“You don’t read the book, the book reads you” – Stella Nicholls.

Bisa dikatakan semenjak kesuksesan masif yang didapatkan oleh “Hellboy” (2004) dan “Pan’s Labyrinth” (2006), sosok sineas beraliran sci-fi/horor, Guillermo del Toro, telah sukses mendapatkan kepercayaan penuh dari seluruh audiens.

Maksudnya disini, layaknya seperti karya milik Wes Craven (A Nightmare on Elm Street) atau James Wan (The Conjuring), audiens pastinya akan langsung berbondong-bondong menyerbu teater setiap kali karya melihat namanya tercantum di promosi filmnya.

Hal ini tentunya dikarenakan sineas berkacamata ini memang sangat jenius dalam menceritakan sekaligus menampilkan kisah horornya terlepas kisahnya yang sarat akan imajinasi.

Bahkan ketika hanya menjadi produser pun (seperti hal nya film ini), Del Toro masih saja sukses dalam menyuntikkan formula kengerian khas nya itu.

Dan melalui karya terbarunya yang diadaptasi dari seri horor anak karya Alvin Schwartz dan disutradarai oleh Andre Ovredal (The Autopsy of Jane Doe) ini, pria asal Guadalajara, Mexico ini semakin sukses membuktikan pernyataan tersebut.

Berlatar di Mill Valley, Pennsylvania, AS tahun 1968, murid SMA sekaligus penulis kisah horor amatir, Stella Nicholls (Zoe Colletti) bisa dikatakan memiliki kehidupan remaja yang agak menyedihkan.

Ia adalah sosok introvert yang hanya tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai Deputi Polisi (Dean Norris) dan hanya memiliki dua sahabat akrab: Austin (Chuck Steinberg) dan Auggie (Gabriel Rush).

Dengan predikat ketiganya yang serupa (nerdy teens), tak mengherankan apabila mereka kerap di-bully oleh kelompok Tommy Milner (Austin Abrams). Walau demikian, toh ketiganya tetap asyik-asyik saja menjalani kehidupan mereka.

Namun semuanya berubah total ketika malam Halloween tiba. Dikarenakan ingin mendapatkan experience Halloween yang tidak terlupakan, Stella bersama kedua sahabatnya tersebut dan sahabat barunya, Ramon Morales (Michael Garza), berinisiatif ke rumah besar tua yang dulu dihuni oleh keluarga Bellows di tahun 1800-an.

Sesampainya disana, Stella menemukan buku harian tua milik putri keluarga Bellows, Sarah (Kathleen Pollard). Ketika dibuka, ternyata bukunya berisikan curhatan serts kisah-kisah seram yang ditulis oleh Sarah.

Dikarenakan dirinya yang penulis horor, Stella lantas membawa pulang bukunya. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa buku harian tersebut memiliki kekuatan supranatural yang sangat kejam.

Spesifiknya, halaman buku secara otomatis, menuliskan kisah-kisah mengerikan yang kemudian berubah menjadi kenyataan. Lebih mengerikannya, setiap kisah yang tertulis di buku, dipastikan langsung mengancam nyawa Stella dan orang-orang disekitarnya.

Dan kini, ia dan Ramon mau tak mau, harus mencari cara untuk menghentikan torehan tinta kisahnya sehingga, tidak timbul lagi korban-korban yang berjatuhan. Berhasilkah mereka?

Seperti yang telah dikatakan di awal, Del Toro memanglah salah satu sosok sineas yang memiliki passion dan visi creepy yang sangat unik. Alias, ia lebih menyukai film horor yang berbau monster atau mahluk halus yang memiliki tampang yang tidak terlalu menyeramkan.

Namun kerennya, ia masih sukses saja mencari formula yang pas agar membuat kita yang menyaksikan merinding dan tentunya “sport jantung” tanpa henti.

Dan di film ini yang notabene menampilkan sosok Sarah yang sudah menjadi kunti, orang-orangan sawah, dan berbagai jenis monster lainnya plus, sekali lagi disini ia hanya menjadi “pembimbing” bagi Ovredal, pria 54 tahun ini masih keren saja dalam melakukan yang telah disebutkan tersebut.

Bohong banget apabila kita mengatakan tidak ketakutan di sepanjang 108 menit filmnya. Schwartz dijamin akan merasa bangga sekali bahwa monster-monster karyanya bisa divisualisasikan dengan keseraman yang semaksimal demikian.

Aspek lain yang dijamin akan membuat sang pencipta juga bangga adalah Del Toro dan Ovredal, mampu bekerjasama dengan baik.

Hal ini terbukti melalui keduanya yang sukses dalam menggabungkan elemen-elemen di beberapa kisah novel aslinya dengan sangat baik tanpa mengganggu tanpa mengganggu fokus plot utama yang disajikan (seperti adaptasi Goosebumps-nya Jack Black).

Di saat yang sama, tentunya kita tidak boleh meninggalkan juga aspek sound editing dan sound mixing dari film ini terutama editing. Kemampuan brilian dari tim penyunting suara film ini patut diacungi jempol. Karena mereka mampu menyelaraskan dengan sangat baik tensi film yang ditampilkan dengan apa yang akan kita rasakan.

Jadi jangan kaget apabila di ajang penghargaan Oscar 2020 mendatang, film ini akan menggaet nominasi di kedua departemen tersebut. Kesemua aspek keren ini semakin diperkuat dengan penampilan akting keren dari seluruh pemainnya.

Perlu diingat bahwa sebagian besar cast di film ini tidaklah begitu terkenal. Namun dijamin setelah tampil di film ini, nama mereka akan langsung melesat di Hollywood layaknya seperti para pemain serial TV sci-fi hit, Stranger Things.

Bisa dikatakan setiap aktor nya menampilkan performa yang sama baiknya. Tidak ada yang terlalu mendominasi dan juga, tidak ada yang benar-benar buruk. Justru kekurangan terdapat di pengembangan karakter.

Kita akan bingung melihat bagaimana karakter yang ada ini terbangun. Padahal hampir seluruh karakter utama terutama Stella, memiliki arc latar karakter yang sangat keren nan kompleks. Ruang untuk mengeksplorasi lebih jauh terhadap penyebab pisahnya kedua orang tuanya sangatlah lebar.

Bahkan latar belakang Tommy sebagai seorang bully saja bisa dieksplor lebih luas lagi. Namun yang ada justru kita hanya mendapatkan pengembangan karakter yang “ala kadarnya”atau hanya sebatas kulit luarnya saja.

Mungkin aspek kekurangan ini memang disengaja oleh Del Toro dan Ovredal sehingga, tidak terlalu mengganggu aspek horor yang ditampilkan. Kalau memang demikian, well mungkin kami memaklumi. Pasalnya ini bukan kali pertamanya Del Toro mengelakkan aspek ini (ingat Mama?).

Selain aspek tersebut, aspek kekurangan lainnya adalah mungkin bagian ending-nya yang selain standar sekali, namun juga terasa sangat anti klimaks. Terdapat keputusan yang menurut kami Del Toro dan Ovredal salah ambil.

Walau demikian, “Scary Stories to Tell in the Dark” adalah sajian adapatsi Del Toro yang sangat sukses. Mungkin bagi sebagian fans buku anak aslinya, merasa tidak terlalu greget.

Tapi secara keseluruhan sekali lagi, Del Toro semakin sukses membuktikan bahwa ia memang adalah sosok sineas yang dapat dipercaya oleh audiens apabila ingin menyaksikan film horor monster atau horor sci-fi yang scary fun dan berkualitas tinggi.

Bagi yang belum menyaksikan, mungkin ada baiknya Chillers men-cek film ini. Dijamin walau kamu bukan fans horor, karya-karya Ovredal, atau tentunya Del Toro, akan masih bisa enjoy dengan filmnya ini.

 

Director: Guillermo Del Toro

Starring: Zoe Colletti, Michael Garza, Gabriel Rush, Austin Abrams, Kathleen Pollard, Javier Botet

Duration: 108 Minutes

Score: 7.8/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here