Review Film ‘How to Train Your Dragon: The Hidden World’

147

There were dragons when I was a boy. Where they lived, only a few know. Our story changed the world forever. ” – Hiccup.

Januari 2019 baru berusia satu pekan, namun film-film besar sudah ada yang rilis duluan. “The Hidden World” merupakan film ketiga dari kisah “How to Train Your Dragon” dan film ini dirilis di Indonesia jauh sebelum perilisannya di Amerika. Menurut catatan IMDb, “The Hidden World” baru akan dirilis pada tanggal 22 Februari, tapi penonton Indonesia sudah bisa menyaksikannya mulai 9 Januari. “How to Train Your Dragon” sendiri merupakan franchise animasi yang terkenal. Unsur persahabatan antara manusia dengan naga, kemudian penampilan Toothless yang lucu membuat film ini selalu menarik perhatian masyarakat, terutama bagi keluarga.

Kali ini “How to Train Your Dragon” bercerita mengenai bangsa Berk yang sudah seratus persen dipimpin oleh Hiccup. Ia memimpin negara sekaligus membebaskan naga-naga yang dikurunh oleh penjahat agar bisa menghirup udara bebas di Berk. Perkerjaan membebaskan naga ini lancar-lancar saja pada awalnya. Namun, setelah semakin lama semakin terkenal sepak terjangnya, para bajak laut dan penjahat-penjahat lain mulai jengkel dengan Hiccup bersama teman-temannya. Mereka ingin melancarkan serangan balik. Di lain sisi, Hiccup yang baru menjadi raja juga dihadapkan pada masalah negara, yang mana belum terlalu familiar baginya. Kesemrawutan masyarakat, kemudian dorongan untuk segera memiliki ratu, membuat Hiccup pusing.

Sebagai film ketiga, cerita dari “How to Train Your Dragon” sebetulnya simpel. Tentang bagaimana kehidupan Hiccup dan Berk setelah anak muda ini full-charge sebagai pemimpin. Pertanyaan ini kemudian dipecah menjadi tiga layer, di mana layer utama adalah masalah yang ditimbulkan akibat sepak terjang Hiccup bersama teman-temannya sebagai pembebas naga. Kemudian layer berikutnya adalah tentang problem adaptasi Hiccup sebagai pemimpin bangsa yang baru. Terakhir, adalah layer yang paling otentik dari setiap kisah “How to Train Your Dragon”, yaitu tentang persahabatan antara Hiccup dan Toothless yang nantinya akan menemui tantangan yang sebetulnya tidak sulit, namun tetap menggigit.

Film secara runtut lalu menghubungkan setiap layer permasalahan dengan baik. Jika dilihat secara saksama, masalah utamanya memang muncul dari layer pertama karena dari sini lah datang musuh baru yaitu Grimmel (F. Murray Abraham). Karakter ini berjasa untuk menjadi penghubung antara layer. Grimmel yang cerdas, berpengalaman, dan lebih taktis dalam bertindak memanfaatkan Light Fury untuk melemahkan Hiccup secara tidak langsung. Dengan adanya Light Fury, maka layer pertama dan layer ketiga (tentang persahabatan Hiccup dan Toothless) bisa saling terhubung. Premisnya sederhana saja, bagaimana jika Hiccup yang baru menjadi raja, dipisahkan dari senjata utamanya? Sambil berjalannya waktu, konflik ini akan semakin membesar dan impact-nya terhadap layer kedua pun makin nampak. Hiccup harus membuat keputusan agar Berk, yang mulai diincar oleh penjahat, tetap aman.

Film kemudian menyuguhkan sesuatu yang klise. Sesuatu yang pasaran, di mana sudah sering ditampilkan dalam film-film fantasi yang lain, yaitu eksodus. Hiccup percaya bahwa ada sebuah dunia tersembunyi entah di mana, dan di sana ia dan rakyatnya dan juga naga-naga mereka bisa hidup aman. Seperti biasa, dunia antah-berantah ini ditemukan dari cerita orang lain. Dalam kasus “The Hidden World”, cerita tersebut datang dari mendiang ayah Hiccup. Sebuah arahan yang sudah biasa. Hanya saja, metode ini tidak lantas membuat film jadi drop karena itu tadi, keterkaitan antar layer membuat film ini memiliki daya pikatnya tersendiri. Lagi-lagi, Grimmel kembali diapreasiasi karena kecerdasannya. Lalu Light Fury yang membuat Toothless mabuk kepayang.

Jika membandingkannya dengan film kedua, “The Hidden World” kembali pada permasalahan mengenai Hiccup. Ia adalah seorang raja yang baru, lalu Toothless juga ternyata bertemu dengan seekor Fury lainnya. Ini jelas berbeda dengan film kedua, di mana film kedua lebih kepada perluasan cerita “How to Train Your Dragon” (HTTYD). Layer yang menyagkut ayah dan ibu Hiccup adalah layer antara Hiccup dan Toothless. So, dari sini saja sudah ketahuan ke mana cerita ingin diarahkan. Layer yang lebih emosional pada film kedua tidak menjadikan Hiccup sebagai spotlight-nya, dan di film ketiga, HTTYD kembali menampilkan Hiccup pada marwahnya, mengingat tuntutan naratif juga sudah berbeda.

Bagaimana dengan klimaksnya? Well, film ketiga lebih heartwarming jadi kalian bisa siapkan tisu terlebih dahulu. Akibat dari keputusan Hiccup berbuntut panjang pada hubungannya dengan Toothless, pada masa depan Berk, dan pada pertaruhan kapasitasnya sendiri sebagai seorang pemimpin. All in one. Hal ini bisa kita lihat dan rasakan perkembangannya seiring berjalannya waktu, yang pada akhirnya membuat cerita dari film menjadi lebih mature. Apa yang dikatakan oleh ayahnya Hiccup di film sebelumnya betul-betul terjadi pada Hiccup sendiri. Hanya saja, film membuat keputusan yang oke setelah menguras air mata penontonnya habis-habisan, sehingga kita bisa terharu kemudian tersenyum melihat persahabatan yang begitu genuine antara manusia dengan naga.

Untuk Grimmel, dari tampilan luarnya saja sudah terlihat bahwa ia adalah tipe antagonis yang tidak sekasar antagonis di film sebelumnya. Seperti yang ditulis sebelumnya, Grimmel lebih taktis orangnya. Ia berusaha untuk memancing lawan, kemudian melihat apa yang lawan lakukan lalu mengambil tindakan. Grimmel menyukai perang psikologis dan itu ia tunjukkan dengan jelas sebelum film memasuki turning point pertama. Tahu bahwa Berk dipimpin oleh seorang “bocah”, Grimmel berusaha mengintimidasi Hiccup. Usaha ini berhasil hingga ia membangun rencana berikutnya. Sayang, Grimmel memiliki kelemahan. Ia tidak mengetahui seberapa erat persahabatan antara Hiccup dan Toothless. Tergambar dari dialognya yang memang terlahir sebagai pembunuh naga dari kecil, Grimmel hanya berpikir satu arah saja. Yang penting Hiccup dan Toothless terpisah secara halus.

Kekurangan dari “The Hidden World” ada ketika menjelang akhir. Tidak seperti bagaimana mereka membangun konflik demi konflik yang dihubungkan dengan baik, tahap konfrontasi justru terlihat kering, meski tetap ada saja yang bisa bisa membuat penonton geregetan. Masalah preferensi akan muncul di midpoint, di mana film menunjukkan bahwa Hiccup saat itu lebih mementingkan naganya dibanding warganya. Iya sih, ada yang belum ditunjukkan ketika itu dan film harus menunjukkannya. Toh juga setelah ditunjukkan pun, kita tidak akan merasa rugi karena visual yang tampil di layar begitu fantastis. Tapi, bagaimana film menghubungkan kembali Hiccup dan Toothless masih terkesan dipaksakan. Apalagi adegan yang muncul setelahnya. Mengejutkan, tapi ya itu, di sisi lain juga terlihat cukup maksa. Adegan ini seperti sengaja diadakan untuk memfasilitasi final battle filmnya. Kurang natural.

Kemudian di sisi lain, film memiliki resiko yang besar ketika menaikkan status konfliknya. HTTYD 3 memanfaatkan komedi sebagai bumbu utama, yang mana diperagakan dengan luar biasa oleh karakter Ruffnut (Kristen Wiig). Bagi yang sudah menonton film sebelumnya, gaya Ruffnut tentu sudah mereka mengerti sehingga saat melihat scene ini, akan tertawa. Tapi taruhannya adalah bagi penonton baru. Ruffnut, yang memang bukan karakter besar, memiliki karakter yang unik. Penonton baru harus segera menyadari hal ini. Karena jika tidak, bisa saja bumbu humor yang ada di bagian yang bersangkutan tidak sampai akibat, mungkin, perasaan jijik atau simpelnya belum masuk sama karakternya.

Lalu mengenai final battle. Sama seperti bagaimana mengolah cerita, HTTYD 3 juga menyajikan peperangan yang hanya mementingkan Hiccup saja. Penonton yang sudah berinvestasi pada hubungan Hiccup dan Toothless pasti akan memerhatikan bagian ini, lebih kepada bagaimana keterkaitan mereka berdua di dalam final battle. Apa yang akan terjadi di sini dan apa implikasinya terhadap relationship Hiccup dan Toothless. Anyway, Light Fury juga masih memegang peranan penting. Hanya saja, jika melihat dari segi spasial, perang ini tidak semegah film kedua yang terlihat lebih masif. Medan yang digunakan tidak memungkinkan untuk sebuah peperangan dalam skala sangat besar. Kita tidak akan melihat pertarungan epik semacam duel antara dua alfa naga Bewilderbeast. Peperangannya dibuat lebih singkat, dibumbui komedi, dan diakhiri oleh pertaruhan hidup dan mati.

Meski begitu, “The Hidden World” sukses mengeksploitasi keunikan filmnya sehingga menghibur kita secara maksimal. Ada dua aspek yang kita bicarakan di sini, yaitu aspek hubungan antara Toothless dan Light Fury, kemudian visual dari The Hidden World. Sebelum masuk ke hubungan Toothless dan Light Fury, penonton akan dibuat terkesima oleh penampilan dari Light Fury itu sendiri. Berwarna putih bersih nan mulus, Light Fury akan langsung menawan kita dari sorot matanya yang berwarna biru muda. Bagian mata Light Fury memang dibuat berbeda dengan Toothless, di mana Light Fury memiliki bentuk mata yang lebih cekung sehingga sekali menatap kita akan langsung jatuh cinta. Terlihat sekali karakter yang misterius dan mature dari sana. Kemudian jika ini dikombinasikan dengan gerak-geriknya, Light Fury merupakan representasi dari wanita berparas cantik dan berprilaku anggun.

Bagaimana hubungannya dengan Toothless? Well, layaknya hewan, jika memasuki musim kawin maka akan terjadi sebuah proses di mana salah satu dari mereka berusaha untuk menarik perhatian. Toothless punya pacar? Itu bukan tidak mungkin, kawan. Dan di sini film berhasil membuat penonton tertawa. Bagaimana Toothless belajar untuk dapat memikat hati Light Fury, kemudian bagaimana ketika ia mempraktikkannya, sungguh menghibur sekali. Tanpa disadari, kecanggungan dan kebodohan Toothless juga relevan dengan apa yang biasanya dihadapi. Tepatnya adalah ketika kita sedang naksir sama orang. Pasti ada saja saatnya kita jadi salah tingkah, dan akhirnya apa yang kita perbuat bisa membuat malu diri sendiri. Cerita seperti ini coba ditampilkan dalam bentuk hubungan Toothless dan Light Fury. Hasilnya? Mantap. Selain sukses memecah tawa, hal seperti ini membuat penonton bisa masuk ke dalam hubungan mereka berdua.

Lalu untuk tampilan visual di Hidden World. Oh my god, this is why the reason we watch a movie in cinema, especially in 3D format. Aspek sinematik sangat terwakili ketika film menunjukkan The Hidden World, mulai dari warna-warnanya, spectacle-nya, bagaimana bentuk dari dunia tersebut seperti apa, semuanya terlihat menakjubkan. The Hidden World, yang letaknya tersembunyi di balik air terjun ini, seperti memiliki dua tampilan berbeda yang sama-sama bagusnya. Tampilan pertama adalah saat kita baru memasuki dunia tersebut, di mana The Hidden World masih belum menunjukkan penghuni-penghuninya, kemudian bagian kedua, di mana dunia tersebut sudah nampak lebih hidup lagi. Dibandingkan dengan film kedua yang juga memiliki semacam tempat tersembunyi, Hidden World jauh lebih bagus lagi. Faktor surroundings yang ada di sana menjadi poin plus yang membuat Hidden World sangat outstanding.

Film ini benar-benar menjadikan Hiccup sebagai pusat perhatian. Kedudukan baru, situasi baru, keadaan baru bikin anak muda ini semakin terasah untuk menjadi seorang pemimpin dalam usia yang masih relatif muda. “The Hidden World” menyajikan problematika Hiccup yang naik ke level yang lebih tinggi. Walaupun saat-saat yang harusnya megah ternyata tidak tampil agak diluar ekspektasi, namun itu dibalas oleh akhir yang sangat berarti. Kami tidak ingin membicarakannya lebih jauh tapi jika “The Hidden World” adalah film terakhir dari franchise “How to Train Your Dragon”, maka sutradara Dean DeBlois dan tim sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Director: Dean DeBlois

Starring: Jay Baruchel, America Ferrara, Cate Blanchett, Gerrard Butler, Jonah Hill, Christopher Mintz-Plasse, Kristen Wiig, Kit Harrington, Olafur Darri Olafson, F. Murray Abraham, Justin Rupple, Craig Ferguson

Score: 8.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here