Ya udah sekedar nonton saja.

Dengan spectacle gede-gedean nya Emmerich, penceritaan yang lebih luas lagi, dan tidak ada unsur romansa pacar-pacaran, “Midway” adalah follow-up yang oke untuk “Pearl Harbor”. Sayangnya, terdapat beberapa kelemahan yang membuat film masih kurang nendang. Visual gede-gedean belum dapat menyaingi ciptaan Bay yang merupakan rajanya ledakan. Masih lebih breathtaking “Pearl Harbor”.

Ceritanya memang lebih baik, namun belum masuk ke level memuaskan karena selain kurang greget dalam menjabarkan taktiknya seperti apa, “Midway” juga diisi oleh karakter pendukung yang kurang menarik perhatian. Yang bisa diberi kredit selain komprehensifnya adalah rasa takut, terpuruk, underdog dari Amerika terhadap Jepang. Cocok untuk dijadikan pembelajaran terhadap sejarah yang belum diketahui banyak orang.

 

Director: Roland Emmerich

Starring: Ed Skrein, Patrick Wilson, Woody Harrelson, Mandy Moore, Luke Evans, Dennis Quaid, Keean Johnson, Darren Criss, Nick Jonas, Aaron Eckhart, Luke Kleintank

Duration: 138 Minutes

Score: 7.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here