“I rescued George when he was two years-old. He’s not just a friend, he’s family.” – Davis Okoye.

Dilihat dari trailer filmnya, sekilas film ini mengingatkan kita akan King Kong atau Godzilla. Dengan sosok serba raksasa, tiga binatang sekaligus, yakni buaya, gorila dan serigala tampil dalam satu frame bersamaan dalam menghancurkan apa yang mereka lewati.

Engyne yang merupakan perusahaan swasta yang mempunyai spesialis dalam eksperimen genetika di luar angkasa ini mengalami malfungsi ujicoba serum yang menyebabkan hasil eksperimennya meledak di atmosfer bumi dan jatuh di ketiga tempat berbeda dan salah satunya berada di kandang George, seorang Gorila milik Kebun Binatang San Diego dan sehari-harinya diasuh oleh seorang ahli primata, Davis Okoye (Dwayne Johnson).

Gorilla albino berjenis ‘Silverback’ ini terkontaminasi sewaktu memegang pecahan serum tersebut dan mendadak susunan metabolisme dan fisiologis tubuh George berubah menjadi raksasa kurang dari 24 jam. Selain itu perilaku George pun menjadi buas dan susah dikontrol.

Tak hanya George, kedua serum itu jatuh ke Florida dan Utah dimana serigala dan buaya berubah menjadi raksasa dan mulai memangsa hewan di sekitarnya. Dr. Kate Caldwell (Naomi Harris) yang merupakan bekas kepala lab dari Engyne berusaha menjelaskan permasalahan tersebut ketika ia mendengar berita itu dari TV. Namun sebelum sempat menjelaskan, George yang sudah dikarantina terpisah dalam kandang raksasa, mulai berontak dan berusaha kabur dari kebun binatang.

Namun Agent Russell (Jeffrey Dean Morgan) menangkap mereka berdua dan membius George untuk diterbangkan ke pesawat. Yang tidak diketahui oleh Agent Russell adalah Claire Wyden (Malin Akerman), pemilik Energyne berusaha memancing ketiga makhluk itu dengan menggunakan antenna radio yang mereka miliki diatas gedung Energyne. Dan yang terjadi setelah itu adalah bencana yang akan membuat kita terpana hingga akhir.

Film yang ceritanya diadaptasi dari game arcade dan konsol tahun 1986 yang dibuat oleh Bally Midway dengan judul yang sama ini, sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh dari game-nya. Unsur destruktif yang mewarnai game ini memang menjadi jualan utama dari film berdurasi 113 menit ini. Kemiripannya pun patut mendapat pujian berarti, walaupun dalam versi normalnya, sosok buaya yang digambarkan di film itu sebenarnya di gamenya sendiri merupakan sosok kadal raksasa.

Dalam naskah yang dibuat oleh Ryan Engle (Non-Stop, The Commuter), Ryan J. Condal (Hercules) dan Carlton Cuse ini, film Rampage ini digarap dengan pendekatan ala film sci-fi pada umumnya. Suguhan ketegangan yang disusun dari menit pertama akan menuntun kita pada sosok persona George, yang dari awalnya merupakan gorilla albino jinak, perlahan bertransformasi menjadi seekor gorilla raksasa yang buas dan tak terkendali.

Begitu pula dengan penampakan binatang seperti serigala dan buaya yang digambarkan sangat berbeda dari film-film yang pernah kita lihat sebelumnya. Brad Peyton yang sebelumnya pernah membesut Dwayne Johnson dalam Journey 2: The Mysteriuos Island (2012) dan San Andreas (2015), tampil eksplosif dalam garapannya kali ini dengan menyuguhkan tampilan ketiga binatang itu dengan sangat hidup ketika memporakporandakan kota Chicago.

Buat Chillers yang menyukai film-film dengan sosok monster seperti Godzilla ataupun King Kong, akan menyukai film ini. Terlebih dengan pertarungan ketiga binatang monster itu yang belum pernah dilihat dalam film manapun. Film yang menegangkan ini dapat Chillers saksikan di bioskop-bioskop terdekat mulai 11 April 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here