‘Pet Sematary’, Kuburan Kuno Bangkitkan Arwah yang Sudah Mati

“Sometimes, dead is better.” – Jud Crandall.

Remake yang diangkat dari salah satu novel terlaris Stephen King ini tetap menjadi yang terbaik setelah “It” (2017). Hadir dengan nuansa lebih dark dan akting Jeté Laurence yang keren abis akan membuat kamu terkesiap hingga selesai.

Satu lagi remake dari film layar lebar dari novel garapan Stephen King diangkat ke layar lebar. Setelah “It” (2017) yang sukses secara komersial dan diakui kritikus sebagai salah satu remake terbaik, kini giliran “Pet Sematary”, salah satu novel terbaik Stephen King yang di-remake, sejak film orisinilnya keluar pada tahun 1989 silam. Film yang kini dibintangi oleh Jason Clarke dan John Lithgow ini bercerita tentang keluarga Creed yang pindah rumah dari Boston ke Ludlow. Kelurga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dua orang anak, dan seekor kucing bernama Church. Salah satu alasan mereka pindah ke Ludlow adalah agar sang ayah, Louis Creed (Jason Clarke), bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu dan anaknya.

Pekerjaan Louis sendiri adalah seorang dokter, sehingga setelah pindah ke Ludlow ia memiliki tanggung jawab yang relatif lebih kecil yaitu mengelola klinik sekolah. Satu hari, kliniknya mendapatkan pasien sekarat yang terbaring dalam kondisi super mengenaskan. Gagal menyelamatkan sang pasien, Louis justru dikejutkan oleh sebuah visual yang memperingatkannya akan hutan di belakang rumah barunya. Belakangan baru ditemukan kalau hutan itu memiliki kekuatan supranatural yang jahat.

Perbedaan signifikan yang sangat nyata pertama kali adalah atmosfernya. Dibandingkan dengan “Pet Sematary” versi tahun 1989, versi modern nya ini mempunyai visualisasi jauh lebih gelap. Suasana suram tercipta, bahkan sejak menit pertama. Di situ kita akan prolog yang memperlihatkan pintu dari sebuah mobil yang terbuka dan ketika kamera bergerak semakin dekat ke pintu rumah terlihat darah berceceran hingga ke dalam. Di sini film lalu diseret ke belakang, tepatnya dari saat Louis dan keluarga pindahan. Di scene ini, film masih lebih cerah tentunya.

Tapi “Pet Sematary” sudah men-setting terornya mulai dari pemandangan yang dikelilingi oleh hutan dan pemanfaatan “external diagetic sound” yang mengagetkan. Pengenalan terhadap visual yang seakan memperingatkan Louis akan satu hal yang buruk pun ada di tahap persiapan ini. Bersiap lah karena gambar yang berdarah-darah dan mengerikan pertama kali muncul di sini. Tidak tanggung-tanggung, kamera akan memperlihatkan shots ‘medium close-up’ hingga ‘close-up’. Ingat, kamu sudah diperingatkan.

Di luar dari itu, kita mesti bersiap-siap diteror oleh gelapnya “Pet Sematary”. Aspek-aspek simematik seperti mise-en-scene, musik, akting dan editing semuanya tampil padu. Metode jumpscares-nya tentu menggunakan cara yang sudah lazim digunakan seperti on-screen/off-screen, lalu “nondiegetic sound” yaitu suara yang berasal dari dunia luar filmnya yang digunakan untuk membangun ketidaknyamanan (dalam kasus film horor) dan juga “off-screen diagetic sound” yang mana memperdengarkan suara dari dunia filmnya tapi objek sumber suara berada di luar frame. Hal-hal ini lalu dipadupadankan sehingga bisa menimbulkan rasa horor yang harmonis.

Di saat-saat ini juga film akan memperkenalkan kita pada poin-poin pendukung yang tidak kalah penting. Ada Jud (John Lithgow), karakter pendukung yang merupakan tetangga depan keluarga Louis. Selaim itu ada juga metode menakut-nakuti memanfaatkan peristiwa masa lalu yang dimiliki Rachel (Amy Seimetz). Untuk kartu As-nya, kamu juga perlu memahami konsep kematian yang dipercaya oleh karakter utama. Ini akan menjadi sesuatu yang penting di tahap berikutnya.

Sayang ada misteri yang belum terungkap. Misteri ini berbentuk semacam ritual paganisme yang dilakukan oleh anak-anak. Muncul di tahap persiapan, hal ini tentunya akan menyita perhatian karena ada beberapa properti “eyecatching” yang digunakan. Bagi yang belum familiar pasti akan bertanya-tanya, apa maksud dari ritual ini. Cuman karena masih dalam tahap persiapan, pertanyaan tersebut masih dibiarkan mengawang. Apesnya, pertanyaan tadi tidak terjawab hingga film berakhir.

Sama sekali tidak ada petunjuk yang jelas mengenai koherensi antara ritual tadi dengan cerita “Pet Sematary”. Apakah ada petunjuk implisit? Kurang jelas juga. Namun di luar itu, film tidak menyisakan poin negatif lain. Backstory menyeramkan dari Rachel memang tidak memiliki hubungan pula. Tapi, film masih menempatkannya secara tepat untuk membangun intensitas dan membuat penonton jadi lebih peduli terhadap karakter sang ibu tersebut.

Apa yang kembali dari mati pasti tidak akan sama lagi. Kira-kira ini prinsip yang mesti dipegang teguh oleh kita saat menonton film “Pet Sematary”. Turning point pertama dan kedua soalnya berkaitan dengan pernyataan tersebut. Bagi penonton yang belum pernah menonton film aslinya atau membaca bukunya, kalian masih bisa menebak apa yang akan terjadi di pertengahan. Kerennya, “turns” yang ada menimbulkan kesan yang gila atau sinting. Jauh dari kata membosankan meskipun apa yang ingin dilakukan oleh para karakternya bisa ditebak.

Salah satu faktor pendukung dalam mise-en-scene, yaitu kostum dan tata rias plus akting memiliki andil yang besar. Ada perbedaan yang jelas terlihat dari karakter-karakter yang menjadi korbannya. Akan menjadi spoiler jika berbicara mengenai hal ini lebih jauh, namun yang pasti perbedaan itu sangat kentara. Kudos untuk kucing yang menjadi Church! Dia sukses keluar sebagai scene stealer lewat aktingnya yang meyakinkan untuk ukuran binatang. Selain dibikin berbeda dari tatanan rambut yang ada di sekujur tubuhnya, Church juga memperlihatkan sifat yang 180 derajat berbalik dari karakter sebenarnya.

Begitu pula dengan akting dari Jeté Laurence (The Snowman) yang akan membuat kamu lupa kalau dia hanya aktris cilik yang mampu membius kita dengan penampilan kerennya.

Berangkat dari sana kita akan paham bahwa akan ada set yang menjadi bagian penting. Set ini berbentuk tanah kosong di atas bukit dengan batu-batu yang digunakan untuk purpose tertentu. Untuk set ini ada perbedaan signifikan dengan film orisinilnya. Kuburan yang nampak di film ini tak terlihat layaknya kuburan, tampak sebatas situs yang sangat jarang dimasuki orang dan penampakannya pun tampak samar, karena selalu didatangi saat malam. Sedangkan di film aslinya, situs ini terlihat besar dan nampak seperti layaknya situs kuburan suku Indian.

Hal yang menjadi pembeda besar adalah bertukarnya peran sang anak yang menjadi obyek penderita. Kalau dalam versi orisinilnya sang anak bungsu yang pertama kali diinduksi roh jahat, kini posisi itu bertukar ke sang kakak perempuan, yang jujur saja dengan pertukaran ini, film lebih terasa terornya. Interaksi antara sang ayah yang merasa belum siap ditinggal anak kesayangannya, walaupun sang anak telah berubah menjadi bak zombie. Faktor-faktor minor (tapi penting) di atas, menjadikan “Pet Sematary” menjadi pembeda dibandingkan film horor lain yang notebene hampir berkutat di segmen yang kurang lebih sama.

Meski awalnya cerita terlihat klise, di mana ada sebuah keluarga baru pindah rumah dan rumahnya terlihat terpencil lagi seram, film tidak serta merta memberikan teror supranatural lewat kehadiran rumah tersebut. Film justru memberikan himbauan dari karakter-karakter pendukung. Set yang sakral tadi menjadi titik pembahasan oleh mereka sebelum karakter utama bertingkah sembrono. Bagusnya, motivasi karakter dalam melakukan hal yang sembrono tadi didasarkan pada alasan yang cukup kuat. Kasih sayang tercampur dengan perasaan tidak rela dan pemikiran pribadi. Tidak lupa disertakan pula harapan yang semu dan jelas semua itu tidak akan bisa membantu. Justru memperburuk situasi.

Apa yang paling ditunggu-tunggu benar terjadi di third act. “Pet Sematary” langsung menyuguhkan resolusi yang asik untuk dinikmati. Kata “asik” di sini maksudnya adalah chaos dan berdarah-darah. Tusukan, sayatan, dijalankan berbarengan dengan kejutan dalam penceritaan. Lagi-lagi kejutan ini bisa membuat kamu yang belum membekali diri dengan materi orisinilnya akan merasa terhibur. Mungkin, sampai bilang gila. Scene terakhir menunjukkannya, di mana film sudah semakin menyatukan horor ala hantu dengan mayat hidup secara halus.

Sebuah remake yang memuaskan, meski belum sampai level “It”. Jumpscares-nya biasa, terlihat dari bagaimana mereka menampilkannya. Hanya saja, film ini memiliki unsur-unsur sinematik yang bagus dalam menata nuansa yang diinginkan sehingga selalu sukses membuat kita menutup mata sambil ngintip-ngintip sedikit. Kemudian ini juga menjadi nilai tambah karena membuatnya jadi lebih mencekam dibanding versi orisinil. Jadi, apakah kematian itu lebih baik? Temukan jawabannya di bioskop favoritmu mulai tanggal 5 Maret 2019.

 

Director: Kevin Kolsch, Dennis Widmyer

Starring: Jason Clarke, John Lithgow, Amy Seimetz, Jete Laurence, Lucas Lavoie, Obssa Ahmed

Duration: 101 Minutes

Score: 8.0/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here