Rumah produksi Falcon Pictures mengadakan acara peluncuran trailer untuk pertama kalinya untuk kedua film mereka, yaitu “Bumi Manusia” dan “Perburuan”. Acara yang berlangsung di Epicentrum XXI (4/7) ini juga dihadiri produser, sutradara, dan juga cast dan kru dari kedua film yang secara mengejutkan akan dirilis pada tanggal yang sama di seluruh layar lebar Indonesia.

Dalam talkshow yang berlangsung sebelum pemutaran trailer, sutradara film “Bumi Manusia”, yaitu Hanung Bramantyo dan sutradara “Perburuan”, Richard Oh ikut dihadirkan. Begitu pula dengan ibu Federica, selaku produser dari kedua film tersebut. Mereka berbagi informasi dan juga “insight” mengenai proses pembuatan film masing-masing, terutama pada tahap pra-produksi.

Richard Oh

Ada beberapa pernyataan menarik terkait “behind the scene” film “Bumi Manusia” dan “Perburuan”. Maklum, info-info seputar kedua film ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, mengingat “Bumi Manusia” dan “Perburuan” merupakan novel best-seller yang legendaris karya Pramoedya Ananta Toer. Beliau merupakan sastrawan Indonesia yang sangat disegani karena karya-karyanya bercerita seputar nasionalisme. Selain itu, novel-novel Pram juga sempat dilarang oleh Kejaksaan Agung RI karena merefleksikan perlawanan pada Orde Baru. Ketika beredar kabar bahwa buku-buku Pram difilmkan, sontak itu langsung memicu antusiasme masyarakat.

Meski begitu, terdapat perbedaan cara dalam publikasi proyek kedua film ini. Kabar mengenai film “Bumi Manusia” lebih dulu terdengar dari tahun lalu. Bahkan, sempat terjadi perbincangan hangat di media sosial karena karaktrer Minke, yang merupakan karakter utama di film tersebut, diperankan oleh “teen sensation”, Iqbaal Ramadhan. Banyak yang meragukan kemampuan akting aktor yang sebelumnya tenar lewat perannya sebagai Dilan tersebut. Belum lagi kekhawatiran berikutnya yang menyasar sutradara Hanung Bramantyo, di mana banyak orang yang khawatir kalau Hanung menjadikan film “Bumi Manusia” tidak lebih dari sekedar kisah percintaan saja.

Sementara itu informasi untuk film “Perburuan” justru keluar tiba-tiba. Perilisan poster resmi film ini saja baru dilaksanakan pada tanggal 24 Juni kemarin. Sama sekali tidak tercium kabar mengenai proyek film  “Perburuan” hingga tanggal tersebut, apalagi sampai ke level memicu pedebatan netizen. Semua seperti ditampilkan secara cepat, tanpa memancing hype yang berlebih. Resepsi yang film ini dapatkan akhirnya juga tergolong lebih positif dan minim keraguan karena poster resminya cukup meyakinkan. Di sana kita bisa melihat Adipati Dolken yang tampil sangat berbeda. Sang aktor terlihat mengenaskan. Jauh dari kesan menawan.

Dalam talkshow tersebut, Ibu Federica menuturkan motif dari Falcon Pictures dalam memfilmkan dua karya Pram sekaligus. Beliau berkata bahwa ini merupakan bentuk perayaan untuk Falcon dalam mengapresiasi karya salah satu penulis terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Ibu Federica juga mengatakan bahwa dirilisnya kedua film ini bukan untuk meraih keuntungan finansial semata. “Alhamdulilah kami sudah diberkahi rejeki dari film-film sebelumnya”, ujarnya. Pernyataan ini mengundang decak kagum karena memang faktanya Falcon sudah sukses luar biasa tahun ini sebelum “Bumi Manusia” dan “Perburuan” rilis di sinema. Film-film seperti “Dilan 1991” dan “My Stupid Boss 2” bisa dijadikan contoh sudah seberapa suksesnya Falcon Pictures di Box Office Indonesia.

Hanung Bramantyo

Bagi kedua sutradara, mendapatkan kesempatan untuk dapat menyutradarai film adaptasi karya Pram adalah sesuatu yang luar biasa. Bahkan, Richard Oh mendapatkannya secara langsung dari keluarga Pramoedya sendiri. Mereka merekomendasikan “Perburuan” kepada Richard, yang sebelumnya ingin mengangkat “Gadis Pantai”. Kepada media Richard mengatakan keinginan yang ingin ia capai dari film ini. “Buat saya yang paling penting kalau kita bisa menangkap jiwa (dari) karya seorang Bung Pram”, ujarnya. Lebih jauh, Richard juga ingin membagikan rasa tersebut kepada penonton dan mengajak penonton untuk kembali menikmati karya-karya Pramoedya Ananta Toer.

Kemudian Hanung Bramantyo memberikan alasan mengapa ia menerima tawaran untuk menyutradarai “Bumi Manusia”. “Membuat film dari karyanya Pak Pram itu sebetulnya bukan sebuah pekerjaan. Tapi ini adalah sebuah pengabdian”, ungkapnya. “Pengabdian kepada kemanusiaan, keadilan, cinta tapi kemudian bukan cinta antara dua manusia laki-laki perempuan. Tapi lebih besar. Jadi mencintai seseorang bukan karena fisik, tapi dari novel-novelnya Pak Pram mencintai seseorang karena ada alasan untuk melakukan perlawanan. Itu susah, itu berat.”

Hanung lalu melanjutkan, “Buat saya itu hal yang membuat kita terbuka. Kadang-kadang kita mencintai seseorang sesederhana ‘Karena kamu cantik’, ‘Karena kamu pintar’. Tidak ada alasan yang lebih dari sekedar itu. Tapi di dalam novel-novelnya Pak Pram, khususnya ‘Bumi Manusia’, ada sebuah kesadaran bahwa ‘Ketika saya mencintai kamu, saya siap untuk merasakan tragedi’. Jadi gak hanya senangnya doang. Di dalam cinta itu ada perpisahan, ada rasa kehilangan, ada rasa rindu yang gak tahu mau sampai kapan rindu itu bisa terbalaskan, dan yang paling penting adalah belum tentu kita bisa memiliki seutuhnya apa yang kita cintai”.

“Sebagai seorang Pramis (sebuah paham yang kokoh pada kepercayaan diri sendiri-red) sejak lama, saya membaca karya Pak Pram sejak SMA, dan sebagai buku pertama dari tetralogi monumental (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), memang tak mudah membaca karya-karya ini. Kalau bisa novel-novel ini dibaca berulang kali dan coba diuraikan satu per satu maknanya, karena banyak sekali metafor di sini.”

Tak lama setelah press conference, trailer dari film “Bumi Manusia” dan “Perburuan” pun langsung diputar. Dalam trailer, tampak masing-masing film berbeda genre ini memperlihatkan premis menarik satu sama lain yang memberikan warna tersendiri untuk kedua film yang diambil dari adaptasi novel terkenal ini. Untuk “Bumi Manusia”, konflik akan berada pada kisah cinta yang akhirnya berujung pada masalah yang lebih luas dan kompleks. Unsur tragedi dalam balutan drama kolonial akan menjadi sajian utama. Kemudian “Perburuan” memiliki latar waktu pada masa penjajahan Jepang. Trailer ini lebih menunjukkan pada kita sebuah “character driven story” dari seorang prajurit Indonesia. Hal lain yang membuatnya berbeda adalah, trailer “Perburuan” juga menyertakan beberapa gambar yang mengandung unsur kekerasan, bahkan ada yang tergolong sadis.

“Bumi Manusia” dan “Perburuan” akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 15 Agustus 2019.

Editor: Juventus Wisnu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here