Salah satu asyiknya menonton film zombie adalah bagaimana konten ini bisa membuat jantung penonton berdegup kencang karena kemunculannya sering ditampilkan secara tiba-tiba. Kengerian zombie yang terlihat dari bentuk wajahnya yang menyeramkan dan sekujur tubuhnya yang pucat menjadi senjata yang bagus untuk membuat penonton terkaget-kaget. Tapi sadarkah kamu bahwa sebetulnya terdapat keasyikan lainnya mengenai film zombie ini. Film zombie juga bisa ‘di-mix and match’ dengan genre lain sehingga menghasilkan keunikan tersendiri. Mulai dari film zombie yang kental dengan nuansa komedi (Zombieland, Shaun of the Dead), aksi laga (Resident Evil), drama-remaja (Warm Bodies) semua tersaji. Nah, lewat film ini, kita akan kembali mengalami sensasi lain dari hasil “eksperimen”, yaitu sebuah film zombie yang erat kaitannya dengan isu sosial.

Berlatar tempat di Irlandia, The Cured dimulai ketika sebuah obat sedang dikembangkan untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi virus berbahaya. Seperti film zombie yang sudah sudah, virus ini mengubah manusia menjadi sesosok pemangsa berbahaya. Setelah mendapatkan beberapa survivor, mereka dikembalikan ke dunia luar tapi masih dalam batasan-batasan yang ketat. Salah satu survivor-nya adalah Senan (Sam Keeley). Ia kembali ke rumah iparnya yaitu Abbie (Ellen Page) dengan pikiran masa lalu yang masih menghantui. Belum selesai, Senan juga menghadapi masalah lainnya. Dengan kembalinya ia dan teman-teman survivor-nya, apakah masyarakat sudah siap untuk kembali menerima mereka semua?

Dari sinopsisnya sudah jelas bagaimana cerita men-tackling isu sosial dalam film zombie yang satu ini. Hadirnya para survivors menimbulkan pro dan kontra. Ada yang menerima, namun tak sedikit juga yang menolak karena anggapan bahwa salah satu cara para zombie kembali berkuasa adalah dengan “menaruh” sebagian dari mereka di tengah masyarakat. Masih tersimpan rasa takut yang lebih besar dibanding prasangka baik. Hal ini kemudian berbuntut panjang karena jika dilihat dari kacamata survivor, perlakuan seperti itu membuat mereka semakin merasa frustrasi. Mereka merasa kalau survivor sudah tidak dapat diterima lagi. Sudah tidak memiliki tujuan hidup. Untuk itu, dirancanglah gerakan militan yang bertujuan untuk mengembalikan eksistensi dan agar suara mereka pada akhirnya dapat didengar kembali.

Untuk menambah intensitas drama, The Cured bermain pada ranah domestik yakni lewat karakter Senan dan Abbie. Sebagai lingkungan paling intim dan mendasar dalam kehidupan manusia, penting kiranya bagi Senan untuk dapat diterima dulu di dalam keluarga Abbie. Film kemudian mengembangkan hal ini lebih jauh lagi, yang mana berhubungan dengan flashback dari masa lalu Senan yang masih menghantui dirinya sampai saat ini. Bagaimana misteri semakin lama semakin terungkap bak bom waktu yang siap meledak. Sayang, dua penceritaan yang berbeda scope ini harus berbagi lapak sehingga nanti akan berimbas pada kurang dijelaskannya satu titik tertentu.

Masalah semakin runyam lewat kehadiran karakter antagonis yang bagus. Tom Vaughan-Lawlor berperan sebagai Conor, survivor lain yang juga memiliki hubungan dekat dengan Senan. Ia sudah menganggap Senan sebagai keluarganya sendiri dan ia tidak rela membiarkan keluarganya, survivor-survivor lainnya, dan dirinya sendiri diperlakukan secara tidak pantas hanya karena mereka berbeda. Maka dari itu, Conor merencanakan sebuah aksi balas dendam. Lewat peran ini, Tom sukses menebar teror dan kebencian. Meski sudah tidak seganas dulu, Conor memiliki kemampuan lain dalam menyebarkan teror. Bagusnya, ini bukan ditampilkan secara asal. Semua berkaitan dengan karakter dari Conor sendiri. Sebelum terinfeksi, Conor adalah seorang politisi. Ini membuat karakternya memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain dengan sangat baik. Ia sangat manipulatif, tenang dan licik. Ditambah dengan motivasi pribadi dan juga akting yang brilian, karakter ini membangkitkan suasana di setiap kemunculannya.

Tapi ya, namanya juga film zombie. Pasti akan ada saatnya kita merayakan kekacauan familiar khas film mayat hidup. Setelah menyusun tensi lewat cara mereka sendiri, plot akan meledak di babak akhir. Walau dengan tema apapun, para zombie itu akan kembali pada kodratnya sendiri. Bagi yang mengharapkan feel kekacauan seperti di film zombie kebanyakan, kamu baru akan mendapatkannya di sini. Sebuah pemberontakan ala Bastille yang sayangnya berlomba dengan runtime yang semakin menipis. Karena film lebih fokus pada kehidupan keluarga Senan dan Abbie, kita tidak terlalu diberikan petunjuk mengenai akal bulus para survivor dalam menjalankan pemberontakan ini. Akibatnya, muncul kekurangpuasan karena berbeda dengan unsur dramanya, awal dari bagian action dititurkan dengan cepat. Tiba-tiba para survivor sudah bisa menembus pertahanan militer dan langsung menjalankan rencana saja. Cukup aneh melihatnya mengingat fasilitas semacam ini pasti dijaga dengan ketat.

‘The Cured’ memiliki ide menarik yaitu bagaimana jika manusia bisa meng-handle serangan virus zombie, kemudian ada zombie yang bisa kembali menjadi manusia. Ide tersebut lalu berkembang menjadi konsep yang oke, di mana film mencampurkan drama engaging dan intrik sosial-politik. David Freyne yang bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis naskah berhasil membuat film zombie yang cukup berbeda (film ini merupakan debut film layar lebar pertamanya), karena tidak mudah untuk diikuti (which is good!). Meski tidak menampilkan perkembangan yang lebih jauh dari bentuk “zombie yang kembali menjadi manusia”, kemudian rencana dari pemberontakan juga urung ditampilkan secara detail, beberapa poin konvensional tetap menarik untuk disaksikan. Penggambaran tertentu dari kelakuan zombie dan juga memori buruk para survivor cukup menjelaskan di mana posisi film ini.

Buat Chillers yang menyukai zombie, tidak ada salahnya mononton film ini yang sekarang sudah bisa kamu tonton di bioskop terdekat di kota kamu.

Director: David Freyne

Starring: Ellen Page, Sam Keeley, Tom Vaughan-Lawlor, Paula Malcomson, Peter Campion, Stuart Graham, Hilda Fay

Duration: 95 minutes

Score: 8.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here