Ketika seseorang sudah mapan, dan semua mudah didapat kecuali jodoh, hal itu bisa berujung bencana bagi dia dan keluarga besarnya, apalagi dengan latar belakang budaya Batak yang kental. Film ini disutradarai oleh Andibachtiar Yusuf dan dibintangi oleh Ganindra Bimo dan Atiqah Hasiholan.

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata “Orang Batak”? Tentu hal yang paling pertama muncul adalah wataknya yang keras. Orang Batak dikenal sebagai orang yang sukanya marah-marah, kasar, bicaranya dengan nada tinggi. Ia tidak segan-segan untuk menunjukkan emosi yang meledak-ledak. Percaya tak percaya, anggapan itu sudah sangat melekat di masyarakat Indonesia. Mau apapun sukunya, “labelling” orang Batak pasti seperti itu. Tapi tahukah kamu bahwa orang Batak yang sekeras itu juga ternyata bisa melucu? Film ini mencoba menampilkan sisi lain tersebut dengan bingkai kebudayaan Batak yang unik.

Disutradarai oleh Andibachtiar Yusuf yang sebelumnya sukses dengan “Love for Sale”, kemudian dibintangi oleh Ganindra Bimo dan Atiqah Hasiholan, “Pariban” sebetulnya sudah memiliki modal. Belum lagi, unsur budayanya yang pastinya kental. Seharusnya film ini at least bisa menjadi film yang tidak hanya kocak namun juga berkualitas. Diceritakan, Moan (Ganidra Bimo) adalah seorang pengusaha sukses. Kerjanya membuat aplikasi yang nanti digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Ini membuatnya jadi seorang “bachelor”, di mana Moan sudah memiliki semuanya: harta, takhta, wanita. Seiring berjalannya waktu, Moan diminta untuk menetapkan pilihan pendamping hidup. Merasa kesulitan, sang mamak kemudian menyarankan Moan untuk pergi menemui “Pariban”-nya di kampung.

Mulai dari sini, terlihat dua poin yang sudah oke. Pertama adalah gender swap yang dimunculkan di dalam cerita. “Pariban” menjadikan masalah jodoh-jodohan ini diambil dari sudut pandang laki-laki. Ini tentu sesuatu yang cukup segar karena biasanya jika ada film yang membahas masalah ini pasti “korbannya” adalah perempuan. Di sini Moan yang terpaksa menjemput Pariban-nya akan memberikan sebuah ketertarikan secara emosional. Kemudian di sisi lain, kita jadi penasaran secara tidak langsung, bagaimana si karakter utama wanitanya merespon keadaan itu. Kedua adalah motivasinya. Sebagai film yang sama-sama disutradarai oleh Ucup, dan kebetulan sama-sama menempatkan pria single, maka perbandingan antara cerita “Pariban” dengan “Love for Sale” tak terhindarkan.

Hasilnya? “Pariban” ternyata lebih oke, lho! Ngomongin soal motivasi, ada perbedaan yang terlihat jelas di mana perbedaan ini membuat “Pariban” lebih bagus daripada “Love for Sale”. Paksaan yang ada di “Pariban” jauh lebih masuk akal, tidak receh, dan bermartabat dibanding “Love for Sale”. Moan terpaksa kembali ke kampung menemui pamannya karena diminta sang ibu. Ini merupakan cara yang lebih aman dibanding lewat taruhan-taruhan tidak jelas. Di tahap persiapan juga dijelaskan bahwa Moan adalah anak yang sangat mencintai ibunya. Dia memang bandel, tapi sama ibunya nurut, dan ini adalah sesuatu yang bisa diterima. Ketika sang mamak sudah mulai resah, penonton sudah tahu akan ke mana arahnya. Penghantaran yang smooth kepada turning point pertama membuat “Pariban” awalnya menjadi suguhan komedi keluarga yang cukup asik untuk ditonton.

Oh iya, sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui dulu sedikit mengenai budaya “Pariban”. Jadi, berdasarkan apa yang dituturkan film, “Pariban” adalah semacam sistem perjodohan bagi orang Batak. Jadi, Moan yang bermarga Situmorang harus mencari pasangan Pariban atau “Iban”-nya dari marga yang dimiliki oleh ibunya. Nah, salah satu calon Iban-nya Moan ada di kampung, yaitu Uli (Atiqah Hasiholan). Mengapa Uli? Karena Uli merupakan anak perempuan (dan kebetulan satu-satunya) dari pihak keluarga Mamak. Jadilah Moan yang diminta untuk datang ke kampung dan menjemput Uli. Bagian Pariban ini pastinya sudah dibahas sejak awal.

Film menggunakan teknik animasi dalam satu waktu tertentu. Kemudian di sisi lain Moan memperlihatkan apa yang biasanya dihadapi oleh karakter perempuan yang coba dijodohkan, cuma ya itu tadi, sekarang yang kenanya laki-laki. Dari scene tersebut kita dapat melihat gengsi dari karakter Moan. Hanya saja, terdapat hal yang menghilang. Ini membuat intensitas dari konflik jadi menurun karena informasi ini sebetulnya masuk dalam informasi penting yang bisa mengubah sesuatu. Absennya informasi itu dari tahap konfrontasi membuat konflik menjadi datar.

Lalu di tahap persiapan, ada beberapa catatan mengenai cara menyampaikan cerita. Di sini Moan sedang berbicara kepada penontonnya memanfaatkan teknik “breaking the fourth wall”. Tidak ada masalah sebetulnya dengan ini, namun di saat Moan asik bercerita ada kalanya terdapat satu cerita penting lainnya. Apes, cerita ini ditempatkan bersandingan satu sama lain dalam waktu yang sama. Setelah menonton sampai habis kita mungkin baru sadar kenapa cara ini akhirnya dipilih.

Cuman tetap saja, side-by-side storytelling ini sangat mengganggu fokus, apalagi tahap persiapan sangat penting untuk membangun eksposisi. Kemudian dari pemilihan sinematiknya. Di awal film, “Pariban” menggunakan banyak teknik “split screen”. Ini adalah teknik di mana sebuah shot dapat menyajikan beberapa gambar sekaligus. Film menggunakan cara ini untuk menceritakan dua cerita sekaligus, yang mana dua-duanya memiliki info masing-masing yang tidak kalah penting. Kemudian ada juga bentuk framing yang kurang jelas maknanya. Frame tersebut menunjukkan adegan yang sama, hanya saja rasio gambarnya dibuat lebih besar mengisi kotak lain yang tersedia di sana. Entah apa maksudnya namun hal itu kurang memberikan meaning kepada penontonnya.

Dalam konferensi pers, produser film “Pariban” berkata bahwa selain memperkenalkan budaya, mereka juga harus menonjolkan keindahan Samosir. Maka dari itu, film mengambil keindahan-keindahan alam dalam jumlah yang tidak sedikit. Sayang, penempatan shot alamnya ini justru membuat film terasa melelahkan. Menonton keindahan alam di sini mengingatkan kita pada “Salawaku” (2016) yang terlihat seperti film dengan sisipan iklan Kementrian Pariwisata di dalamnya.

Dalam kasus “Pariban”, timing dari shot-nya sering tidak pas. Ketika tuntutan naratif masih menempatkan aktor-aktornya sebagai perhatian utama, shot yang ada justru menunjukkan keindahan alam. Ini jelas bukan sesuatu yang kita inginkan dulu. Penonton saat itu lebih butuh untuk menginvestasikan dirinya kepada karakter-karakter yang terkait. Kita belum mau melihat betapa indahnya alam Samosir karena memang belum saatnya. Flow dari shot satu ke shot lain kurang nikmat karena perpindahan objek yang dominan di layar terbilang drastis. Lebih enak jika aspek sinematiknya menyediakan dulu apa yang dibutuhkan dulu oleh tuntutan naratif, baru setelah itu menerapkan establishing shot berupa pemandangan alam Samosir sebagai penutup.

Masuk ke ceritanya, di tahap konfrontasi kita sudah tahu apa itu “Pariban”. Selain itu, konflik juga semakin seru karena munculnya Binsar (Rizky Mocil) yang menjadi saingan Moan dalam usaha mendapatkan Uli. Nanti sepanjang film kita baka melihat bagaimana persaingan Moan dan Binsar mulai dari saling iseng satu sama lain, sampai yang serius macam adu catur dan adu yang lain-lain. Tapi, selain menyajikan persaingan langsung seperti itu, film ini jadi lupa bahwa masih ada cara lain untuk meningkatkan tensi. Pertama adalah dengan memanfaatkan Uli. Terlihat, peran Uli tidak seperti yang diharapkan di sini.

Karakter Uli kurang konsisten karena ada saatnya dia sangat welcome sama Pariban-nya, namun ada juga saat Uli lebih bersikap tegas. Akan lebih greget jika Uli ditampilkan lebih tegas pendiriannya dari awal. Mengapa? Karena seperti yang dibilang Uli, di zaman modern wanita sudah bisa menetukan nasibnya sendiri. Materi itu sangat menarik untuk diolah lebih dalam, apalagi jika disambungkan dengan poin kedua yaitu berkaitan dengan bagaimana Pariban diaplikasikan.

Jadi, meski itu sistem jodoh yang kuat, sebetulnya Pariban tidak menjamin seseorang akan betul-betul menikah dengan Iban-nya. Informasi ini sama sekali tidak diberi tahu secara jelas dan gamblang kepada penonton dalam tahap konfrontasi, padahal tahap konfrontasinya terbentang panjang sampai akhir film. Absennya hal tersebut membuat kehadiran Moan dan apa yang Moan lakukan jadi kurang seru lagi. Ia seperti tidak memiliki tantangan berarti karena aneh jika menganggap Binsar adalah tantangan terberatnya. Jika informasi ini sudah diberikan sejak awal, apalagi oleh Binsar, tensi akan semakin seru.

Terlebih, ini sesuai dengan tuntutan naratif bahwa Moan adalah orang Batak yang sudah lahir dan besar di Jakarta. Dengan eksposisi seperti itu wajar jika ada poin-poin yang Moan belum tahu dibanding belajar main catur di channel Andi Bachtiar Yutub. By the way, catur di sini juga belum kuat positioning-nya. Penonton hanya tahu kalau katanya orang Batak suka banget main catur. Hubungannya dengan usaha Moan kepada Uli? Tidak jelas.
Komedinya bagaimana? Mengingat “Pariban” bermain di ranah ini, maka film akan menyertakan komedi-komedi yang menyentil konteks budaya. Yang paling gampang dinikmati tentu saja soal orang Batak yang suka teriak-teriak. Uniknya, pemilihan cast yang jeli justru membuat cara yang sebetulnya standar ini jadi lebih oke.

FYI, Rizky Mocil bukan pilihan pertama dalam memerankan Binsar. Ya gimana enggak, cowok ini cara ngomongnya aja jauh dari kesan Batak. Tapi itulah positifnya. Film memanfaatkan flaws Rizky untuk membangun imej kalau orang Batak sana juga ada yang lucu. Kemudian yang suka bikin geli adalah kostumnya. Bersama dengan konsep Pariban yang coba ditertawakan, film turut menyertakan “culture clash comedy” dengan cara ini. Buat penonton yang baru tahu, pasti akan merasa terhibur melihat bagaimana penampilan necis dari pria Batak sebelas dua belas dengan pramugari pesawat. Bahkan lebih colorful! Satu lagi bentuk komedi yang menjadi highlights adalah komedi nyeleneh yang ditujukan untuk orang dewasa. Ini sudah ditampilkan sejak awal dan akan semakin menjadi-jadi di akhir. Namun ada bagian yang di-edit cukup “rough” sehingga kita tidak menduga hal tersebut akan muncul.

Kemudian umumnya, cerita film itu memiliki tiga tahap: persiapan, konfrontasi, dan resolusi. Ini disebut dengan “Struktur Tiga Babak”. Sifatnya yang sederhana dan jelas membuat struktur ini sangat mudah ditemui. Struktur ini merupakan konvensi umum, mau film kelas A atau B sama-sama memanfaatkannya. Tapi ketika menonton “Pariban”, karena film nampaknya tidak memiliki salah satu tahap dari struktur tersebut, yaitu Tahap Resolusi. Ini adalah tahap di mana cerita film berada di titik ketegangan tertinggi. Dalam film romansa, biasanya tahap ini ditandai oleh momen di mana seseorang mendapatkan cintanya kembali.

Nah, jika dilihat dari situ saja, “Pariban” sudah tidak memilikinya. Film justru dibuat baru memasuki konfrontasi akhir di akhir runtime-nya. Betul, “Pariban” memang bakal dibikin lanjutannya, namun setidaknya harus memunculkan dampak dari tahap konfrontasi tersebut, bukan menambahnya lagi dengan konflik yang baru. Ini membuat penonton kaget dan ending-nya jadi maksa. Contoh lah “Infinity War”. Beda genre sih, tapi di sini ia menerapkan apa yang dimaksud mengenai penggunaan struktur tiga babak. Film memiliki tahap resolusi lewat perang besar di Wakanda, dan diakhiri oleh kekalahan para Avengers. Selain jelas, cara ini membuat penonton jadi tak sabar menanti film berikutnya karena set-up nya sudah oke dari tahap ke tahap. Dampak emosionalnya bisa muncul. Kalau “Pariban”, itu ibarat Avengers baru mulai berantem di Wakanda eh tau-tau selesai. Bukan sebuah cliffhanger ending yang baik.

Ibarat pajangan foto, “Pariban” memiliki bingkai yang menarik namun tidak untuk fotonya. Cerita di film ini memiliki konflik sederhana yang dipanjang-panjangkan. Perseteruannya jelas, turning point-nya bagus, namun intensitas ke depannya tidak menggigit. Awal dari film jelas lebih baik dibanding pertengahan dan akhir. Ini membuat sang idola dari tanah Jawa tersebut memiliki tugas berat. Bukan hanya memperbaiki apa yang kurang di film selanjutnya, namun juga meyakinkan penonton apa yang menarik selain konsep kebudayaan Batak, yang bisa kembali memancing keingintahuan mereka terhadap perjodohan Uli dan Moan.

 

Director: Andibachtiar Yusuf

Starring: Ganindra Bimo, Atiqah Hasiholan, Rizky Mocil, Rukman Rosadi, Dayu Wijanto, Mak Gondut, Bang Tigor, Grace Blessing, Surya Insomnia

Duration: 101 Minutes

Score: 6.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here