Abi (Jefri Nichol) seorang mahasiswa yang sekolah di London, Inggris, seringkali mengalami mimpi buruk, dimana ia mendapat mimpi-mimpi yang tidak bisa ia jelaskan. Setelah berkonsultasi dengan psikolog bersama ayah ibunya, sang dokter menyarankan agar ia balik kembali ke Indonesia, siapa tahu ia mendapat jawaban dari bayangan mimpi yang ia gambarkan lewat sketsa tersebut.

Sekembalinya ke Indonesia, Abi tinggal di rumah sepupunya yang menolongnya mencari gambaran sketsa Abi di Jakarta. Dan akhirnya ketemulah, gedung yang menjadi gambaran sketsa Abi. Di pintu depan SMA Kebangsaan inilah kisahnya dimulai. Sekelebat bayangan menyerupai Abi menghampiri lewat kaca majalah dinding yang terpasang di tembok sekolah.

Scene kemudian mulai bergeser cepat ke Gema, siswa kelas 2 SMA Kebangsaan yang mempunyai rupa seperti Abi. Di sekolah itu, Gema sedang tergila-gila kepada Maya (Amanda Rawles), siswi kelas 2 juga. Bedanya adalah, kalau Maya ada di kelas unggulan, sedangkan Gema tidak. Namun Maya mulai melihat sisi lain dari Gema. Ia bukan sekedar cowok iseng dan lebay yang ingin memacarinya. Ia sungguh-sungguh ingin dekat dengan caranya sendiri, akhirnya mereka berdua pun semakin dekat dan tak terpisahkan.

Setelah menyatukan janji lewat surat proposal yang diajukan Gema dan ditandatangani mereka berdua, keduanya menyatukan impian dan janji untuk seterusnya bersama. Janji dua anak remaja yang seringkali dianggap sebatas cinta monyet. Tapi sayangnya, ini bukan cinta monyet, justru ini cinta sesungguhnya yang nantinya akan bergulir dramatis hingga muncul Laras, sesosok perempuan yang akan membuka takdir di balik kegelisahan Abi selama ini.

Film yang digarap oleh Asep Kusdinar (I Love You from 38000 Feet, One Fine Day) ini memang mempunyai tipikal film remaja percintaan yang sudah banyak beredar di pasaran. Perbedaan yang menarik justru ada di ending scene yang tak biasa dan menyisakan misteri terselubung, apakah film ini akan berlanjut dalam sekuel atau berhenti di sini saja.

Naskah yang dibuat oleh Titien Wattimena (Arini, Lima, Aruna dan Lidahnya) ini juga memberanikan diri memasukkan unsur reinkarnasi yang sebenarnya masih ditentang di sebagian masyarakat kita. Namun polemik dalam agama, bukanlah sesuatu yang ingin disinggung dalam review kali ini, justru unsur ini merupakan salah satu elemen menarik karena jarang diekspos.

‘Something in Between’ malah bergulir mulus dan tidak serta merta membuat film ini kehilangan rohnya. Romansa antara Gema dan Maya juga dipenuhi kelucuan antara karakter Gema yang cenderung impulsif, cuek dan kadang lebay kepada Maya yang memang terkesan wait and see, namun kekakuannya cair setelah melihat usaha Gema mendekatinya selama ini. Kehadiran Raka (Naufal Samudra), teman sekelas mereka yang  berusaha mendekati Maya juga selalu ditampiknya demi Gema.

Sebagai film remaja, tentu saja elemen komedi juga dimasukkan lewat karakter kepala sekolah, Pak Bagus (Slamet Rahardjo) dan petugas kebersihan sekolah, Pak Maman (Yayu Unru) yang memberi warna tersendiri di tengah usaha Gema mendekati Maya. Surya (Junior Liem), sebagai sahabat karib Gema juga tampil kocak dengan rambutnya yang berdiri dan terus memberi semangat kepada Gema. Tak ketinggalan ada cameo salah satu crew yang kehadirannya langsung mengundang gelak tawa.

Pada akhirnya, dalam film keenam yang dibintangi bersama oleh Jefri Nichols dan Amanda Rawles ini menegaskan kalau perjuangan mendapatkan cinta tak hanya dilihat dari umur belaka, namun usaha dan keyakinan kita kalau cinta itu dapat diraih dan dijalani dengan sungguh-sungguh, maka semua itu tak akan sia-sia.

‘Something in Between’ akan rilis serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 27 September 2018. Jadi Chillers tunggu saja kehadirannya sesaat lagi.

 

Director: Asep Kusdinar

Starring: Jefri Nichol, Amanda Rawles, Amara, Junior Liem, Surya Saputra, Djenar Maesa Ayu, Febby Rastanty, Naufal Samudra, Slamet Rahardjo, Yayu Unru, Dolly Martin, Chris Salam, Shirley Margaretha

Duration: 100 Minutes

Score: 7.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here