Sebagai pecinta film, kurang lengkap rasanya jika kami menyongsong akhir tahun 2019 tanpa ngomongin Jogja-NETPAC. Ini adalah festival film skala internasional yang setiap tahunnya diselenggarakan di Jogjakarta. Bekerja sama dengan NETPAC (Network for the Promotion of Asia Pacific Cinema), festival ini selalu mendapatkan perhatian dan animo dari para pencinta film yang besar mulai tahun 2006. Tak heran, sekarang banyak yang bilang kalau Jogja-NETPAC adalah “Lebarannya Anak Film”. Momen di mana kita semua saling berkumpul, saling bersilaturahmi, dan pastinya sama-sama menonton film-film terbaik Asia.

Sempat putus asa karena menganggap seluruh panitia Jogja-NETPAC berdomisili di Jogja, tim Movie Freak Binus TV akhirnya gak hopeless lagi setelah bisa ketemu dan ngobrol-ngobrol langsung sama Kamila Andini. Turut dikenal sebagai seorang sutradara hebat, di mana salah satu filmnya yaitu “Sekala Niskala” menjadi pemenang di Berlinale, Mbak Dini juga merupakan Artistic Director dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-14.

Adam dan Nathan pasti gak bakal menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mereka langsung kepo tentang segala sesuatu tentang JAFF. Mulai dari hal yang paling mendasar seperti kenapa memilih Jogja sebagai tempat penyelenggaraan, tema festival tahun ini, dan bagaimana cara mendapatkan film-filmnya. Sampai pertanyaan yang lebih mendalam lagi seperti bagaimana Sinema Asia berkembang di dekade 2010-an, seperti apa optimisme untuk dekade berikutnya, dan sebesar apa role dari sebuah festival film dalam menyokong tumbuh kembang Sinema Asia. Semoga bisa jadi panduan ya buat teman-teman. Terutama buat yang nanti pergi ke Jogja. Selamat membaca!

Oke Smart Viewers balik lagi di Movie Freak! Dan sekarang kita ga cuma berdua nih. Kita udah sama tamu kita. Dia adalah Artistic Director dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-14, Mbak Kamila Andini!

Dini: Yeayy!!

Halo apa kabar?

Dini: Baik. Baik.

Selamat datang.

Dini: Iyaa di Movie Freaak! Akhirnyaa…

Berarti ini sebelumnya Mbak Dini langsung dari Jogja nih?

Dini: Hahaha enggak. Gue tinggal di Jakarta.

Siapa tau kan Movie Freak modalnya gede. Bisa undang narsum diterbangin dari Jogja.

Dini: Kalian mau ke Jogja juga kan? Semua ini?

Ohhh satu kontainer udah kita booking Mbak hahaha! Ini kalau ngomongin soal bulan November, minggu lalu kita udah sempet ngebahas sedikit sih film-film yang menarik di Jogja-NETPAC nanti ada apa aja. Banyak banget. Dan sekarang kita mau ngomongin lebih dalam nih soal Jogja-NETPAC ke-14 dengan tema “Revival”.

Dini: Okay.

Ini kan festivalnya udah mau mulai nih. Denger-denger juga tiket terusannya udah habis. Nah gimana nih perasaannya Mbak Dini dan tim, se-nervous apa kalian menyambut Jogja-NER… eh, Jogja-NETPAC tahun ini? Hampir keserimpet jadi Jogja-NERVOUS hehehe….

Dini: Tapi beneran sih emang nervous banget. Karena kan memang JAFF ini kan festival yang dibentuk oleh filmmaker-filmmaker semuanya. Di situ basically filmmaker. Jadi ga ada yang seratus persen event organizer. Semua pasti punya kegiatan lain. Bikin film, dan lain-lain. Jadi memang kita punya banyak sekali keterbatasan. Walaupun setiap tahun kita ingin membuat JAFF lebih baik lagi. Makanya tahun ini ada Sahabat Hanoman. Kita tahu nih kalau kita bukan organizer, sebenarnya. Terus setiap tahun ada problem orang pengen dapetin tiket, ngantri berjam-jam tapi gak bisa. Nah makanya tahun ini kita coba bikin sistem. Walaupun sudah terjual habis tapi kan belum pernah dilakuin nih! Jadi nervous juga. Cuman semoga bisa lebih baik.

Pas hari H ada penjualan OTS (on the spot) atau enggak?

Dini: Masih ada. Penjualan tiket satuan. On the spot. Kita juga lagi memantau sih kondisinya sekarang Sahabat Hanoman udah seperti apa. Mungkin kita akan buka, tapi masih belum tahu kapan. Ditunggu aja pokoknya, ditunggu terus deh!

Asiknya Jogja-NETPAC yang gue tahu ya, itu asiknya lu bisa nonton sampai banyak yang ngemper di dalam studio bioskop loh! Waduh! Jadi OTS nya sebenernya ga terbatas ya hahahaha!

Dini: Iya benar. Acaranya sebenarnya santai banget. Bahkan ada beberapa filmmaker yang pengen bikin Q&A di luar, ngampar di luar.Kita sebenarnya seneng banget sih ngelakuin itu. Sambil ngopi, sambil ngapain gitu. Emang acaranya santai banget. Sesantai itu. Dan kita berusaha sejauh mungkin nemuin penonton sama filmnya karena kita juga gak tega kalo orang pengen nonton tapi (akhirnya) gak bisa.

Siapa tau ada yang datang dari jauh-jauh.

Dini: Nah itu dia. Sebenarnya yang menarik dari JAFF itu kan kita selalu setiap tahun punya Forum Komunitas. Di mana banyak komunitas film di Indonesia dan memang Sinema Indonesia kan dibangun oleh komunitas film ya sebenarnya. Itu datang ke Jogja untuk ketemu, untuk nonton, untuk dikusi. Paling utama sih sebenarnya untuk diskusi dan pengen tahu filmmaking sekarang kayak gimana. Nah itu yang paling, ya, kasihan juga kalau mereka gak bisa nonton. Dan sebenarnya buat filmmaker baru itu untuk referensi.

Ah iyaa!

Dini: Karena akses sinema kita kan ga banyak ya. Semuanya Hollywood-Indonesia-Hollywood-Indonesia. Sedangkan ya sinema itu beragam banget. Kita ngapain cuma belajar dari source doang? Kita harus belajar dari banyak negara. Negara kecil, negara tetangga, negara yang sebenarnya mungkin permasalahan industrinya sama dengan kita tapi film-filmnya works.

Jogja-NETPAC kan sudah memasuki tahun ke-14. Nah kalau dari Mbak Dini sendiri, apa sih yang bikin Jogja-NETPAC itu bisa terus eksis, bahkan semakin berkembang sampai sekarang?

Dini: Apa ya yang bisa bikin terus eksis? Passion sih!

Woaaah! Dari hati!

Dini: Kita sadar betul sih bahwa sinema itu dibentuk secara kolektif. Sinema itu kolektif. Dan sinema di Indonesia memang dibangun juga secara kolektif. Mungkin secara sitem, industrinya belum terlalu bergerak penuh ya. Belum berputar penuh. Tapi ya itu tadi, komunitas-komunitas, gimana semua saling bangun untuk membentuk Sinema Indonesia sampai sekarang. Makanya JAFF sendiri sebenarnya juga kenapa bisa tetap ada di segala kekurangannya dan kesulitannya, itu gak ada yang lain dari semangat-semangat kolektif tersebut. Temen-temen filmmaker, temen-temen komunitas, temen-temen pembaca film yang semua merasa membutuhkan ruang ini untuk sinema kita. Akhirnya jadi terus ada.

Jadi semangat terus ya! Semangat terus 14 tahun lho itu. Harus dijunjung tinggi.

Dini: Tiap tahun kolektif aja hahaha!

Tadi juga dibilang bukan jiwa organizer tapi karena kecintaan.

Dini: Kecintaan sama sinema.

Ngomongin soal sinema Asia. Jogja-NETPAC kan lebih fokus ke sana ya. Nah gimana sih Mbak Dini melihat perkembangan Sinema Asia sekarang? Karena kan sebentar lagi udah 2020 nih. Berarti sebentar lagi dekade 2010-an mau berakhir.

Dini: Gue sebagai filmmaker sih ngerasa Sinema Asia lagi asik-asiknya banget. Sekarang lagi asik-asiknya. Kita bisa lihat, dua tahun terakhir yang menang di Festival Cannes adalah Sinema Asia. Di festival-festival besar selalu ada film-film Asia yang memenangkan penghargaan. Jadi lagi asik banget, Terutama juga Sinema Indonesia sih. Sekarang lagi cukup menjadi sorotan. Gue sebagai filmmaker dibanding beberapa tahu lalu kalo pergi ke festival tuh paling selalu sendirian, yang diomongin tuh film-film dari Thailand, dari Filipina…

Apichatpong ya! Hahahaha…

Dina: Iya. Tapi tahun ini tuh ke festival asik banget. Setiap dateng, sekelompok orang lagi ngomongin Film Indonesia. Lagi asik-asiknya banget dan harus dirayain. Makanya tema tahun ini adalah “Revival”, ngomongin kebangkitan film Asia. Karena memang sedang jadi pembicaraan walaupun ya secara festival kita tetap harus punya beberapa PR ya. Gimana caranya ngebangkitin Sinema Asia, gimana kuotanya bisa jadi lebih banyak mungkin di sebuah kompetisi festival besar. Jadi konsistensinya masih harus kita push lagi.

Kalau satu dekade ke depan kira-kira akan jadi lebih asiknya kayak gimana sih? Optimismenya seperti apa?

Dini: Sebenarnya kan yang harus disadarin film Asia, apalagi film Southeast Asia, kita negara yang bisa dibilang harus realistis juga. Negara-negara berkembang, negara dunia ketiga yang pasti secara industri punya problem masing-masing. Tapi yang menarik sebenarnya dari perkembangan film Asia ke depan yang bisa kulihat adalah bagaimana kita secara region juga mengembangkan sinema secara kolektif.

Ohh balik lagi ya. Kolektif.

Dini: He eh. Kayak sekarang udah ada funding-funding dari beberapa negara Southeast Asia yang dulu sebenarnya semua funding dari Eropa. Kita selalu source-funding dari Eropa tapi sekarang bisa dari Southeast Asia sendiri. Kita sudah bisa co-produce, kayak misalnya film “Motel Acacia”. Dia DP-nya dari mana, ‘production designer’ nya dari mana, pemain-pemainnya juga dari Asia campur, jadi kita sudah melihat filmmaking nih udah borderless banget. Semakin ke sini film kan juga semakin cair. Kita share kultur. Bagaimana pun kita di Southeast Asia kulturnya kan mirip-mirip. Gimana kita share kultur ini, semakin menyuarakan suara-suara, karakter-karakter (yang) memang orang Asia. Problem-problem Asia.

Kita juga mau tahu nih, gimana sih caranya Jogja-NETPAC itu bisa mendapatkan 111 film dari 28 negara itu gimana prosesnya?

Dini: Bagaimana bisa mendapatkan itu sebenernya perjalanan 14 tahun juga sih. Setelah 14 tahun memang sudah banyak sekali filmmaker yang sudah tahu JAFF. Apalagi festival film ini udah masuk 25 festival yang paling asik di dunia. Jadi memang udah banyak banget yang daftar, kirim film mereka. Kita punya kayaknya hampir tujuh ratus pendaftar film.

Tapi tetap pemilihannya ada dua cara; seleksi dari pendaftaran, itu yang paling utama karena kita pengen tujuan festival ini ngasih ruang-ruang ke film yang mungkin belum terdengar di luar tapi butuh ruang. Yang kedua scouting. Karena kebetulan juga filmmaker yang ada di dalamnya, kita sering pergi ke festival. Kadang-kadang juri untuk festival. Kita scouting film-film yang menurut kita penting untuk dicatat sehingga audiens Indonesia juga tidak kelewatan akses menonton film-film Asia yang saat ini memang juga harus di-aware dalam perkembangan film tahunan.

Dan itu kalau dari form-nya ada feature, ada documentary, ada shorts ya. Jadi semua lengkap. Tapi yang sempet gue lihat-lihat di line-up nya itu ada Golden Hanoman, Geber, NETPAC Award, ada juga yang non-kompetisi. Itu emang plotting dari kalian atau mereka yang, “Eh gue pengen dong masuk kompetisi”.

Dini: Oh itu dari kita sih. Semua dari kita. Memang pakem kompetisinya udah ada dari awal dibentuk. Jadi kita punya kompetisi utama, yaitu Hanoman Awards. Golden Hanoman Awards itu memang buat film Asia (terbaik) yang limitless, yang karya keberapapun. Tapi kita punya NETPAC Awards, yaitu untuk film pertama dan film kedua.

Ohhhh!

Dini: Khusus untuk film pertama dan film kedua seorang sutradara. Jadi kalau seleksi kita lihat dulu ini film keberapa, terus lebih pas di mana? Kadang-kadang ada yang film pertama kedua gitu sebenarnya kalau di sirkuit festival penting banget. Karena kita melihat potensi. Bukan melihat kesempurnaan film tersebut. Biasanya itu di festival besar banyak banget kompetisi-kompetisi untuk film pertama dan kedua dan ini ada di Netpac Awards. Jadi kita melihat potensi-potensi, visi-visi sutradara baru. Tidak melulu soal kesempurnaan filmmaking-nya.

Kalau Geber gimana tuh?

Dini: Ada geber ada NETPAC. Jadi dalam satu kompetisi dia ngasih dua awards. Kompetisi utama ngasih dua awards jadi bisasanya lebih ke Golden dan Silver Hanoman. Terus ada shorts juga, dan ada JAFF ISA (Indonesia Screen Awards) untuk film-film Indonesia tapi yang nilai orang-orang luar.

Uwoh!

Dini: Jurinya semua gak ada orang Indonesia.

Internasional ya kaaan? Btw, aku juga penasaran. Jogja-NETPAC ini kan dari awal kan tahun pertama udah di Jogja. Kenapa milihnya di sana?

Dini: Ada dua hal sih sebenarnya. Yang pertama di Jakarta itu ada JIFFEST (Jakarta International Film Festival) dan memang penting banget ada JIFFEST di Jakarta.Secara, skalanya dia juga lebih internasional. Semua film gitu kan. Kalau kita ingin membuat festival yang memang khusus untuk Asia karena waktu itu Sinema Asia perlu didukung, perlu punya banyak ruang, perlu di-highlight.

Kenapa Jogja? Karena mungkin secara teknis filmmaker-nya yang membangun ini banyak di Jogja. Kedua karena memang kolektif tersebut. Ini memang festival yang kita tahu dari awal akan sangat kolektif, yang kita kedepankan adalah kolektivitas dari sesama cinema enthusiasts dan memang di Jogja komunitas film ada banyak banget. Jadi karena semangatnya semangat kolektif jadi pengen di tempat yang memang dekat dengan komunitas-komunitas film dan Jogja secara kota juga merupakan kota pendidikan, kota budaya, terjangkau juga.

Akomodasinya pak! Terjangkau.

Dini: Akomodasinya terjangkau. Makan segala macam.

Sedikit deh gue penasaran sama “Abracadabra” dan “Motel Acacia”. Melihat dua film itu, apa hubungannya dengan “Revival”?

Dini: Sebenarnya dua-duanya mengusung sense of kebangkitan yang berkali-kali udah gue bilang tadi: Kolektif.

Ohhhh i see.

Dini: “Abracadabra” itu kita ngomongin magic, which is magic-nya itu adalah sinema itu sendiri. Dan magic itu terjadi juga karena relasi kolektif di dalamnya. Orang-orang yang ada di situ. Dan “Abracadabra” menurutku film yang asik banget buat opening JAFF tahun ini. Dari artwork-nya kita jadi berusaha untuk lebih beragam, berwarna, biar semakin dinamis. Kita harap Sinema Asia semakin dinamis juga. “Motel Acacia” juga sebenarnya ngeliatin spirit kolektif itu dengan bagaimana mereka membuat filmnya, krunya, pemainnya, semua memang spirit Asia.

Berarti balik lagi sebenarnya adalah kolektivitas yang tanpa batas. Selain juga asik filmnya, tapi juga menggambarkan Asia secara keseluruhan. Thank you banget Mbak Kamila Andini udah datang ke Movie Freak!

Dini: Thank youu!

 

Salam buat Mas Ifa (Ifa Isfansyah), Mas Garin (Garin Nugroho), pokoknya semua yang ada di Jogja-NETPAC. Semoga sukses acaranya untuk tahun ini.

Dini: Amin aminn aminn.

Udah XXI Empire dikasih layar tancep aja! Kita ntar nyususl, duduknya di bawah sampai ke jalan-jalan udah kayak apaan tau.

Dini: Hahahaha! Ada layar tancepnya juga soalnya

Oh ada? Open Air ya?

Dini: Open Air Cinema.

Mantap! Pokoknya sukses untuk Jogja-NETPAC. Semoga terus menjadi festival yang memfasilitasi film-film Asia dan juga “Borderless” untuk semua yang suka sinema di Asia.

Dini: Terima kasih harapannya

14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival digelar mulai dari tanggal 19 November hingga 23 November 2019. Bertempat di XXI Empire Jogjakarta dan LPP Yogyakarta. Revival of Asian Cinema is coming your way. Count yourself in!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here