Film Indonesia terus membuat prestasi di kancah internasional. Kali ini datang dari film “Mudik” karya sutradara Adriyanto Dewo. Menjadi feature film keduanya setelah “Tabula Rasa” di tahun 2014, “Mudik” berhasil terpilih masuk di ajang 4th International Film Festival & Awards Macao (IFFAM). Di sini “Mudik” menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masuk seleksi dan akan berkompetisi dengan delapan film lainnya.

“Mudik” sendiri bercerita tentang Aida (Putri Ayudya), yang memutuskan untuk melakukan perjalanan mudik bersama sang suami, Firman (Ibnu Jamil). Tapi, ini bukan sebuah mudik biasa karena baik Aida maupun Firman juga dalam perjalanan ini sedang berusaha untuk menemukan solusi dari konflik yang sedang mereka hadapi. Dalam perjalanan, tak sengaja mereka terlibat dalam sebuah kasus yang merenggut nyawa suami orang lain. Dalam proses menjalani kasus itu, Aida dipaksa untuk menemukan jawaban yang selama ini tersimpan di dalam hidupnya.

Berikut transkrip wawancara Movie Freak Binus TV bersama Putri Ayudya dan Adriyanto Dewo yang datang ke studio hari Selasa, 26 November 2019. Mereka sharing banyak hal tentang proses pembuatan film, mulai dari draft pertamanya yang ditulis oleh Adri sendiri, kemudian development ceritanya hingga menjadi naskah akhir, build-up chemistry antar pemain, sampai makna mudik untuk masing-masing. Selamat membaca!

Oke Smart Viewers! Sekarang kita gak cuma berdua doang nih. Ada Mas Adriyanto Dewo sebagai sutradara film “Mudik” dan Mba Putri Ayudya sebagai cast. Apa kabar semuanya?

Adri & Putri: Alhamdulilah.

Selamat datang di Movfreak. Ini kita mau ngobrol-ngobrol soal “Mudik”, tapi sebelumnya kita mau ngucapin selamat dulu atas keberhasilan kalian terpilih untuk kategori Kompetisi di Macau International Film Festival and Award. Boleh kasih tepuk tangan sekali lagi dong!

Putri: Risetnya bener.

Hahaha siap! Risetnya bener. Ini gimana waktu itu kalian pas baru pertama kali dapet beritanya kalau film kalian masuk kompetisi. Lagi ngapain sih?

Adri: Waktu itu sih diumumin lewat e-mail sih.

Jadi lu nungguin di depan komputer gitu? Enggak ya?

Adri: Gak juga sih hahaha! Karena diumuminnya itu kita juga lupa tanggal berapa, tapi dapet e-mail nya. Kita masuk kompetisi. Ya udah. Itu kabar baik aja.

Ahhh oke. Nah kalau dari Mbak Putri pas pertama kali denger kabarnya gimana tuh?

Putri: Yang pertana surprise pasti. Karena gak tau ya. Ini ada ibu Produser di sebelah sana.

Halo Ibu! Apa kabar!

Putri: Ada Mbak Desi yang bekerja sama juga. Kita bareng sama Lifelike Pictures, sama Mbak Lala (Sheila Timothy). Jadi udah didistribusikan ke beberapa festival. Kita kan pasti masukin aja ya. Kita gak tahu yang mana yang akan berjodoh dengan kita. Terus rasanya kayaknya beda ya punya film yang dibikin, karena kali ini aku selain bermain juga co-producing. Jadi, “Oh rasanya gini ya kalau film yang kita kerjain sama-sama lolos”.

Terharu banget. Pokoknya norak banget gue. Begitu masuk langsung kasih tau keluarga semua. Kayak, “masuk masuk masuk! Lumayan nih, lumayan!”. Dan sejujurnya aku belum nonton filmnya yang lengkap. Jadi begitu ngeliat (trailer-nya), jadinya, “Oh trailer-nya jadinya kayak gini! Oh warnanya jadinya kayak gini!”. Begitu. Jadi nonton pertama justru dari publikasi internasional ini.

Mantaap keren keren keren! Baru di sosmed tuh gue lihat trailer-nya ya.

Putri: Kita aja surprise tiba-tiba udah ada di sosmed. Gimana ceritanya?

Ini siapa yang bocorin nih? Hahahaha!

Adri: Ada di website Macau nya kan sebenarnya.

Oh iya bener.

Putri: Tapi niat banget sih. Karena ada yang nge-upload tunggal gitu. Berarti mereka entah download, terus upload, ya pokoknya niat banget.

Kita bahas film jadi bahas konspirasi lho ini hahaha. Anyway kalau ngomongin soal mudik sendiri deh. Ini kan istilahnya budaya yang unik ya di Indonesia. Menurut Putri sama Mas Adri, gimana sih mudik menurut kalian?

Adri: Ya mudik sebenarnya gak hanya di Indonesia doang ya. Maksudnya di negara lain ada juga beberapa budaya yang seperti pulang ke kampung. Itu ada di China, Korea juga ada, di Amerika sebenarnya ada kalau misalkan Thanksgiving mereka pada pulang. Jadi menurut aku ini temanya universal. Mungkin di Indonesia sebenarnya aku sih pertama kali mikirinya juga apa ya, mudik itu dekat dengan kita. Jadi bisa menjadi sebuah cerita yang menarik kalau bisa digarap.

Kalau Putri gimana?

Putri: Mudik selalu jadi cerita yang personal ya. Setiap orang punya ceritanya sendiri dan pemaknaan khusus tentang mudik. Tapi kan kita peras lagi nih value-nya apa sih mudik itu? Kan sebenarnya “pulang” ya. Pertanyaannya, pulang ke mana? Pulang ke keluarga? Pulang ke kampung halaman? Pulang ke rumah? Atau bahkan pulang ke diri sendiri? Kita udah terlalu banyak ngurusin orang lain selama ini? Terlalu banyak ngurusin sosmed selama ini?

So, kita beberapa kali dapet insight dari orang-orang yang kita ajak ngobrol. Mulai dari calon investor, sampai dengan partner bermain. Di sini main bareng Ibnu Jamil, Asmara Abigail, dan juga Yoga Pratama. Dan juga teman-teman dari Jogja, dan juga aktor di Jakarta juga. Mereka semua punya pemaknaan yang besar soal pulang. Soal mudik. Terutama kalau aku dan Mas Ibnu kalau dalam ceritanya, ada pesan-pesan yang ternyata terasa, very universal yet very personal.

Waduuuh. Itu gimana ya hmmmm??

Putri: Sama kayak tema, let’s say, tema “forgiveness”. It’s completely universal but yet very personal. Kapan terakhir kali berpikir kalau kita perlu dimaafkan? I don’t know.

Bertengkar sama pacar?

Putri: Yaaa ya ya. Ya kadang-kadang yang kayak gitu aja. Atau kapan terakhir kita memaafkan diri sendiri? Itu buatku jadi sesuatu yang sangat sangat personal dan pertanyaan penting yang ditanyakan ke diri sendiri. Jadi kalau kita ngomongin soal mudik, kita syuting di gumuk pasir Parangtritis. Di sana magical banget buat aku. Tiba-tiba di akhir itu ada sekain banyak orang datang untuk Sholat Eid. And i feel touched. Tersentuh dengan shot terakhir kalau nanti belum pada lihat trailer-nya, lihat trailer-nya. Sudah beredar sekarang.

Gue tahu gue tahu.

Putri: Yang sekian banyak orang bersujud.

Yang diambilnya wide itu kan?

Putri: He eh. Dan itu memang beneran terjadi sih. Karena kalau bayar gak sanggup ya bu. Gak sanggup kita orangnya banyak banget. Kita memang mengejar momentum itu.

Oh berarti kalian syuting-nya benar-benar pas lagi puasa dan bener-bener lagi Eid?

Putro: Lagi Lebaran. Udah selesai puasanya.

Adri: Lagi sholat Eid.

Putri: Lagi Sholat Eid-nya beneran.

Adri: Jadi yang lain pada libur kita syuting.

Putri: Ah syuting kan liburan juga Mas Adri. Cie gitu.

Ce elah! Kerjaan yang menyenangkan lah ya! Nah Berarti pas selesai sytuing ini ada menemukan beberapa arti tersendiri dari mudik ya?

Putri: Ih reflektif banget sih. Buat aku sih reflektif banget ya. The whole story, the character, dari awal diceritain sama Nas Adri. Diajak ngobrol ya dari develop pertama, ini panjang ya develop-nya pak.

Oh gak papa kita ada waktu kok ya hahahaha!

Putri: Hahahaha! Jadi benar-benar dikasih tau, itu draft pertama waktu kita ngobrol? Atau draft sekian udah?

Adri: Erggh… Saya agak lupa sih. Mungkin draft pertama ya. Waktu kita obrolin.

Putri: Kita ngobrol panjang banget. Dari itu, sampai ada film dulu apa, sampai ketemu lagi udah jadi draft yang lain. Dari awal itu aku udah bilang, “Mas kamu ketemu siapa lagi? Belum ketemu yang lain sih. Gue aja boleh gak?”. Gitu. Murah gue emang. Karena begitu dengar ceritanya emang…..

Itu elu banget ya berarti?

Putri: Kerasa sih. Kupikir cerita ini setelah sekian tahun udah muter dimana-mana. Termasuk di temen-temen aktor juga.

Ohhhhh…..

Putri: Iya ya aku belum cerita. Muter di teman-teman aktor dan, “Gue dengar cerita soal itu!  Gue pengen lihat. Oh my god, ceritanya asik banget”. Kata mereka ya. Ini benar-benar mengutip apa yang mereka bilang. Dan betul, sebagai aktor, aku sih ngerasa karakternya seksi banget.

Kita bakal ngobrol-ngobrol soal karakternya tapi ditahan dulu. Ini kalau udah ngelihat trailer-nya awalnya gue ngeliat kaya, “Okay ini road trip. Mudik dan segala macam. Cuman makin ke sini makin serem nih”!

Putri: Apanya yang serem?

Kalau mudik itu kan memang biasanya saat-saat yang bahagia. Kalau lihat di iklan tivi-tivi ya, ada lagunya apa segala macem. Ini apakah ada sesuatu yang ingin ditampilkan berbeda sama Mas Adri?

Adri: Yaa. Sebenernya kita gak mau bikin kayak iklan juga sih.

Hahahaha! Itu gak “apple to apple” sih dam. Ya kaaan?

Adri: Sebenarnya gak dark-dark juga. Tetap drama, tapi ada suspense sedikit di dalam ceritanya. Untuk seru-seruan gimana dramanya itu terjadi. Karena ceritanya ini berkutat sama empat karakter ini. Salah satunya (yang diperankan) Putri, dan itu butuh dramatis yang bisa membuat ceritanya mengalir.

Oke. Itu nanti lebih ke dramanya atau lebih ke suspense?

Adri: Lebih ke drama sih.

Putri: Hidup kita banget gitu lah.

Bikin yang dekat-dekat dengan kehidupan kita. Untuk draft pertamanya sendiri udah sejak kapan?

Adri: Draft pertama itu, pokoknya saya start buat nulis itu 2015. Kayak ada Script Lab lah. Kayak kompetisi skrip dari British Council. Kita ikut. Itu draft pertama yang saya tulis. Habis itu kita dapat kayak tiga besar, nah tiga besar dari script competition itu kita mendapatkan pembimbingan selama delapan bulan. Tetus kita dapat main prize-nya. Sempat ke London, kita ngasih skrip di sana ke produser sama director di sana. Waktu itu di BFI London Film Festival. Nah dari sana kita dapat input dan saya balik nulis lagi sampai setahun setelah itu baru syuting.

Sekarang kita mau ngebahas soal karakternya nih! Sekarang gak boleh ditahan lagi. Aida, siapakah dia?

Putri: Aida adalah seorang istri yang masih punya suami. Suaminya namanya Firman, dimainkan oleh Ibnu Jamil. Mereka berdua sebenarnya sedang berupaya untuk memperbaiki hubungannya dengan perjalanan mudik. Yaaa Aida juga berupaya sih, tapi seperti layaknya seseorang dalam hubungan yang sedang diupayakan ya, setiap orang pasti mencari banyak hal tentang pasangannya dan tentang dirinya sendiri juga. Aku yakin sebanyak apapun orang belajar soal orang-orang terdekatnya dia juga belajar soal dirinya sendiri. Dan kurasa itu yang dipelajari Aida ya. Perjalanan film ini adalah soal itu buatku.

Okay. Itu tadi ya sedikit ‘sneak peek’ untuk karakter Aida. Cuman kalau di sini kan sentralnya memang ada di karakter Aida dan Firman. Nah gimana tuh caranya lo bangun chemistry dengan Ibnu Jamil?

Putri: Ini absurd banget sih.

Wadooh!

Putri: Gak pernah ketemu sama Ibnu Jamil sebelumnya. Jadi benar-benar ketemunya ya di situ ya.

Adri: He eh!

Putri: Aneh banget sih. Ketemu kayak, “Oh. Ibnu Jamil”. Terusa kan dia kayaknya temennya semua orang ya. Orangnya sangat-sangat friendly, sangat ramah, cuman yang menarik adalah film ini tuh gak bisa berhenti di situ karena deep sekali. Mau gak mau, as an actor, we need to be very vulnerable and open up to one another. Jadi percobaan kita untuk mendekatkan diri yang pertama adalah nonton bareng. Entah kenapa waktu itu kita dapet nonton “Hereditary”.

Waduh! Uneasy banget. Pantesan dibilang absurd.

Putri: Kayaknya Mas Ibnu juga belum pernah main film yang, dia banyak sekali main di FTV, atau pun film-film lain yang memang drama. Tapi kayaknya yang ini memang lain sih. Dan repotnya kan hubungannya itu bukan kayak aku harus bangun chemistry sama siapa yang jadi suami, tapi hubungannya (sudah) intimate, harmonis. Enggak. Ini kita berdua aja asing tapi harus membangun hubungan yang punya sejarah bareng terus asing. Terus jauh. Jadi kayak, lu harus cukup cinta untuk bisa cukup sakit. Sementara ini tuh, bener gitu kan tapi kan?

Adri: He ehh.

Putri: Karena ku gak bisa sesakit itu kalau lu gak secinta itu. Jadi untuk melalui kesejarahan itu yang ternyata gak segampang yang dipikirkan. Sehingga saat reading keberapa kita dibantu sama Om Willem Bevers. Dia aktor dan acting coach juga. Beliau datang sekali waktu itu membantu kami, dua pasang ini, termasuk Asmara Abigail dan Yoga Pratama juga. Tetus kita juga coba beberapa metode pendekatan selain reading dan bedah naskahnya. Asmara malah waaktu itu ngasih ini ya, Tango.

Adri: Iya.

Putri: Pendekatannya kita nari Tango.

Gue kira Tango biskuit. Ngasih gitu kan, makan bareng-bareng.

Putri: Hahaha enggak. Jadi kita ada nari. Itu kan cukup intimate gitu. Jadi emang break walls-nya agak sulit. Kadang-kadang kalau misalkan cuman yang kelihatan aja bisa selesai. Kita bisa “fake it till you make it”. Tapi kayaknya yang ini gak bisa benar-benar yang kayak, ada waktunya bahkan ketika kita syuting diri sendiri aja tuh ada rasa kehilangannya. Itu gue sih. Ntar mesti nanya Ibnu. Dia ngerasa gitu atau enggak.

Menurut aku ini bukan cuma persoalan hubungan romansa antara laki-laki dan perempuan. Bukan cuma soal itu. Karena kalau kita udah suami–istri itu bukan persoalan manis-manisan lagi. Ini sudah persoalan berbagi kehidupan. Jadi kalau lu pernah ngerasa punya sahabat yang dekat banget tapi juga kemudian jadian, terus hidup bersama, terus tiba-tiba terjadi sesuatu, maybe you wanna watch it.

Waduh jebret maaan! Ada hikmahnya tapi dibalik itu ya. Ini juga sempat kita obrolin sama Mas Adri. Ternyata gak di Pantura Mas?

Adri: Enggak. Kita jalur selatan syutingnya.

Wah! Yang gue tau jalur mudik Pantura doang hahahaha!

Adri: Syutingnya karena ini kita “road movie” ya, jadi kita beneran seluruh kru tuh bareng-bareng melakukan perjalanan itu. Kita mulai dari rest area Cikampek sampai ke deket-deket Jogja untuk ending syuting-nya. Di Parangkusumo. Jadi waktunya sih sekitar tiga mingguan dalam perjalanan itu ya. Kita naik mobil bareng, beberapa mobil, sama cast juga kita ngambil beberapa scene di sini terus lanjut lagi beberapa scene di sana. Sampai berakhir di tujuan kita, yaitu di Parangkusumo.

Jadi gak pakai jalur yang biasa ya?

Adri: Kalau Pantura itu kita kena macet. Terus syuting-nya macet doang kan hehehe..

Tapi figurannya banyak mas hahaha! Ada figuran mobil banyak. Udah kayak opening “La La Land” .

Putri: Itu settingan paak!

Hahahaha! Mas Adri mau nanya juga nih. Kalau tadi kan Putri ada bicara mengenai relate-nya film ini dengan keadaan sekarang. Tapi buat Mas Adri ketika penulisan cerita, seberapa jauh Mas mau mengambil terhadap kondisi sekarang? Mudik, keluarga, dan lain-lain.

Adri: Sebenarnya waktu awal aku nulis “Mudik” itu situasinya cukup berbeda. Maksudnya tahun demi tahun itu makin berbeda situasi mudiknya. Ewaktu pertama kali draft satu tuh, benar-benar yang naik kereta, naik kapal gitu. Dan waktu itu kayak lebih ke (suasana) macet. Konsep awalnya pertama kali banget itu idenya aku punya empat pemain yang emang stuck di jalan menuju mudik. Dan itu di jalan bisa berjam-jam. Jadi dialog di dalam mobil aja.

Ah itu di Pantura tuh pasti tuuh!

Adri: Nah itu di Pantura hehehe! Terus kita riset lagi tahun demi tahun situasinya makin berubah dan kita memang harus nyesuain juga sama ceritanya. Akhirnya kita ambil intisarinya ceritanya tentang dua karakter ini dengan tambahan dua karakter lain. Memang mudiknya di-highlights sebagai ambience dalam cerita si karakter-karakter ini sih.

Bingkai ya?

Adri: Iya.

Berarti menarik juga ya. Mudik dari tahun ke tahun budayanya shifting.

Adri: Iya. Dan memang dari zaman dulu juga kita tahun 90-an tuh yang benar-benar di satu kereta itu bisa numpuk-numpuk, 90-an akhir sampai 2000-an awal kayak gitu. Kita sempat riset masih macet banget, tapi makin lama makin berubah dan sebenarnya bukan tentang situasi mudiknya. Kalau film kan selalu tentang karakter.

Benar.

Adri: Ya jadi memang yang menghubungkan situasi yang sekarang dengan cerita ini ya si karakter-karakter tersebut.

Jadi memang saling bantu satu sama lain. Mudiknya nguatin karakternya, karakternya juga berkembang sedemikian rupa sampai nanti akhir filmnya. Sedikit deh, gue penasaran sama desanya. Kalian gimana survei-nya waktu itu?

Adri: Desanya seperti cari location lain. Kita scouting, yang memang kita tujuan akhirnya udah tahu mau sampai sana. Kita cari deh yang deket-deket sana. Memang desanya itu pernah dipakai syuting juga beberapa kali. Tapi kita ambil angle yang beda.

Seperti apa tuh?

Adri: Misalkan yang lain syuting di sana, kita syuting di sini.

Ohhhh beda spot-nya aja. Lebih eksploratif.

Putri: Tapi menarik banget sih ya desa itu. Desa itu tempat bikin arang.

Adri: Tempat bikin kayu bakar. Jadi kayak, setiap hari tuh selalu ada asap yang keluar, dia bakar kayu gitu dari sebuah tong semaleman. Pas dibuka paginya itu jadi arang. Saya agak lupa sih nama desanya tapi di daerah Gunung Kidul.

Oke. Sukses kalau gitu untuk nanti di Macau. Save flight, have fun di sana. Pokoknya harumkan nama Indonesia. Pastinya kita bangga sama kalian. Terima kasih udah datang ke Movfreak.

Adri & Putri: Thank you!

 

Film “Mudik” akan diputar di Macao International Film Festival and Awards pada tanggal 9 Desember 2019 pukul 19:15 waktu setempat di Small Auditorium Macao Cultural Center yang berkapasitas 389 kursi. Ini akan menjadi world premiere bagi “Mudik”, yang menggunakan judul international “Homecoming”. Rilis di bioskop Indonesia pada 2020 mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here