“The world needs the next Iron Man”. – Peter Parker.

Ketika Tony Stark aka Iron Man (Robert Downey Jr.) tewas secara tak terduga di “Avengers: Endgame” (2018), banyak dari kita yang merasa was-was. Tidak hanya terhadap kelangsungan rana sinematik Marvel (MCU) ke depannya, namun juga was-was terhadap si ‘anak didik’ Stark, Peter Parker aka Spider-Man (Tom Holland).

Wajar saja, pasalnya si jenius, playboy, dan biliyuner inilah yang pertama kali menemukan sekaligus mendidik Peter Parker untuk menjadi sosok superhero yang sesungguhnya. Lebih jauhnya, film perdana Spidey MCU, “Spider-Man: Homecoming” (2017), bisa dikatakan adalah film Iron Man 4 feat. Spider-Man.

Melihat kenyataan ini, tidak heran kalau nantinya di sekuel Homecoming ini, Peter akan terlihat kerepotan dan ‘baper’ sendiri di sepanjang film, akan membuat kualitas sekuelnya menurun.

Terlebih lagi, film ini keluar setelah antiklimaks Avengers tersebut. Jadi apakah “Spider-Man: Far From Home” memang mampu menjadi penutup fase 3 MCU yang menggelegar? Terlepas dari situasi galau yang sedang dirasakan Peter Parker.

Berlatar 8 (delapan) bulan setelah peristiwa di “Avengers: Endgame” (2019), Peter Parker masih dirundung kesedihan mendalam atas tewasnya sang mentor, Tony Stark yang terasa mengejutkan.

Parker merasa sendirian dan tidak berdaya apabila harus menjadi superhero seorang diri. Ia merasakan beban yang teramat berat apabila harus meneruskan tugas sekaligus wasiat yang ditinggalkan Tony kepadanya. Terlebih lagi, kini ia menjadi sosok yang populer di New York. Kegalauan satu belum usai, kegalauan lain muncul, terutama karena rasa sukanya terhadap teman sekelasnya, MJ (Zendaya).

Ia pun berniat untuk mengungkapkan isi hatinya di Paris, ketika ia bersama seluruh teman-teman sekelasnya akan melakukan study tour ke beberapa negara Eropa. Sayangnya semua rencana berubah total ketika monster-monster dari bumi lain (Earth- 833), tiba-tiba mengacau di beberapa negara Eropa.

Akibat peristiwa tersebut, Nick Fury menugaskan Peter dan partner barunya yang juga berasal dari bumi 833, Quentin Beck aka Mysterio (Jake Gyllenhaal) melawan monster-monster Elemental tersebut. Tak bisa menolak, mau tak mau Peter kini harus pintar-pintar membagi waktunya antara pikniknya dan waktunya bersama MJ.

Namun ketika kedua hal ini dijalankan, memang tak semudah yang Peter bayangkan. Ditambah lagi oleh kegalauannya, membuat mood Peter dalam melawan Elemental sangat terganggu. Dapatkah Peter mengatasi satu per satu masalahnya dan membuatnya kembali ke sediakala?

Setelah di film pertamanya, Iron Man menjadi sidekick dan mentor yang sempurna bagi Peter Parker yang masih ‘hijau’ dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk menghadapi musuh-musuh tangguh. Sosok Peter disini masih dibayang-bayangi oleh sosok Tony yang seolah-olah rohnya masih mendominasi sekuel ini dari awal hingga akhir.

Tapi untungnya, tidak seperti di Homecoming, dalam sekuel yang masih diarahkan oleh Jon Watts ini, kehadiran Tony Stark/Iron Man hanya sebatas ditampilkan sebagai inspirator ‘bayangan’ yang namanya kerap disebut karena apa yang ia wariskan, baik kepada Peter maupun orang lain. Dengan kata lain, sekuel ini benar-benar menampilkan perjalanan dan juga pendewasaan Peter sebagai si manusia laba-laba. Jadi yap, kabar baik bagi kalian yang dulu mungkin kecewa berat dengan Homecoming, dan lebih mendambakan sosok Peter Parker bermain di film solonya sendiri .

Untuk ceritanya sendiri, sekuel ini mengalami peningkatan yang termasuk signifikan. Naskah yang kembali ditulis oleh duo Chris McKenna dan Erik Sommers ini terlihat benar-benar mendengar keluhan utama yang diutarakan para fans di Homecoming dulu yang kini memberikan naskah yang benar Spidey-centric dan pastinya, benar-benar “Comic-booky”.

Kepiawaian Jon Watts kini terlihat dalam mengadaptasi naskah ini dan sukses menghadirkan adegan action yang lebih menggelegar dan powerful. Scene-scene dengan angle yang sangat dinamis membuat sinematografi ‘Far from Home’ ini terlihat mind-blowing, totally fresh, benar-benar terlihat seperti di komik atau film/serial animasi Spider-Man kebanyakan.

Bahkan lebih jauhnya, bagi kita yang memang fans Spidey dan Mysterio, dijamin akan merasa puas, terutama ketika Spidey terlibat salah paham dan harus bertarung dengan Mysterio, tampilan pertarungan optikal ilusi dengan skala ekstensif yang sangat impresif dan memukau.

Oh ya, ngomong-ngomong Mysterio, sosok yang terlihat biasa-biasa ini ternyata tampil di luar ekspektasi. Wow! Pandangan skeptis yang muncul saat casting menunjuk Jake Gyllenhaal sebagai ahli spesial efek ini ternyata tampil apik dan luar biasa.

Memang di beberapa filmnya terdahulu, ia juga pernah memerankan sosok villain dengan cukup sukses (lihat kembali penampilan mencekamnya sebagai Louis Bloom di “Nightcrawler” – 2014). Tapi Mysterio bukanlah villain familiar real-life. Ia adalah karakter ikonik yang telah dicintai fans selama 6-7 dekade terakhir.

Dan faktanya, Kevin Feige dan Jon Watts memang tidak salah pilih. Bahkan bisa dikatakan, adalah Gyllenhaal yang menghidupkan sebagian besar film ini. Interaksinya dengan Holland pun juga terasa sangat natural dan heartfelt. Saking kerennya, kita sampai lupa kalau latar belakang atau motif Quentin Beck versi MCU ini jauh berbeda dari komiknya.

Buat kamu yang masih awam dengan karakter villain ini, Mysterio pertama kali muncul di komik The Amazing Spider-Man #13 yang terbit Juni 1964. Kalau di komiknya ia menjadi villain setelah kerap gagal melamar menjadi ahli spesial efek di Hollywood, maka motif Mysterio versi Far From Home sedikit berbeda, dikarenakan motif dendam kesumat dengan salah satu pentolan Avengers dan Jake Gyllenhaal memang terasa pas dalam memerankan karakter Mysterio ini.

Selain dengan Gyllenhaal, chemistry Holland dengan Zendaya pun juga meningkat secara tajam di sekuelnya ini. Keduanya saling terlihat tertarik satu sama lain, dan keduanya agak canggung dan malu-malu menyikapi intensitas asmaranya yang selalu terganggu oleh urusan Peter dengan Nick Fury. Dan kedekatan keduanya juga sukses tergambar lewat dialog yang bisa divisualisasikan dengan mimik muka dan sikap khas remaja yang baru akil balik ketika sedang mencintai lawan jenisnya secara diam-diam.

Walaupun film ini dirilis setelah “Avengers: Endgamedan diisi sebagian besar oleh tema kegalauan Parker, “Spider-Man: Far From Home” sukses membuktikan bahwa filmnya tak hanya menjadi penutup yang tak kalah keren dari saga “Avengers” yang telah berlangsung dari 2012 tersebut, namun sekaligus membuktikan kalau MCU sekali lagi berhasil menelurkan idola baru mereka lewat cerita yang semakin berkembang di tiap filmnya. Bahkan pengembangan karakter Peter berlangsung sangat dinamis, dengan jokes yang benar-benar fresh antara Peter dan karakter di sekelilingnya. Unsur CG nya sendiri termasuk yang top notch, dengan kombinasi long shot dan medium shot yang akan membuat mata kita tak berkedip dengan aksi tanpa henti.

Yang tak boleh dilupakan adalah adegan post credit scene nya. Tidak seperti di “Avengers: Endgame” yang terasa ada yang kurang, Far From Home memiliki dua post credit scene yang sangat krusial. Karena keduanya (bahkan di post credit terakhir), akan menuntun kita pada fase 4 MCU dan film-film setelah Far From Home. Jadi jangan langsung pulang ya Chillers, nantikan sampai film ini tuntas hingga credit scene selesai!

 

Director: Jon Watts

Starring:  Tom Holland, Zendaya, Jake Gyllenhaal, Samuel L. Jackson, Jacob Batalon, Angourie Rice, Marisa Tomei, Jon Favreau, Cobie Smulders, JB Smoove, Martin Starr.

Duration: 129 Minutes

Score: 8.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here