“My name is Sarah Connor. August 29th, 1997 was supposed to be Judgment Day. But I changed the future. Saved 3,000,000,000 lives. Enough of a résumé for you?” – Sarah Connor.

Tak bisa dipungkiri, Terminator adalah salah satu franchise paling penting dalam sejarah film dunia. Saat pertama kali muncul di tahun 1984, film ini sudah begitu menyita perhatian. Mulai dari ceritanya hingga tampilannya yang terkesan futuristik, “Terminator” menyuguhkan tontonan yang bombastis untuk ukuran sinema pada masa itu. Dibintangi oleh movie icon Hollywood terbaru yang sedang naik daun saat itu, yaitu Arnold Schwarzenegger, lengkap sudah semua. Dengan tampilan fisiknya yang besar berotot, kemudian cara bicaranya yang kaku, Arnie sangat cocok memerankan Terminator.

Semuanya kemudian makin diperkuat kala “Terminator 2: Judgment Day” (1991) keluar. Peran Sarah Connor yang diperankan Linda Hamilton semakin diperkuat, juga musuhnya yang juga sangat hebat macam T-1000 (Robert Patrick). Terakhir, sentuhan James Cameron membuat efek visual dan sajian aksinya begitu megah dan menjadi state of the art kala itu. Total film “Terminator 2: Judgment Day” memenangkan 4 Piala Oscar tahun 1992.

Namun sekuel film Terminator setelah itu, ada sesuatu yang menjadi “awan hitam” yang menyelimuti franchise ini. Ia adalah premisnya yang terkesan diulang-ulang melulu setelah Terminator 2. Berkutat di pusaran yang sama, palingan cukup diperluas lewat karakter John Connor yang diperankan oleh beberapa aktor dari satu film ke film lainnya. Datangnya aktris yang sedang naik daun pada masanya seperti Christian Bale di “Terminator Salvation” dan Emilia Clarke di “Terminator Genesys” tidak menolong.

Melihat dari itu, franchise ini mungkin berpikir untuk mengambil langkah yang lebih berani untuk bisa mengambil simpati. Tadaa! Muncul lah wacana untuk mematikan satu karakter penting dan memasukkan unsur-unsur baru yang dinilai lebih relevan dengan isu sosial yang saat ini sedang berkembang.

Biar tidak bingung sama kronologi waktunya, “Terminator Dark Fate” adalah sekuel langsung dari “Terminator Judgement Day” atau T2. Lah, terus gimana dengan film-film Terminator yang lain setelah T2? Well, bisa dibilang mereka tidak terkait lagi. Dalam “Dark Fate”, Sarah Connor langsung dirundung duka. Sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anaknya, John Connor. Di lain tempat, dua utusan dari masa depan turun ke Bumi dengan misi masing-masing.

Yang satu adalah Grace (Mackenzie Davis) yang ke depannya memperkenalkan diri sebagai entitas yang sangat canggih. Yang satu lagi adalah Terminator Rev 9 (Gabriel Luna), robot yang begitu canggih, kuat, cepat, tak tersentuh. Misi dua utusan ini adalah sama. Ia adalah Dani (Natalia Reyes), seorang gadis yang tinggal bersama ayah dan adiknya di sebuah rumah susun di Meksiko.

Kejutan besar di awal cerita betul-betul mencengangkan. “Dark Fate” berani mengambil resiko yang bisa dimaknai secara berbeda. Ini merupakan “turning point” yang ditempatkan begitu awal. Di satu sisi, kita jadi tertarik bagaimana cerita akan bergulir dengan keputusan besar yang diambil tersebut. Tapi di sisi lain, bisa saja apa yang dilakukan bisa membuat geram para penggemar.

Ini ibarat gempa yang menghancurkan gedung pencakar langit. Gempa yang berlangsung dalam tempo relatif singkat bisa meluluh lantakkan gedung yang sudah dibangun susah payah dan lama berdiri tegak. Peran dari karakter yang dikorbankan ibarat kata sudah mendarah daging sejak lama.

Cuma, pengorbanan ini untuk sesuatu yang lebih baik. Tinggal gimana semuanya diramu saja. Untuk racikannya, “Dark Fate” menggunakan bumbu representasi. Terlihat sekali dari awal di mana tiga karakter protagonisnya adalah wanita. Dani yang merupakan Sarah Connor zaman ini, Grace yang merupakan T-800 zaman ini, dan Sarah Connor yang ternyata memiliki motif emosional yang besar sehingga keikutsertaannya bisa tetap masuk akal.

Kemudian yang kedua adalah nuansa latin. Mulai dari tempatnya, “Dark Fate” mengambil latar di Meksiko, sebuah teritori yang sepertinya belum pernah dimainkan oleh film “Terminator” sebelumnya. Lalu Rev 9 juga dimainkan oleh aktor berdarah latin, Gabriel Luna.

Lalu ke plot. Setelah puas membombardir penonton dengan suguhan aksi, “Terminator Dark Fate” mulai menunjukkan ceritanya yang sebetulnya sih gitu lagi, gitu lagi. Ibarat kata, ini copy paste dari cerita “Judgement Day” saja. Dulu, Sarah Connor jadi bahan rebutan karena ia akan melahirkan anak yang bakal menjadi tokoh revolusi. Nah, di “Dark Fate”, formula itu dipakai lagi, cuman pemainnya saja yang berbeda.

Plus-nya, arahan ini akan memperkuat karakter Sarah Connor. Minusnya, selain bakalan bete karena formulanya sama lagi, akan ada sesuatu yang sepertinya sengaja diulur-ulur agar nanti bisa menjadi pintu yang bagus untuk turning point kedua. Sesuatu yang sebetulnya bisa dikasih tahu secara mudah. Tapi malah jadi lama, gara-gara kejaran Rev 9.

Turning point kedua adalah saat di mana “Dark Fate” menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Sebuah perubahan (atau perjudian) yang sesungguhnya karena apa yang mungkin kalian prediksi sebelumnya, dipatahkan. Patokannya sama, is about representation, dan bukan tidak mungkin kalau hal tersebut bisa membelah fans atau mereka yang sudah nonton dua film sebelumnya. Atau bahkan akan lebih parah lagi jika penonton adalah mereka yang sudah menonton “Rise of the Machine”, “Salvation”, dan “Genesys”.

Apalagi, di sini sebetulnya adalah saat di mana Natalie Reyes menonjol. Character’s Arc nya dia yang sudah dibangun dengan jelas sedari awal harusnya meledak. Sayang, entry-nya kurang enak akibat tidak terdapatnya momen di mana film memperlihatkan Dani sudah bukan yang dulu lagi. Semuanya tahu-tahu menunjukkan Dani yang sudah tangguh saja.

Tapi tenang, dari unsur sinematiknya “Dark Fate” itu top notch! Mereka memasukkan keanggunan-keanggunan tribute yang menghormati dua film awal “Terminator”. Kalau mau throwback, paling kentara sih di scene-scene ketika Rev 9 lumer menjadi cairan, lalu membentuk diri kembali. Selain mengesankan bahwa robot ini adalah musuh yang sulit sekali dikalahkan, hak tersebut juga merupakan reminder head-to-head kepada seberapa saktinya Robert Patrick dulu di T-2.

Kemudian beberapa scene heavy action lainnya seperti kejar-kejaran, pertarungan di pabrik, tampilan Linda Hamilton, hingga frase-frase wajib, yang memang menegaskan dan sekaligus juga mentasbihkan kalau ini adalah film yang ingin sekali menjadi penerus T2.

Tim Miller yang sebelumnya menjadi sutradara “Deadpool” betul-betul menggarap adegan aksi di “Dark Fate” secara badass. Mau itu di udara, di darat, di laut, ada saja action spectacle yang memanjakan mata. Yang paling memorable adalah pertarungan ketika di udara menggunakan pesawat besar milik militer yang berisikan Humvee. Itu udah pesawatnya dibikin hancur-hancuran, juga diakhiri oleh terjun bebas menggunakan Humvee. Entah apakah itu logis atau tidak namun yang pasti memang sajian-sajian semacam itu yang muncul di “Dark Fate” memberikan sesuatu yang kita butuhkan dari sebuah film genre aksi.

Sebuah pengadeganan yang berhubungan dengan tuntutan fisik, intensitas tinggi, berbahaya, dan tempo cepat. Kekuatan cerita (apalagi yang berbau masuk akal) benar-benar di-kick dan digantikan dengan adegan aksi spektakuler. Poin utamanya jelas, menghibur dengan cara seperti itu dan kali ini, dengan bantuan violence dan kecanggihan teknologi, “Dark Fate” semakin sah untuk dinikmati sebagai hiburan yang gokil. Aksinya dapat, visual effect nya keren, dan akting para pemain luar biasa.

Mackenzie Davis menjadi MVP film ini. Jika melihat performa sebelumnya di “Tully”, dia kelihatan 180 derajat berbeda. Mackenzie menunjukkan range-nya sebagai salah satu aktris yang patut diperhitungkan karena di “Dark Fate” ia menjadi seratus persen badass. Adegan perkelahiannya melawan Gabriel Luna menunjukkan betapa peimanya dia untuk berperan sebagai Grace yang bisa dibilang merupakan versi upgrade dari T-800. Kemudian meski dalam pertarungan tersebut tetap menggunakan teknik cutting, namun koreografinya masih terlihat dinamis sehingga tetap enak diikuti.

Oh iya, Gabriel Luna sendiri mendapatkan tuntutan berbeda sebagai Rev 9. Dia adalah tipe pembunuh berdarah dingin yang kalem dan memiliki manner. Sungguh sebuah traits yang mematikan bagi sesosok karakter antagonis. Kemunculannya di sini sudah sampai ke level ‘overpowered’, sehingga butuh lebih dari sekedar kerja sama semua pihak untuk dapat mengalahkannya.

Meski pola ceritanya sama lagi, bahkan terkesan mengacak-acak apa yang sudah coba dirancang sebelumnya, “Terminator Dark Fate” terlihat sekali usahanya untuk menjadi sekuel yang layak bagi “Judgement Day”. Lewat banyak tribute, kemudian kembalina Arnie dan Linda lalu pergolakan chemistry mereka berdua yang memiliki semacam “Love Hate Relationship”, cukup mengasyikkan.

Muatan aksi tentunya lebih banyak dari porsi cerita yang kesannya dangkal namun dipaksakan. Maka dari itu, Tim Miller langsung gaspol. Uniknya, dalam beberapa scene terlihat bahwa “Dark Fate” juga memiliki kualitas gambar yang tajam. Layaknya “Gemini Man” beberapa minggu lalu. Dan ketika gambar-gambar tersebut dipadukan dengan munculnya robot-robot, itu adalah pengalaman yang indah. Ladies and gentlemen, they are back!

 

Director: Tim Miller

Starring: Linda Hamilton, Mackenzie Davis, Natalia Reyes, Arnold Schwarzenegger, Gabriel Luna

Duration: 128 Minutes

Score: 7.8/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here