Sekuel dari “My Stupid Boss” (2016) yang kini melakukan perjalanan ke Vietnam untuk mencari tenaga kerja. Konflik internal dalam perusahaan membuat Bossman mencari pegawai baru hingga ke negara tetangga.

Film ini sesungguhnya memiliki materi yang begitu menarik, terutama bagi penonton genersi millenials. Rata-rata saat ini mereka sudah menjadi angkatan kerja dan yang namanya kerja di kantor ada saja dramanya. Nah, tokoh paling berjasa, yang biasanya memicu drama kantor semacam ini adalah sosok bos. Orang yang jika dilihat dari sudut pandang struktur organisasi memiliki kekuatan. Mereka adalah superior yang bisa memerintahkan apapun pada subordinate. Dan saking kuat pengaruh dari bos ini acap kali menimbulkan banyak konflik. Bentuknya jelas, yaitu berupa kebijkan-kebijakan yang dikeluarkan. Seringkali kebijakan ini dianggap kurang menguntungkan bagi karyawannya sehingga memunculkan gosip-gosip negatif di kantor dan akhirnya hal ini bikin kita kerja jadi gak nyaman.

Konflik ini lah yang disajikan oleh sutradara Upi dalam “My Stupid Boss 2”, lanjutan dari film “My Stupid Boss” yang sukses di tahun 2016 lalu.

Di film ini Bunga Citra Lestari kembali berperan sebagai Diana aka Kerani, lalu Reza Rahadian juga kembali menjadi Bossman. Keadaan perusahaan juga belum berubah drastis, well, tidak mungkin juga sih untuk berubah, karena Bossman merupakan seorang businessman pelit dan karakter itu tidak akan menghilang. Sifatnya yang lebih mengutamakan harga miring membuat karyawan-karyawannya jengkel. Produksi jadi tidak efektif karena peralatan yang digunakan sudah “usang”. Merasa aspirasinya tidak didengar dan gajinya juga tetap kecil, para buruh pabrik pun banyak yang keluar (resign). Sadar bahwa perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang baru, Bossman mengajak Kerani, Adrian, dan Mr. Kho ke Vietnam.

Reza Rahadian menjadi suguhan yang terbaik dari film ini. Ia kembali melakukan transformasi fisik, dibarengi juga oleh akting yang jenaka. Buat kamu yang baru nonton filmnya, Bossman bisa dibilang merupakan orang keturunan Jawa. Jadi, nanti selain akan coba dihibur oleh cara bicaranya, penonton juga bakal geli sendiri saat si Bossman berbicara bahasa Inggris. Chemistry-nya dengan BCL juga tetap padu, sehingga masih gak nyesel lah buat kamu yang mau menonton film ini gara-gara belum bisa move-on dari kerja sama hebat kedua aktor sejak film “Habibie dan Ainun”.

Tapi, yang mesti lebih disorot dari akting Reza di sini adalah karakternya. Bagaimana dia menampilkan sosok Bossman yang kelihatannya gitu-gitu aja padahal karakter ini tidak tampil dalam satu dimensi. Sama dengan film pertama, Bossman punya sesuatu yang tak diduga-duga. Bagaimana Reza menampilkan hal tersebut dengan gaya khas Bossman masih berhasil memberikan nilai plus untuk filmnya dan kita semua.

Sayang, lain daripada itu tidak ada yang berkesan dari “My Stupid Boss 2”. Untuk komedinya, biasa-biasa saja. Malah jatuhnya lebih banyak yang “garing” dan melelahkan dibanding sukses bikin sakit perut gara-gara tertawa. Tidak adanya aktor yang dikenal memiliki kemampuan melucu yang oke membuat film ini terkesan maksa di banyak usaha. Atau mungkin mereka tidak memiliki “comedy consultant”? Biasanya kan profesi itu sekarang ada tuh di film-film semacam ini. Memang, “My Stupid Boss 2” menampilkan beberapa cara lain untuk melucu.

Sayangnya, cara ini tidak efektif. Ada yang hanya berupa pengulangan cara melawak dari film pertama, ada karakter yang coba melucu tapi apa yang dikatakannya masih kurang jelas, ada banyak set-up yang dibangun secara cepat, dan pada akhirnya bergantung kepada hal yang itu lagi itu lagi. Perlu diingat, memanfaatkan karakter Bossman itu bagus. Tapi ini adalah cara termudah untuk memberikan lawakan kepada penonton. Belum lagi film harus melakukan antisipasi jika penonton sudah merasa bosan dengan gaya membanyol Bossman. Wah, bisa-bisa gak ketolong.

Kemudian mengenai “musical number”. Film ini memiliki elemen musikal yang ditampilkan satu kali saja. Beruntung ditampilkannya sekali, karena maaf sekali tapi bagian ini betul-betul mengganggu. Sungguh konyol sampai kami kehabisan akal bagaimana caranya untuk bisa menikmati sajian tersebut, meski hanya berpura-pura. Awal dari sesi musical ini padahal sudah men-setting tensi film yang meninggi tapi tetap ada fun-nya. Sayang, semua jadi aneh ketika film berbalik arah kemudian tari-tarian mulai bermunculan, yang kemudian digabungkan pula sama situasi pelik yang sedang dialami Bossman dkk di Vietnam.

Emosi yang disampaikan lewat bentuk editing “cut-to-cut” menampilkan perbedaan rasa, yang sayangnya tidak cocok satu sama lain. Selain itu, scene pertama yang mengawali semua ini ditampilkan lewat jarak kamera dengan objek adalah medium long shot sehingga kurang memberikan “clue” pada penonton untuk memusatkan perhatian pada satu item yang akan menimbulkan sesuatu. Hal ini mungkin akan berbeda jika sineas menggantinya menjadi medium close-up, lalu disambungkan dengan teknik editing “eyeline match”. Kekurangan ini menandakan bahwa “My Stupid Boss 2” masih kesulitan dalam menampilkan variasi shot agar penonton tidak merasa bosan. Kemudian, lebih baik musical numbers dibuat berdiri sendiri. Karena jika dipadukan seperti ini, betul-betul menjadi sebuah pertunjukan yang kelewat maksa.

Untuk ceritanya, “My Stupid Boss 2” tentu melakukan upgrading. Kini Bossman dan konco-konconya diceritakan jalan-jalan ke Vietnam. Tuntutan naratif ini menghasilkan beberapa scene yang memperlihatkan pesona yang dimiliki negara tersebut. Mulai dari pesona alamnya, peninggalan-peninggalan bersejarahnya, orang-orangnya, sampai baju-bajunya diperlihatkan semua. Film juga memanfaatkan Vietnam sebagai materi komedi dengan cukup baik. Mereka terdengar dua kali melontarkan jokes yang bisa dibilang Vietnam banget.

Selain itu, mereka juga menggunakan kostum dan fungsinya secara tepat. Seperti halnya setting, kostum harus otentik dan sesuai dengan konteks cerita hingga bisa meyakinkan penontonnya. Tantangannya adalah, kostum semacam ini bukan kostum biasa. Untuk itu, set-up cerita dibangun sedemikian rupa agar para karakter yang memakai baju ala penduduk lokal ini bisa memiliki logika kausalitas yang meyakinkan. Semua berawal dari narasi, yang kemudian digabungkan dengan sifat Bossman yang medit.

Sayangnya, hingga cerita berakhir film tidak memberikan konklusi yang nyata terhadap konflik utama. Mereka terlalu asik “berwisata” di Vietnam sambil mengeksploitasi karakter Bossman, mumpung yang meranin masih Reza Rahadian. Padahal kalau dilihat-lihat, konflik utama inilah yang menjadi penyebab Bossman dan konco-konco pergi ke Vietnam. Jadi seharusnya diselesaikan juga. Berusaha positive thinking sedikit, mungkin permasalahan utama di film kedua sengaja dibiarkan terbuka agar film ketiganya nanti memiliki dasar konflik yang sudah sangat rumit.

Ini terlihat dari bagaimana film menutup kisahnya dengan menonjolkan sisi lain dari seorang Bossman, bukan solusi untuk karyawan yang sudah tinggal sedikit. “My Stupid Boss 2” memiliki akhir yang terbuka. Alih-alih mereda, muncul masalah baru yang kembali meningkatkan intensitas. Tentu ini dibawakan secara komedi, tapi tetap menggantungkan Kerani dkk dalam masalah serius.

Poin di atas mengakibatkan munculnya pertanyaan mengenai eksposisi. Dalam hal ini bukan soal eksposisi karakter tapi eksposisi perusahaan. Sebetulnya ini merupakan pertanyaan yang sudah muncul dari film pertama, namun “aftermath”-nya semakin besar di film kedua. Sedikit ke belakang, scene yang menjadi turning point pertama dari film adalah ketika Bossman berbicara pada bawahannya kalau dia mendapatkan sebuah kehormatan untuk menyampaikan pidato di sebuah forum. Ini bisa menimbulkan persepsi kalau perusahaan si Bossman merupakan perusahaan yang sudah diakui. Lucunya, ini lumayan berlawanan dengan kebijakan-kebijakan Bossman di kantor. Seperti yang sudah diberitahu sebelumnya, banyak kebijakan yang sebetulnya bikin performa perusahaan jadi menurun.

Kita pun menjadi bertanya-tanya, sebetulnya seberapa bagus sih kualitas dari perusahaan si Bossman? Karena, jika dilihat-lihat, perusahaan ini tidak mencerminkan sebuah perusahaan yang layak diakui. Selain dari segi dialog antar karakter, kita juga bisa curiga jika melihat dari fungsi setting. Dekor setting dapat menentukan status sosial dari pelaku cerita. Setting kalangan bawah pasti akan berbeda dengan kalangan atas. Begitu juga dengan perusahaan. Umumnya, setting yang kecil, sempit, gelap, serta properti yang sederhana adalah cermin dari setting kalangan yang bukan kalangan atas.

Sayangnya, tiga dari empat “traits” tadi ada di setting perusahaan Bossman. Lengkap dengan karyawan-karyawatinya yang tergolong sedikit, bagaimana mungkin perusahaan ini mendapat kehormatan untuk berbicara di depan forum, yang jika melihat ke narasinya forum tersebut levelnya sudah internasional? Apakah narasi tersebut sengaja diciptakan hanya untuk keperluan komedi semata? Perusahaan Bossman harus ditingkatkan agar lebih meyakinkan.

Meski masih bisa memberikan value positif mengenai loyalitas, hal yang kini semakin langka ditemui oleh angkatan kerja generasi millenials, “My Stupid Boss 2” memiliki banyak kelemahan yang membuatnya justru tidak lebih baik dari film pertama. Bahkan berada di bawahnya. Perluasan materi justru membuat cerita sedikit over dan pada akhirnya menyisakan lubang, dan itu disayangkan. Tidak nampak character’s arc yang menonjol selain kebutuhan perusahaan tapi film juga tidak mendapatkan solusi bagi kebutuhan perusahaan itu sendiri. Humornya banyak yang kurang lucu, perubahan yang paling jelas oleh mata pun tak tampak. Jika kamu bertanya, “Kenapa sih film sekuel itu sering flop?” ya film ini adalah salah satu jawabannya.

 

Director: Upi Avianto

Starring: Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian, Chew Kin Wah, Morgan Oey, Atikah Suhaime, Melissa Karim, Verdi Solaiman, Ledil Putra, Sahil Shah

Duration: 100 Minutes

Score: 6.3/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here