Ada sesuatu yang unik setiap tahunnya di kalender perfilman Indonesia. Setiap libur Lebaran, pasti ada beberapa line-up film lokal yang dirilis. Mereka memang sengaja rilis di periode tersebut, dan biasanya pertama kali dirilis sehari sebelum Lebaran tiba. Film-film ini selain memiliki tema yang ringan dan unsur entertainment yang tinggi, juga diisi oleh deretan aktor Indonesia kelas A. Semuanya berkompetisi di sinema, saling berlomba untuk mendapatkan sebanyak mungkin penonton. Mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Melihat tradisi “Film Lebaran” yang terus ada setiap tahun membuat Adam dan Loki tergelitik. Mereka “kepo”, sejak kapan sebetulnya tradisi ini ada dan bagaimana tradisi “Film Lebaran” itu bisa terus berkembang hingga sekarang. Maka dari itu, program acara “Movie Freak” Binus TV mengundang orang-orang dibalik dua film, yang rilis di Lebaran tahun ini. Mereka adalah Robert Ronny, executive producer “Hit & Run” dan Bene Dion, sutradara “Ghost Writer”.

Obrolan santai pun terjalin dan menjadi sangat menarik karena banyak insight baru yang diberikan oleh kedua narasumber. Selamat membaca!

Seperti apa perasaan kalian setelah filmnya rilis dan mendapatkan beragam sambutan dari masyarakat?

  • Robert: Sebenernya sih film “Hit & Run” awalnya gak rencana buat Lebaran. Jadi syutingnya udah mulai dari tahun lalu, kita sempet nyari-nyari waktu rilis kapan yang pas, akhirnya setelah dengan berbagai pertimbangan kita pilih Lebaran. Ternyata, hasilnya kurang tepat karena dari lima film Lebaran yang beredar tahun ini kita peringkat lima. Padahal kita cukup pede dengan materi filmnya. Tapi mungkin kurang pas. Jadi menurut saya Lebaran itu harus yang sesuai dengan temanya. Harus festive, untuk keluarga, harus seneng-seneng, haha hihi. Ngomongin tradisi Film Lebaran, dulu film Lebaran cuma ada dua. Kalo gak “Warkop”, “Rhoma Irama”. That’s it. Jadi istilahnya memang yang bisa ditonton semua umur.

Jadi awalnya cuma dua, dan sekarang semakin berkembang ya.

  • Robert: Ada titik baliknya. Jadi sempat film Indonesia kan mati suri tahun 90-an. Titik baliknya film Lebaran itu tahun 2007 menurut saya. Ada tiga film yang beredar: “Pocong 3”, “Get Married”, sama “Kuntilanak 2”. Surprisingly, tiga-tiganya lumayan laku tapi “Get Married” yang original IP (Intellectual Properties) bisa 1,7 juta penonton.
  • Bene: Hollywood-nya gak ada?
  • Robert: Waktu itu saya gak spesial mikir tentang itu. Karena waktu itu Lebaran masih bulan Oktober. Dan di situ gak ada film Hollywood yang spesial, lah. Apalagi zaman dulu. Semua film besar dikumpulkan di dua titik: summer movies atau Christmas. Sekarang sih lebih susah. Itu lah kenapa “Hit & Run” tayang Lebaran karena sepanjang tahun ada aja blockbuster.

Kalo Bene gimana? “Ghost Writer” film panjang pertama lo dan akhirnya dirilis. Respon masyarakat segala macem udah masuk, gimana nih menurut lo?

  • Bene: Sebenernya sih dari produser saya, Pak Parwez (Chand Parwez Servia-red), udah bilang kalau film ini akan diusahakan Lebaran. Jadi mulai dari pengembangan skrip dia udah minta dimasukin unsur-unsur keluarga yang fun, biar film bisa (rilis) di Lebaran. Udah pengen di sana, udah diarahkan ke sana.

Kalo buat Film Lebaran nya sendiri. Buat kalian tuh maknanya seperti apa sih? Kan ada mungkin unik atau…

  • Bene: Karena momen di Indonesia yang (di mana) orang libur kerja, ngumpul sama keluarga, nyari hiburan bareng-bareng, itu kan hanya di Lebaran. Itu mungkin saat yang tepat buat bioskop untuk menghadirkan film karena orang bersama keluarga kan paling hiburannya ke pantai atau ke tempat wisata. Ke mal, makan. Terus paling setelah mereka kenyang, “ngapain lagi nih”? Nonton. Ada saya dengar bioskop mengeluarkan film lokalnya, kayak di Filipina, kalo gak salah dekat-dekat Paskah. Jadi itu ciri khas masing-masing negara. Kalau kita di Lebaran, Hollywood di Summer dan Christmas.
  • Robert: Satu yang perlu saya garisbawahi. Sebenernya di Indonesia ini gak ada tradisi menonton yang kuat, sayangnya. Jadi ada sebuah survei di banyak negara di dunia. “Kalo kamu (anak muda) punya uang lima puluh ribu, mau spend buat apa?”. Hampir semua negara yang perfilmannya maju itu kalo gak peringkat satu, peringkat dua selalu jawabannya nonton. Mau di Amerika, Cina, Korea, Jepang, banyak lah. Di Indonesia nonton itu di peringkat ketujuh. Jadi amat sangat rendah. Terbukti sih, penonton kita tuh menunggu momen untuk nonton. Makanya pas Lebaran atau akhir tahun film-film Indonesia rilis keroyokan. Karena ga ada tradisi untuk iseng-iseng, “eh kita nonton yuk”! Gitu.

Jadi perlu diciptakan sebuah momen, terus ngebangun hype.

  • Robert: Cuma untungnya sejak tahun 2017 film Indonesia kayak menemukan turning point sih. Jadi penonton Indonesia tiba-tiba membludak dari yang biasanya setahun 12 juta, pas 2016 melonjak 35 juta penonton film Indonesia. Tahun 2017 jadi 42 juta, 2018 kita dapat 50 juta penonton. Jadi semoga tahun ini lebih dari 50 juta. Kalau itu terjadi baru deh saya merasa kalau Generasi Millenial ini lebih suka nonton dibanding generasi sebelumnya. Ada gap sih setelah tahun 90-an..
  • Bene: Krisis moneter?
  • Robert: Bukan. Awal kebangkitan TV swasta dan adanya bajakan DVD dan VCD, orang jadi gak ke bioskop lagi. Jadi sempet ada gap sekitar sepuluh tahunan, baru tahun 2002 Mba Mira (Mira Lesmana-red) bikin “AADC (Ada Apa Dengan Cinta-red)?”. Bangkit 2006-2007, terus sempet nyungsep lagi 2011 dan turning point di 2016. Semoga gak nyungsep lagi.

Sampai akhirnya 50 juta lebih penonton ya!

  • Robert: Iya ini udah tren yang naik terus lah, karena pertumbuhan setiap tahunnya itu 20 persen. Untuk penonton film lokal, itu gak pernah ada di dunia kecuali di Tiongkok pada tahun 2008/2009 yang lalu. Sekarang pun di dunia, pertumbuhan film lokalnya masing-masing itu cuma satu-dua persen. Tiongkok yang udah hebat aja cuma 6-7 persen. Sembilan, lah. Kita? 20 persen lebih. Hebat sih sebenarnya.

Bagaimana peran social media kalau ngomongin soal pertumbuhan hype dan (jumlah) penonton terhadap animo film Lebaran?

  • Bene: Ya kalau menurut saya sih ngaruh banget karena itu yang saya rasakan di film “Ghost Writer”. Hari pertama itu gak terlalu banyak yang nonton, tapi kelihatannya setiap orang yang menonton itu mereka kayak memberi tahu ke teman-temannya. Kayak di sosmed itu di-posting. Dia nonton film ini, dia suka, dia kasih tahu sehingga orang lain tertarik dan akhirnya nonton. Mungkin itu tadinya adalah budaya yang dilakukan dari mulut ke mulut. Tapi karena ada sosmed, orang bisa memberi tahu tanpa harus bertemu.

Jadi lebih masif dan lebih murah ya!

  • Bene: He eh! Pak Parwez bilang bahwa dulu sebelum ada sosmed itu bikin film cukup mahal karena harus ada promosi. Sekarang bisa ditekan karena (kita) bisa promosi di sosmed.

Perbandingannya seberapa tuh ya?

  • Bene: Gak tau sih tapi beliau pernah cerita begitu

Pak Robert udah ketawa-ketawa aja nih hahahaha…. Menurut Mas, gimana social media dan perannya?

  • Robert: Sebenarnya iya dan enggak. Jadi social media efektif kalau “words of mouth”. Benar kata si Bene. Sekarang ini, bikin orang tahu kalau ada film kamu, is a one thing. Tapi orang pengen nonton film kamu, is another thing. Banyak film yang dipromosiin gila-gilaan, sampai belasan milyar. Orang tau gak filmnya? Tau. Tapi jadi pengen nonton filmnya apa enggak? Is another thing. Jadi sekarang ini semua kayak jualan kecap. “Kecap gue nomor satu”. Tapi, kalau yang ngomong itu filmmaker-nya, orang jadi gak percaya. Kecuali satu orang, Joko Anwar! Kalau selain dia (Joko) orang pada mikir, “ah itu kan filmnya dia sendiri”. Kalau penonton nonton terus suka, terus posting, Itu beda efeknya. Ini pelanggan yang puas.

Apalagi “exit poll”  ya.

  • Robert: Betul. Makanya sekarang kan ada tuh, apps “Cinepoint”. Gue suka banget sih. Itu kan dari orang yang sebenernya punya akun Twitter, suka bahas Box Office, terus tiba-tiba bikin apps. Luar biasa.
  • Bene: Keren! keren!
  • Robert: Itu bener. Karena apa? Supaya kita sebagai filmmaker juga tahu, penonton suka gak sih? Jangan-jangan kita doang yang suka. Harus ada real exit poll. Jangan dipengaruhi teman. Tapi harus bener-bener, “wah gue suka nih”. Social media itu efektif, tapi harus dari penonton.
  • Bene: Bukan dari yang buat.
  • Robert: Betul.

Kalau melihat dari film kalian, nih. Dua-duanya original IP sedangkan saingannya sekuel-sekuel. Gimana cara kalian dan tim untuk meyakinkan atau seenggaknya menarik minat masyarakat? Apalagi film Hollywood-nya masih ada “Aladdin” dan “Godzilla”. Masih rame banget di Lebaran tahun ini.

  • Bene: Kalo saya sih sebenernya belum terlalu ngerti lah memasarkan film. Tapi yang Pak Parwez bilang, ini kita pasti awal-awal susah. Nah, yang kita harapkan itu orang ngomong kalo dia suka filmnya.

Jadi baru sebatas “words of mouth”?

  • Bene: Iya. Oke, kita kenalkan filmnya ke calon penonton. Tapi kita pasti susah karena lawannya itu sangat berat. Maksudnya, mereka itu tanpa dijelaskan filmnya tentang apa, orang denger judulnya aja, misalkan kayak “Si Doel”. Orang udah tahu, “Oh filmnya tentang ini. Tapi (ketika) “Ghost Writer” disebut, “Ada film Lebaran nih! Ghost Writer.”, orang gak punya bayangan apa-apa tentang filmnya. Jadi emang dari awal sudah kita pahami bahwa ini akan susah untuk dikenalkan tapi kita terus berusaha untuk mengenalkan, berharap filmnya menyenangkan dan berharap orang nyuruh temennya untuk nonton.
  • Robert: “Ghost Writer” ada nilai plus-nya sih menurut saya. Jadi gimana pun juga Ernest (Ernest Prakasa) followers-nya banyak. Film yang dikasih brand Ernest itu orang pasti nonton, meskipun dia cuma jadi produser atau apa pun, udah ada penontonnya. Ada “stamp of approval”-nya. Harusnya filmnya bagus, dan memang bagus.

Sementara untuk film “Hit & Run” ini saya sempet ngobrol juga sama tim, menurut saya film ini gak perlu Lebaran. Kita cukup pede sama kualitasnya karena beda. Justru gak perlu Lebaran. Kalo Lebaran kan saingannya banyak. Kita mungkin gak jadi pilihan utama karena orang gak tahu ini film apa. Tapi kalau filmnya bebas sendiri misalkan di September atau Agustus, bisa lebih jalan. Cuman keputusan sudah diambil dan feeling saya benar. Feeling saya memang kuat sih hehehe…

Bagi-bagi ilmu ya, jadi film laku di Indonesia itu ada lima faktor. Pertama, “Known IP”. Itu jelas. Lebih gampang dijual. Kedua, ceritanya relatable. Jadi kalo IP-nya ngetop tapi ceritanya gak relatable itu agak susah. Ada beberapa IP yang cukup banyak pembacanya tapi begitu saya baca ceritanya tentang alien lah, orang di Jepang, wah ini susah.

Ketiga, memang harus ada pemain yang dikenal. Bukan masalah aktor itu bikin orang dateng, tapi media jadi lebih mau meliput film kita. Jadi lebih mudah. Yang keempat itu “Production Value” yang bagus. Udah gak bisa lagi film bikin asal. Memang harus sinematik. Jadi orang dateng ke bioskop dan mau bayar tiket. Kelima, promo yang gede. Film lo bagus kalo ga dipromoin juga gak jalan.

Kalo dari “Hit & Run”, kita cuma faktor yang pertama aja sih. Karena ini IP baru kan. Yang lain sebenernya udah. Relatable mungkin gak terlalu karena action. Gebuk-gebukan. Tapi bintang jelas, ada Joe Taslim, Tatjana, Jefri Nichol. “Production value” jelas, gak main-main. Mungkin kita paling mahal. Promo juga gede. Three out of five sebenarnya lumayan, tapi menurut gua timing-nya yang agak off. Gak cocok buat Lebaran filmnya.

Sementara kalo kita analisa “Ghost Writer”, yang pertama memang gak ada. Tapi ceritanya menurut saya relatable. Orang Indonesia senang banget film setan. Dikasih komedi lagi. Jadi kena. Kekeluargaan juga. Bintang jelas ada. “Production value” jelas karena Pak Parwez gak pernah main-main. Promo juga jelas. Jadi faktor-faktor itu yang bikin film ditonton apa enggak.

Sekarang film Indonesia kan banyak banget nih. Sepanjang tahun bisa 150 film. Itu kalau filmnya gak jalan, coba telaah lima faktor ini. Pasti banyak yang off. Cuma salah satu atau salah dua aja. Paling enggak harusnya punya tiga atau empat dari lima faktor ini sih menurut saya.

Untuk “Hit & Run” sendiri yang gue gak sangka itu kerja sama juga dengan CJ Entertainment. Nah, gimana ceritanya bisa terjalin kerja sama itu?

  • Robert: Sebenernya sih CJ itu udah bikin beberapa film di Indonesia ya. Dari pertama itu ada..
  • Bene: “Sweet 20” kalo ga salah
  • Robert: Bukan. Yang pertama itu “Cado-Cado”. Terus “Sweet 20”, terus di “Pengabdi Setan” mereka naruh duit. Terus habis ini dengan Mbak Mira yang “Bebas”. Jadi sebenarnya yang “Hit & Run” dia masuk belakangan. Jadi dia cuma naruh duit doang, sama seperti “Pengabdi Setan”. Seperti yang saya bilang, pertumbuhan film Indonesia tuh drastis, sekarang banyak (pihak) asing yang naruh duit karena menguntungkan. Kenapa enggak? Mereka juga coba jualan IP mereka.

Nah kalau untuk “Ghost Writer” sendiri, ini gue penasaran karena Bene kan kolaborasi sama Ernest (Ernest Prakasa-red). Gimana tuh? Apakah dia lebih melepas lo dalam berkarya atau lebih strict dan demanding?

  • Bene: Koh Ernest itu kan dia director ya. Dia penulis juga. Dia tahu lah bahwa jobdesk-nya ini apa. Dia tahu sutradara “diginiiin” tuh gak enak. Jadi dia menjaga, memahami, menghargai. Karena dia tahu profesinya, dia paham mana yang jobdesk-nya, mana yang enggak.

Jadi yang dilakukan Ernest lebih menjaga, sih. Jadi kayak, misalnya karena (saya) baru, mungkin banyak hal yang belum dipahami. Jadi kayak menjaga, “udah bikin ini belum? Udah bikin itu belum? Udah diginiin belum?”. Jadi lebih ke ngasih tau dan ngingetin. Kalau terkait kreatif yang diintervensi gak ada sih.

Lebih luwes aja gitu, ya? Biar Bene bisa lebih explore lagi.

  • Bene: He eh! (Ernest) selalu nanya kok, “Lo maunya kayak apa? Lo maunya kayak gimana?”. Nanti kita cari jalannya.

Apa harapan kalian buat tradisi ini ke depan?

  • Robert: Menurut saya tradisi film Lebaran tetap ada. Cuman lima film kebanyakan. Empat sebenarnya ideal. Kecuali kalau bioskop kita tambah jadi lima ribu. Sekarang kan baru seribu tujuh ratus. Dan kalo bisa sih tradisi nonton jangan cuma Lebaran doang. Nonton sepanjang tahun dong! Sebulan sekali deh film Indonesia!

Karena gini. Sebagai perbandingan, penduduk Indonesia kan 250 juta. Masa penontonnya cuma 50 juta!? Yang bener aja. Korea penduduknya 50 juta. Total penonton film lokal mereka 90 juta. Harusnya gitu.

  • Bene: Kalau menurut saya sih benar, filmnya terlalu banyak. Sama mesti diperhatikan juga, Lebaran itu kan tanggalnya pindah-pindah. Harus kita perhatikan dengan munculnya film Hollywood. Mungkin kalau gak ada film Hollywood, lima film mungkin masih “make sense”. Tapi karena munculnya film “summer movies” dari Hollywood, rebutan penontonnya jadi terlalu ramai. Terlalu brutal.

Jadi kita lebih perhatikan lagi jumlah film Indonesia nya, perhatikan lagi jumlah film Hollywood yang beredar.

Dan tanggal Lebarannya juga ya.

  • Bene: He eh.
  • Robert: Jangan lawan raksasa lah ya hahahaha….

“Ghost Writer” dan “Hit & Run” masih tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here