Review Film ‘The Lego Movie 2: The Second Part’

“Emmet, you’ve gotta stop pretending everything is awesome. It isn’t.” – Wyldstyle.

Mereka terus berdatangan. Itu lah kata-kata yang bisa menggambarkan intensitas film-film Lego di bioskop. Mulai dari rilisnya “The Lego Movie” di tahun 2014 yang lalu, franchise ini secara konstan berhasil menghibur penonton yang datang. Tidak terlalu sering memang, namun kehadiran film-film Lego cukup bisa membuat kita tidak merasakan bahwa “Lego Universe” ternyata sekarang sudah memasuki film keempatnya dan semua itu bisa diwujudkan dalam kurun waktu lima tahun saja.

Sedikit flashback, meski tampil dengan cerita yang standar dengan menggunakan formula “from zero to hero”, “The Lego Movie” mempertontonkan teknik animasi dengan gaya sinematik yang baru. Gaya sinematik yang sangat khas dengan citra mainan Lego sehingga apa yang tampil di layar menjadi sesuatu yang fresh. Sayang, dobrakan ini belum cukup untuk membuat “The Lego Movie” masuk nominasi “Best Animated Feature” di Oscar 2015. Mereka kalah bersaing dengan film-film yang, mungkin, di mata para juri lebih bermakna.

Melihat itu, “The Lego Movie 2” menjadi ladang pembuktian bagi pendewasaan diri “The Lego Movie”. Masih diisi oleh teknik animasi, karakter-karakter, gaya bercanda dan juga konsep cerita yang sama, “The Lego Movie 2” coba memberi sesuatu yang terlihat tidak pasaran dan hal ini tentunya menarik perhatian.

Disutradarai oleh Mike Mitchell yang sebelumnya terlibat dalam film-film animasi blockbuster seperti “Shrek Forever After” dan “Trolls”, kini di “The Lego Movie 2” menceritakan dunia Lego yang menyerupai dunia “Mad Max”. Benar-benar sebuah dunia yang kelihatan tandus, kering, suram dan hampa. Hingga suatu ketika datang sesosok alien yang ingin membawa lima Lego pemimpin untuk menghadiri sebuah pernikahan di semesta lain.

Jagoan dari film pertama, yaitu Emmet (Chris Pratt) tentu tidak memenuhi persyaratan sebagai “pemimpin” tersebut. Ia dinilai terlalu lemah. Maka ia ditinggal sendirian sementara teman-temannya seperti Wyldstyle (Elizabeth Banks) dan Batman (Will Arnett) terpaksa pergi. Emmet yang sebelumnya mendapatkan mimpi buruk berpendapat bahwa kepergian Wyldstyle dkk bisa berpengaruh buruk bagi dunia mereka. Untuk itu Emmet nekat pergi ke semesta lain sendirian.

Apa yang menjadi twist di film pertama kini telah menjadi sesuatu yang ditampilkan mulai dari pertengahan cerita. Ini jelas berkaitan dengan konsepnya, di mana keunikan aspek naratif film “The Lego Movie” terletak pada bagaimana caranya mereka menggabungkan antara apa yang terjadi di dunia Lego dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Film tidak keluar dari kodrat Lego yang merupakan mainan yang dirakit oleh manusia, sehingga ini menimbulkan semacam simbiosis antara perkembangan dari yang punya mainan Lego dengan bagaimana tampilan dunia Lego yang akan kita lihat nantinya.

Dunia Emmet yang tadi ditulis tandus, dan nampak layaknya “apocalypse” merupakan metafora yang cerdas untuk menggambarkan perkembangan sang pemilik yang mulai beranjak dewasa. Nah, seperti yang kita tahu, adulthood adalah fase yang tidak jarang berhubungan dengan sesuatu yang, well, kurang menyenangkan.

Masalah demi masalah membuat hidup terasa pahit. Apa yang jadi preferensi juga ikut berubah seiring berjalannya waktu. Lebih grounded sampai mengacuhkan kegembiraan dan mimpi. Film kemudian menangkap hal tersebut secara cermat dan mengembangkannya di tahap konfrontasi lewat konflik yang terjadi antar pemilik.

Arahan seperti ini sebetulnya memiliki kelemahan yang besar. “The Lego Movie 2” punya tahap konfrontasi yang jika dilihat dari luarnya saja amat sangat aneh dan dipertanyakan. Absennya poin sebab-akibat menyebabkan konflik yang tersaji begitu tipis. Hanya misi penyelamatan yang jika gagal imbasnya juga masih belum meyakinkan. Selain itu, transisinya juga terjadi dengan cepat.

Penonton masih berusaha mencerna keadaan baru di dunia Lego namun semua langsung berubah “from bad to worse” begitu cepat. Terakhir, mengenai konflik utama yang tersaji dengan jelas. Man, seriously? Kalian menunjukkan pernikahan di film ini? Untuk ukuran film yang menyasar anak-anak, isu pernikahan bukan lah pilihan yang tepat.

Tapi, ada satu hal yang membuat tahap awal konfrontasi ini jadi penasaran. Di sini ada shot yang menunjukkan dinamika yang terjadi antara pemilik lego yang ada di rumah. Shot demi shot yang menunjukkan kondisi yang berbeda membuat kita mikir, apa yang sebenarnya diingikan oleh film ini. Semua akan terjawab di bagian akhir tahap konfrontasi, terutama untuk satu poin mengenai penceritaan yang terlampau jauh. Film mulai bermain-main dengan metafora.

Apa yang ada di konflik dunia nyata dengan apa yang ada di dunia Lego bisa disambungkan lewat satu metafora sederhana. Poin ini jelas sukses memutarbalikkan cerita yang awalnya terlampau mudah, kurang variatif, “one dimensional”, dan lain-lain. “The Lego Movie 2” ternyata tidak sereceh itu. Bagi penonton dewasa atau bapak-bapak yang terpaksa nemenin anaknya nonton, ketika melihat penceritaan dua sisi seperti ini bisa jadi akan tersenyum karena ada yang mengejutkan dari segi cerita dan membuat tontonan jadi tidak membosankan.

Apakah ini tandanya cerita dari sang pemilik lebih menarik dibanding cerita dari Emmet? Well, ada beberapa hal yang mesti dicermati jika berbicara mengenai ini. Titik krusial dari cerita macam itu adalah film harus dapat membuat eksposisi dari armamageddon menjadi kuat karena armamageddon adalah kemungkinan terburuk yang tidak diinginkan oleh pihak manapun.

Selain itu, harus ada alasan logis mengenai armamageddon, baik jika dilihat dari sisi fantasi maupun sisi dunia nyata, dan dua hal itu mesti berhubungan layaknya mereka mengaitkan konflik demi konflik dalam sebuah metafora. Apakah “The Lego Movie 2” berhasil melakukannya? Yup, mereka berhasil.

Sama seperti apa yang mereka lakukan di tahap awal dan pertengahan sesi konfrontasi, tahap akhir juga ditutup dengan baik dari kedua sisi. Keduanya masih nyambung dan semakin menguatkan kedudukan dari bencana terbesarnya.

Aspek metafora dalam cerita berjalan beriringan dengan aspek kedua yang membuat narasi “The Lego Movie 2” bukan sekedar narasi ecek-ecek. Aspek tersebut adalah adanya unsur ruang waktu. Sangat berisiko untuk berbicara mengenai “time looping” seperti ini.

Yang bisa diberikan hanyalah informasi bahwa hal yang berkaitan dengan ruang waktu ditempatkan sebelum film memasuki turning point kedua. Di kala kita sudah semakin yakin, film langsung membuka salah satu poin cerita yang awalnya memanfaatkan batasan informasi tertutup.

Timing-nya sangat tepat karena tidak hanya diletakkan secara pas, namun kedudukannya saat itu juga sudah kuat.

Mengapa? Simpel, karena ada satu karakter pendukung dan sepanjang perjalanan film ini menggoreng karakter tersebut dengan baik. Berkaitan dengan cerita, backstory dan value yang dibawa oleh karakter ini membuat penonton bisa berinvestasi padanya dan ketika hal tesebut dijadikan senjata untuk menunjukkan adanya ruang waktu, ruang waktu tersebut menjadi variasi yang lebih berisi.

Kelemahannya? Ruang waktu semacam ini rentan dengan bahaya “plot hole”. Film ini mengalami sedikit keanehan terkait itu. Bukan dengan urutan waktunya, melainkan kesesuaiannya dengan konsep yang sudah ada.

Untuk unsur sinematiknya, “The Lego Movie 2” tentunya mengedepankan kembali teknik animasi ala stop-motion yang dirasa sesuai dengan tuntutan naratif. Lego tetap sebuah mainan yang tidak mungkin gerakannya bisa seluwes karakter animasi pada umumnya.

Terlihat, realisme ini ditunjukkan ketika ada adegan yang menggambarkan Emmet sedang merayap. Apakah mainan Lego bisa merayap? Oh tidak bisa. Tapi apakah tidak merayap membuat filmnya jadi kurang bagus? Lho, justru dengan pendekatan seperti ini jadinya makin asik nontonnya. Selain itu, ada juga teknik-teknik animasi lainnya yang digunakan secara tepat di film ini.

Ketika narasi adalah Emmet sedang berada di luar pintu dunia Lego-nya, maka animasi yang muncul adalah animasi yang dibuat untuk meyakinkan tuntutan naratif tersebut. Meyakinkan bahwa terjadi sebuah penyesuaian karena Emmet sedang dalam proses memasuki semesta baru.

Selain itu, berbicara mengenai film Lego pasti erat kaitannya dengan referensi film-film lain. Ini jadi salah satu keunggulan sekaligus cara film dalam melucu. Di “The Lego Movie 2” referensi tersebut tetap ada, dan bagusnya lagi ada referensi yang ditaruh lebih dari sekedar “cameo”.

Referensi ini dimasukkan dalam unsur naratif film, di mana karakter Lucy diceritakan sedang berusaha kabur dari musuh. Di sini ia akan bertemu dengan sosok yang, jika dilihat dari mise-en-scene yang ada, sangat dikenal.

Tidak hanya aktornya, namun juga tokoh yang ia perankan dan film yang dimaksud di momen tersebut. Lucu deh pokoknya! Masih di scene yang sama, film memanfaatkan elemen pokok suara.

Berdasarkan tuntutan naratif di mana Lucy sedang mencari jalan keluar, ada saatnya ia membuka beberapa pintu. Di sini kita bisa mendengar adegan memainkan elemen “loudness”. Seorang sineas dapat mengontrol volume suara sesuai dengan kebutuhan serta tuntutan cerita.

Masih berkaitan dengan suara, ada kalanya film yang erat kaitannya dengan dunia fantasi seoerti ini menunjukkan realisme berikutnya, dan itu terasa cukup menyegarkan. Berkaitan dengan referensi film yang pernah dibintangi oleh salah satu aktor utamanya, “The Lego Movie 2” menggunakan bahasa bicara yang jelas bukan merupakan bahasa Inggris bagi beberapa makhluk Lego yang tidak berbentuk manusia, atau yang bukan menyerupai manusia. Ini jelas menjadi pencantuman referensi selanjutnya yang termasuk baik.

Hanya penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa induk tetap dimanfaatkan secara ekstensif karena genre film adalah genre fantasi. Tetap ada juga kok karakter yang jelas-jelas bentuknya tidak mendekati manusia, tapi ngomongnya tetap “english”. Salah satunya adalah karakter baru bernama Watevra Wa’Nabi yang dialihsuarakan oleh komedian Tiffany Haddish.

Khusus buat Watevra Wa’Nabi, ada beberapa plus-minus yang wajib dibahas. Jujur, wujud dari karakter ini tidak jelas. Sesuai namanya yang terkesan maksa, Watevra Wa’Nabi bisa mengubah-ubah bentuk sesuka hatinya dia.

Ibarat kata, dia semacam lilin plastisin versi Lego dan Lego-nya sendiri terlihat memiliki bentuk bricks yang berukuran lebih besar dan gembrot. Tapi, meski wujudnya tidak bagus menjurus (maaf) jelek, kisah dari Watevra bukan sesuatu yang bisa dilewatkan begitu saja.

Relationship yang terjalin antara dirinya dengan salah satu karakter penting dari franchise Lego menyiratkan sesuatu. Memang sih, awal dari relationship ini sangat instan, namun apa yang dibangun setelahnya cukup ‘worth-to-watch-and-care-about’. Mengapa? Karena terdapat value berikutnya di sini, yaitu mengenai pasangan hidup.

Fisik itu bukan yang utama, melainkan rasa pengertian yang ditunjukkan olehnya pada kita. Karakter yang menjadi “love interest” Watevra jelas membutuhkan pengertian semacam ini.

Untuk sesi ketawa-ketiwinya, agak disayangkan “The Lego Movie 2” masih belum berhasil membuat penontonnya benar-benar tertawa. It’s just gigles, you know. Jika dibandingkan dengan film-film Lego yang lain, masih kalah jauh dengan film “The Lego Batman”-nya Will Arnett.

Jokes-nya banyak yang kurang lucu, atau mengambil referensi yang terlalu jauh sehingga kita sulit untuk mengerti apa maksud dari lawakan yang diucapkan. Kemudian lagu-lagunya juga di awal banyak yang  meski begitu, keunggulan film ini memang bukan terletak di sana.

Keunggulan “The Lego Movie 2” terletak di cara mereka bercerita dan apa efek yang ditimbulkan dari sana. Mereka berani untuk mematahkan jargon “Everything is awesome” menjadi sesuatu yang lebih “awesome” lagi.

Film ini begitu manis. Tidak hanya dilihat dari efek dari konfliknya, namun juga dilihat dari nilai yang dibawa. Bahwa menjadi dewasa tidak seburuk atau se-tidak enak yang diduga sebelumnya. Kita masih tetap bisa merangkul apa yang kita suka, atau mewujudkan mimpi tanpa mengubah diri sendiri menjadi seseorang yang bukan lah diri kita yang sesungguhnya.

 

Director: Mike Mitchell

Starring: Chris Pratt, Elizabeth Banks, Alison Brie, Tiffany Haddish, Will Arnett, Stephanie Beatriz, Nick Offerman, Charlie Day, Maya Rudolph

Duration: 106 Minutes

Score: 8.3/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here