Cerita adalah tulang punggung sebuah film. Tanpa cerita yang kuat, film akan menjadi sebuah tontonan yang mungkin kurang berisi. Bersama dengan aspek-aspek yang ada dalam unsur sinematik, cerita, yang merupakan salah satu aspek unsur naratif, bahu membahu membuat satu film menjadi solid dan juga menghibur. Untuk membangun sebuah cerita yang kuat itu bukan perkara mudah. Selain dibutuhkan imajinasi, hal tersebut harus dikontrol oleh riset yang mendalam agar apa yang disajikan bukan sekedar mengada-ada.

Khususnya untuk film biopik, peran riset dalam cerita film menjadi sangat penting. Dari riset ini para filmmaker bisa mengetahui data dan fakta yang ada. Kemudian setelah itu baru akan ditentukan ke mana arah cerita akan mengalir. Semua harus bisa dipertanggungjawabkan karena biopik sendiri adalah genre yang menyangkut kehidupan seseorang, dan ketika kehidupan tersebut dijadikan komoditas, maka patut lah yang tersaji di dalamnya tidak melenceng dari kejadian sebenarnya. Karena salah satu film biopik adalah untuk menginspirasi penonton lewat potret manusia biasa, yang membuat sesuatu yang luar biasa. Biopik merupakan genre superhero dalam kehidupan nyata.

Untuk mengulik lebih jauh mengenai riset sebuah film, terutama film biopik, “Movie Freak Binus TV” mengundang Teddy Andika. Dia adalah kepala dari tim riset film “Susi Susanti Love All”. Adam dan Loki penasaran dengan tim riset ini, karena jujur, belum banyak yang tahu mengenai posisi dan seberapa jauh peran dari tim riset dalam produksi sebuah film. Diwarnai oleh banyak canda tawa, talkshow “NGOBRAS – Ngobrol Bareng Sineas” kali ini begitu hidup. Teddy secara santai sharing mengenai pengalamannya, dan apa sih asiknya menjadi seorang periset cerita film.

Yeay Smart Viewers welcome back to Movie Freak!

Teddy: Sumpah gue kaget.

Hahahahaha! Masih bareng Adam dan Loki. Dan sekarang kita sudah kedatangan tamu kita yang tadi nyasar ke sini (di awal acara Teddy kena “prank” diganggu oleh zombie yang tiba-tiba muncul di set).

Teddy: Eh tunggu-tunggu! Kita beneran bertiga atau beneran ada yang nongol lagi nih? Perasaan gue makin gak enak juga. Gak ada kan? Aman kan?

Aman aman hahaha. Digangguin ama siapa sik?

Teddy: Tau tuh. Lain kali bilang, gue request yang cewek.

Hahahahaha! Tepuk tangan dulu dong buat Mas Teddy Andika! Mas Teddy apa kabar?

Teddy: Alhamdulilah baik.

Ni kita mau ngucapin selamat dulu salah satu filmnya (A Man Called Ahok) berhasil masuk 38 list film untuk FFI 2019. Boleh tepuk tangannya lagi dong!

Teddy: Bukan film saya!

Iye tapi kan lu di situ bapaaak.

Teddy: Iya ya. Saya dan tim. Cie cie cie cie….

Ya elah udah kayak menang Oscar lu!

Teddy: Tunggu tunggu tunggu! Kesannya gue hebat banget ya hahahahaha!

Hahahahah! Kita mau ngobrol-ngobrol soal riset film ya. Tapi boleh diceritain dulu gak sih awalnya terlibat, terjun, nyemplung ke sini tuh kayak gimana?

Teddy: Ceritanya tuh sebenernya nih, waktu  itu gue lagi riset juga. Lagi S2 terus lagi bikin thesis. Udah selesai nih, tinggal tunggu macem-macemnya lah. Terus, “Gue ngapain ya?” pikir gue begitu. Oh ya udah, karena gue kan juga bergabung dalam di sebuah komunitas film juga kan. Boleh disebut gak?

Oh boleh! Boleh.

Teddy: Kalo enggak nanti gue dimarahin.

Hahahahaha!

Teddy: Becanda becanda. Jadi karena gue tinggal di Bintaro kita punya namanya Bintaro Movie Freaks.

Oh sori, ini bukan cabang Movfreak di Bintaro kan?

Teddy: Oh bukan bukaan. Ini makanya kayaknya kita namanya duluan deh hahahaha!

Hahahaha! Ohhh begituuu….

Teddy: Tapi ya gak sehebat kalian lah yaa.

Ahhh jangan gitu dong!

Teddy: Daripada gue pulang digebukin anak-anak Binus.

Hahahahaha! Haduhhh…

Teddy: Jadi waktu itu di WhatsApp grup ada yang nyari seorang researcher. Cuman agak sedikit anehnya menurut saya waktu itu yang penting suka nonton film dan tahu riset. Hanya itu aja. Oke, karena saya bisa riset dan masih “panas” lah, saya e-mail kemudian ada form yang mesti diisi. Pokoknya nama dan segala macem terus (diminta) sebutkan tiga film yang bener-bener kamu suka dan kenapa.

Hmmm baik. Kalo boleh tanya, film apa tuh yang Mas isi?

Teddy: Tiga itu udah pasti ada filmnya Wong Kar-Wai, “In the Mood for Love”. Gila. Mmmmwah buat Wong Kar Wai! Terus ada filmnya Zhang Yimou, “Rise of the Red Lantern”. Itu juga gokil. Saru lagi saya lupa film apa.

Film dari Bintaro Movie Freak!

Tedddy: Ahahahaha! Bukan yang itu juga hahahahah!

Hahahaha! Terus terus gimana tuh?

Teddy: Terus dari situ dipanggil nih! Tapi waktu itu belum ketemu sama produser sama sutradara. Jadi waktu itu ada pereka cerita. Ada pereka cerita atau storyteller-nya. Kalo ada “story by”, nah itu pereka cerita. Terus saya dateng, terus saya bingung, “Ini sebenernya kok butuh periset tapi yang suka nonton film?”. Kemudian ketemu sama Mba Syarika (Syarika Bralini). Dia adalah ketua di creative team-nya. Story by Syarika. Kemudian dari situ saya interview, ngobrol-ngobrol soal film, terus dibilang “Eh jangan pulang dulu ya. Nanti ketemu sama produsernya. Produsernya mau datang hari ini.”. Oke baik, terus dikenalin ke produsernya. Terus aku cuma bengong. “Elu Za?”. Ternyata temen.

Ooohhh! Memang suka seperti itu kalau di dunia film ya.

Teddy: Tapi mereka kayak, “Ohh Teddy itu maksudnya elu?”. Karena mereka taunya ada nama panggilan lagi lah. Udah habis itu masuk ke situ, nyemplung di situ untuk film “Susi Susanti Love All” dulu. Waktu itu saya dikontrak untuk enam atau tujuh bulan, plus tiga bulan lagi. Dan ternyata sangat amat menyenangkan.

Salah satu yang nyenengin dari riset adalah hal-hal yang dikepoin.

Teddy: Yak! Betul.

Emang apa aja sih yang dikepoin periset cerita film itu?

Teddy: Kalau mau jadi periset, satu, lo mesti suka baca. Dua, lo mesti suka kepo.

Naaah ini! Suka kepo-nya ini nih yang seru!

Teddy: Tapi in a good way.

In a good way. Okay… Harus yang fakta ya.

Teddy: Iya. Tapi gapapa sih kalau mau gosip juga.

Eaaaa hahahahaha! Susah susah…

Teddy: Iya jadi dua itu. Terus juga saya belajar banyak dari Mba Ika, si pereka cerita itu. Saya juga (awalnya) bingung dan nanya, “Ini kok dipisah sih? Riset riset, penulis skenario penulis skenario. Karena yang saya tahu itu kan jadi satu. “Ya udah lo nulis skenario ya. Kasih berapa lama? Tiga bulan? Oke”. Nah dari tiga bulan termasuk riset. Ini beda. Terus gue pikir ini sesuatu yang baru.

Belum pernah nemuin itu sebelumnya ya?

Teddy: Belum. Karena yang aku tahu selama ini selalu barengan tuh.

Yang selama ini kita tahu juga gitu kan.

Teddy: Iya. Tapi kok yang ini beda? Jadi waktu itu pas film Susi ini kita belum tahu mau menceritakan apa tentang Susi. Mau diambil apanya?

Masih “Love All” ya? Nol nol.

Teddy: Enggak! Masih belum ada judul. Terus waktu itu kita pikir, karena gini, kalau misalnya kita bikin film terus ternyata udah banyak orang yang tahu, buat apa difilmin?

Bener. Apalagi sekarang kan info-info udah gampang dicari di website ya kan?

Teddy: Bener!

Tadi kan kita juga ngomongin kalau riset film adalah sesuatu yang menyenangkan. Jabarkanlah menyenangkan tersebut ke kata-kata yang lebih banyak.

Teddy: Oke. Menyenangkannya adalah, satu, kita punya akses informasi ke orang-orang yang gak banyak orang tahu.

Oke. Contohnya kayak gimana tuh?

Teddy: Contohnya misalnya kita bisa wawancara, ini karena film aku dua-duanya biopik dan orangnya masih hidup ya. Walaupun yang satu agak susah diwawancara, itu gak pakai wawancara. Yang diwawancara orang di sekutarnya. Tapi paling gak dapat banyak pembelajaran yang akhirnya gue pikir, “Gila ya orang-orang hebat ini dulunya seperti ini ya”. Jadi kayak merefleksikan gue sendiri. Oh gue tahu orang sukses gak gampang. Oke lah mungkin gak gampang, cuman apa sih kendalanya? Kenapa orang itu bisa sukses? Ohhh misalnya si A terkenal marah-marah. Kenapa? Oh ternyata karena didikannya seperti ini. Jadi kita bisa lihat bahwa sebab-akibat itu ada. Karena gue kepo, gue selalu pengen tahu. Gue baca, gue dapet sesuatu, “Kok menarik sih? Ah gue cari deh!”. Gue cari. Ada satu kalimat aja yang menarik, “Damn! Enggak. Yang ini nih!”. Cari lagi. Padahal belum tentu kepake juga.

Itu kayaknya “sense of journalism” juga gak sih?

Teddy: Tapi tapi gue selalu berfikir bahwa, “Kalau gue jadi penonton filmnya menarik gak ya?”.

Naaaah iya.

Teddy: Jadi gue juga bukan berfikir bahwa semua menarik. Memang. Tapi gue selalu bilang, “Kalau gue jadi penonton filmnya, gue pengen tahu yang ini”. Tapi tetap aja, gak bisa milih juga karena yang milih kan bukan tim riset. Yang milih adalah tim kreatif. Isinya  tadi, ada pereka cerita, ada sutradara, ada produser, ada penulis, kita hanya bagian yang menyuplai data.

Nah itu kan yang pertama, akses. Yang kedua apa?

Teddy: Kedua bisa foto bareng hahahahaha!

Ahahahaha! Tetep ya bok!

Teddy: Orang pada berebut foto, gue sih gak usah berebut. “Oh ini ya yang riset? Ayo foto sama saya”. Weeeehhh!

Mantap.

Teddy: Dulu orang-orang belum punya (foto barengnya), gue udah punya.

Yang penting jangan disebar di sosmed dulu ya hahahaha!

Teddy: Enggak enggak hahahaha. Jadi yang kedua kita bisa banyak kenalan. Kadang gue bingung nih mau wawancara siapa. Nanti narasumbernya bilang, “Yaudah lu coba hubungin ini deh. Nanti dia bisa hubungin elu ke sini, ke sini, ke sini”.

Dan perlu digarisbawahin juga kalau semua itu harus secara langsung ya. Maksudnya internet itu pilihan paling terakhir?

Teddy: Internet, YouTube, itu bukan berarti gak penting. Cuman biasanya itu untuk menyempurnakan aja. Atau misalnya udah dapet data, kayaknya agak-agak kurang dikit. Coba deh cari di internet ada gak?

Bukan utama lah ya.

Teddy: Iya.

Nah kita juga punya foto-foto ya. Yang kita ambil dari internet hahaha!

Teddy: Foto-fotoku masih kecil! Oh no! Hahahahaha. Gue udah kayak artis aja nih.

Hahahaha! Kita lihat foto-fofonya Teddy Andika yuk!

Nah!

Teddy: Wih. Mukenye seriues banget nih gue hehehe.

Itu lu lagi ngomong apa sih di situ?

Teddy: Sakittt hati ini! Hahahahaha! Gak gak.

 Ini talkshow paling gak bener sih hahahahaha!

Teddy: Kayaknya rating-nya langsung jeblok hahahahaha. Ini lagi meeting, itu Mbak Ika yang ada di depan. Dia pereka ceritanya. Kmeudian yang dua (di samping Teddy) adalah penulisnya. Penulis skenarionya. Yang moto, itu lah sutradaranya (Sim F). Waktu itu kita udah dapat banyak data, udah dikumpulin. Waktu itu dalam seminggu kita dua sampai tiga kali ngumpul terus kita jabarin. Kira-kira dapat data apa terus nanti seperti apa.

Oke kita ada foto selanjutnya.

Teddy: Ah tidak!

Woaaah ini! Bareng Susi Susanti, Alan Budikusuma, Daniel Mananta…

Teddy: Tuh kan. Sekarang pada berebutan foto kan? Hahahahaha!

Ini kayaknya kebalikannya deh. Elu yang pengen foto ama mereka. Ini mah timbal balik aja hahahaha!

Teddy: Emang hahaha! Itu mah bisa-bisanya gue.

Ini ceritain dong pas kapan.

Teddy: Ini di salah satu hotel di daerah Taman Mini. Di deket apa tuh, bulutangkis. Apa namanya?

GOR?

Teddy: Ahahahahaha! Bukan bukan! Apa namanya sih tempat bulutangkis? PBSI.

Pelatnas? Apa sik?

Teddy: Ada lah pokoknya. Itu karena Susi sama Alan mesti balik lagi untuk kerja. Karena mereka juga melatih kan. Terus ini waktu pertama kali ketemu sama Ci Susi sama Koh Alan untuk interview yang pertama. Tapi sebelum kita interview, saya udah mesti kumpulin data dulu. Kan saya juga mesti tahu apa yang mau ditanyakan.

Gak mungkin lo datang dengan tangan kosong kan ketemu mereka.

Teddy: Iya.

Masih ada satu lagi nih fotonya.

Teddy: Ini mah sama juga. Nah tadinya kupikir gini, “Aduh. Ci Susi kan kalau kita lihat itu ya pas main bulutangkis di TV kayaknya pendiem ya”. Tapi ternyata gak juga. Justru Alan yang lebih pendiem. Susi lebih talkative. Jadi enak. Kita tinggal senggol sedikit, “Kalau ini gimana?”, dia langsung banyak jawab. Ita rekam juga, kita tulis juga, paling dari hasil itu kita kumpulin lagi terus tabulasi lagi. “Oh ini Susi lagi ngomongin masa kecilnya nih. Tapi masa kecil yang di mana? Di SD? SMP? Terus tabulasi lagi, per tahun? Per pertandingan? Per skor? Itu banyak banget yang akhirnya kita bisa tabulasi untuk menjadi sebuah cerita.

Istilahnya bisa dipilah-pilah lagi ya dengan bantuan Ibu Susi. Nanti dimasukin ke slot-slotnya gitu ya.

Teddy: Tapi balik lagi. Dari semua pertandingan Susi yang begitu banyak, mana sih yang fenomenal?

Naah itu dia! Karena di review-nya kita di segmen sebelumnya kita bilang yang jadi turning point nya yang mana sih.

Teddy: Semuanya turning point. Itulah hidup. Weeeeee!

Weehh! Patah langsung cuy opini kita hahahahaha! Tapi gimana sih caranya kalian ngeriset Susi Susanti, yang gak hanya di dalam namun juga banyak diluar lapangan. Subplot nya juga gue kaget banget.

Teddy: Banyak sih waktu itu. Dan sebenarnya banyak banget sesuatu yang, “Hah?”. Sampe waktu itu kita udah bikin sbeuah cerita, terus kita ke KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), “Yang ini gak usah. Yang ini iya”. Kadang-kadang gitu juga.

Selektif lah ya.

Teddy: Yang ini jangan deh. Yang ini ganti. Ya udah gapapa.

Ini pertanyaan terakhir. Setelah film biopik, pengen jadi periset film genre apa?

Teddy: Ni beneran. Gue pengen banget ngeriset…. banyak sih. Tapi kalau misalkan suruh milih satu genre, gue pengen pilih superhero.

Kenapa?

Teddy: Karena….. Kita udah mesti closing.

Hahahahaha!

 

“Susi Susanti Love All” masih tayang di bioskop seluruh Indonesia. Saat ini film tersebut sudah melewati raihan seratus ribu penonton.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here