“The police are protectors. Someone needs us.” – Asger Holm.

Festival film ‘Europe on Screen’ (Eos) 2019 sudah dibuka pada hari Kamis kemarin, (18/4). Bertempat di Epicentrum – Kuningan, EoS 2019 membuka agendanya dengan memutar film pembuka mereka yaitu “The Guilty”. Film ber-genre crime thriller ini merupakan official submission dari Denmark untuk bersaing di kategori “Best Foreign Language” Oscar ke-91.

Sukses mendapatkan penghargaan dan pujian, “The Guilty” kabarnya siap dibuatkan remake-nya oleh Hollywood, yang mana karakter utama akan diperankan oleh Jake Gyllenhaal. Nah sebelum versi remake-nya keluar, kalian wajib menonton versi aslinya karena sutradara Gustav Moller membuat sebuah teror dengan konsep yang unik dan cara yang segar. Bagaimana bisa pekerjaan yang sangat membosankan bisa jadi begitu menegangkan?

Asger Holm (Jakob Cedergren) adalah seorang penerima telepon gawat darurat. Tugasnya adalah menerima telepon dari masyarakat, memastikan tempatnya, menanyakan keluhan si penelpon dan meminta untuk dikirimkan bala bantuan ke lokasi kejadian. Begitu terus dan tidak boleh keluar jalur. Harus sesuai dengan SOP yang sudah ada. Membosankan bukan? Nah, suatu saat, Asger mendapatkan telepon dari seorang wanita yang di kalimat pertama saja sudah bilang “sayang”.

Dikira salah sambung, ternyata panggilan itu adalah cara untuk sang wanita mengelabui orang yang sedang bersamanya. Ia ternyata meminta tolong pada Asger karena dirimya sedang berada di situasi berbahaya. Asger yang merasa ada tindak kriminal di depannya langsung, dihadapkan pada sesuatu yang genting. Dia tidak bisa berbuat banyak, pergerakannya pun terbatas. Belum lagi esok hari adalah hari yang penting untuk kelangsungan karir Asger ke depan.

Dari tuntutan naratif ini, film jadi punya konsep yang unik. Mereka coba menciptakan teror klaustrofobik yang dialami Asger, yang mana hanya disajikan lewat unsur audio. Asger yang seorang penerima telepon hanya bisa mendengar dan mengganti saluran untuk berkoordinasi dengan pihak lain. Selebihnya gelap. Ia tidak tahu mengenai kondisi orang yang mengajak dia bicara, ia tidak tahu kondisi medannya seperti apa, dan ia tidak tahu cerita apa yang ada sebenarnya.

Dari sini terlihat film menggunakan konsep cerita yang tidak pernah berubah dari awal sampai akhir. Pembatasan informasi cerita merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah film. Sineas memiliki kontrol terhadap hal ini. Mana yang perlu diketahui langsung oleh penonton, mana yang sebaiknya ditahan dulu? Pilihan yang nanti dipilih oleh sineas akan memengaruhi respon dan rasa penonton ketika menikmati filmnya. Untuk “The Guilty” pembatasan informasi cerita yang digunakan jelas adalah “Restricted Narration”.

Restricted Narration, atau “Penceritaan Terbatas” adalah informasi cerita yang dibatasi. Terikat hanya pada satu orang karakter saja. Penonton hanya mengetahui serta mengalami peristiwa dalam film sama persis seperti yang dirasakan oleh tokoh yang menjadi sudut pandangnya. Mata kamera tidak pernah pergi meninggalkan sang tokoh. Teknik ini bisa menimbulkan efek kejutan pada penonton karena tadi, penonton berada di posisi tokoh utama.

Penonton tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi di lokasi kejadian dan apa yang bakal terjadi setelahnya karena banyaknya keterbatasan membuat Asger sulit untuk membaca strategi dari orang yang ia kejar. Ini membuat “The Guilty” bisa memainkan prasangka penonton. Dengan bekal informasi yang tak banyak tapi situasinya menegangkan dan waktunya sedikit, penonton bisa jadi ikut berpikir yang macam-macam. Jadi sangat waswas. Kita akan dibawa pada “theatre of mind” dari Asger. Apa yang Asger pikirkan coba didoktrin ke otak kita.

Hal ini tentu tidak akan berjalan mulus tanpa dukungan sinematik yang juga bagus. Pertama adalah faktor akting. Film ini praktis hanya menggunakan satu aktor penting yang juga merupakan aktor utama yaitu Jakob Cedergren. Kamera tidak akan pernah melepasnya jadi Jakob harus mengeluarkan kemampuan terbaik selama 85 menit. Bagusnya, Jakob bisa menampilkan itu. Aktingnya meyakinkan lagi tajam. Ia pun tidak hanya bisa menerjemahkan bagaimana ekspresi dan perasaan Asger ketika ia mengurus telepon ini. Lebih dari itu, ia juga dapat menampilkan kedalaman di sana. Ada sesuatu yang menarik dari diri Asger dan itu bisa kita lihat dari awal film. Apa motivasi Asger melakukan tindakan yang lebih berani, itu bisa kita pahami seiring berjalannya waktu berkat akting yang solid dari Jakob. Komposisi dua poin itu membuat akting Jakob saja cukup menjadikan cerita dan karakter bergerak sesuai yang diinginkan.

Bagaimana dengan aspek teknis? Mulai dari sound, mise-en-scene, sampai sinematografi bahu-membahu agar bisa menciptakan kesan klaustrofobik yang tidak nyaman. Mumpung tuntutan teknis dari “The Guilty” terhitung merupakan hal yang tidak ribet-ribet amat, makanya mereka ingin memanfaatkannya seefektif mungkin. Dari sound, “The Guilty” praktis menggunakan “Off-screen Diagetic Sound”, di mana seluruh suara berasal dari luar frame alias off-screen. Hal ini nampak ketika Asger berdialog dengan korban, atau anaknya korban, atau siapapun yang ada di telepon maka perkataan lawan bicara Asger bisa dibilang sebagai bentuk dari off-screen diagetic sound karena mereka tidak terlihat di frame.

Film harus mampu menggerakkan cerita menjadi sesuatu yang menegangkan dan tidak membosankan dengan cara ini. Untuk itu, agar terjadi variasi dan juga rasa deg-degan, sineas bereksplorasi. Tidak hanya lewat voice acting dari aktor yang mengisi suara karakter yang sedang berbicara dengan Asger, namun juga lewat suara-suara lain yang muncul dari sekitar karakter yang bersangkutan. Di dalam film beberapa kali kita akan diajak menebak-nebak bagaimana situasi yang ada, si penelpon sedang berada di mana, bagaimana keadaannya. Poin-poin ini meski kecil tapi berperan dalam membangun intensitas yang di sisi lain tetap terkesan real.

Untuk mise-en-scene, “The Guilty” mengalami shifting memasuki tahap konflik yang lebih tinggi. Dengan motivasinya, Asger diceritakan pindah komputer. Ia pergi ke ruangan sebelah yang jauh lebih gelap. Di sini tampilan dan mood yang dibentuk sudah beda dengan yang sebelumnya. Masalah semakin berkecamuk, kadar ketegangan juga ingin dibuat meninggi. Maka dari itu, film jadi terkesan semakin gelap. Pencahayaan menjadi jauh lebih minim, bahkan ada kalanya cahaya yang ada sudah tinggal warna merah saja. Agak menyeramkan sekaligus cantik, karena kita bisa melihat efek ‘chiaroscuro’ hitam-merah yang menghiasi layar. Kemudian kalau dari sisi karakter, merah bisa diartikan dengan amarah.

Belum selesai, ada juga shot yang memanfaatkan bayangan dari objek secara sempurna. Di sini bayangan dari objek yang tidak terkena cahaya tercetak pada bidang objek lainnya. Menawan sekali. Lalu untuk sinematografinya, tidak banyak variasi-variasi shots yang dihasilkan. Film memiliki banyak penampakan shots di mana proporsi tubuh manusia terlihat lebih dominan dari latar belakangnya. Jelas ini diperlukan karena penonton agar bisa larut dalam ketegangan juga perlu melihat eksresi wajah Asger dengan jelas dan gestur tubuh yang mendetail. Uniknya, beberapa kali film menampilkan benda-benda kecil yang ada di Asger secara close-up. Tidak lain tidak bukan adalah cincin perkawinannya.

Temuan ini sedikit banyak menuntun kita pada poin plus berikutnya dari cerita “The Guilty”. Suka sekali bagaimana mereka tidak hanya menaikkan intensitas, namun juga membuatnya lebih dalam dengan cara kombinasi apik antara konflik utama dan konflik sampingan. Konflik utamanya, jelas, telepon dari seorang wanita yang berada di situasi berbahaya. Konflik sampingannya? Asger sendiri. Di awal masa penonton sudah di-tease bahwa Asger ini pasti ada apa-apanya.

Benar saja, seiring kasus dari konflik utama berjalan, kita akan semakin mengetahui bahwa ini secara tidak langsung berhubungan dengan masalah yang dialami Asger di masa lalu. Proporsi antara konflik utama dan konflik sampingan ini dibuat pas. Sesuai porsi. Kemudian cara film memberikan layer demi layer juga rapih sehingga dua konflik ini jadi saling menguatkan. Kita tidak akan hanya peduli kepada orang-orang yang hendak ditolong oleh Asger, namun juga Asger sendiri karena ia pun memiliki sesuatu yang memancing empati di sini.

Sayangnya, terdapat pertanyaan yang mengganjal di tahap konfrontasi. Tepat ketika masalah semakin runyam, terdapat satu kata kunci yang menjadi turning point kedua film ini. Kata kunci itu keluar secara mengalir karena diketahui melalui percakapan telepon. Bukan dari sesuatu yang coba Asger selidiki sendiri. Kata kunci ini sangat penting karena berhubungan dengan hal yang paling menyedihkan dari film. Tapi, masih belum jelas maksud sebenarnya dari kata kunci itu. Apakah itu memang ditujukan pada arti yang sebenarnya atau bukan? Karena bukan apa-apa, kata itu kembali muncul namun di percakapan yang berbeda antara Asger dan “orang itu”.

Memang setidaknya penonton menangkap keadaan berbalik tadi dan apa yang menjadi pemicunya. Hanya saja, film menempatkan kuncinya seperti sesuatu yang multitafsir. Satu hal yang sangat kontras jika dilihat dari bentuk film yang sarat akan sesuatu yang harus ditampilkan secara pasti. Kemudian yang berikutnya adalah sesuatu yang mungkin ada karena film tidak lepas dari faktor ciri khas. Unsur emosi dihantarkan dengan cara yang berbeda di akhir cerita. Tidak terlalu seperti yang dikira atau bahkan diinginkan. Film memilih untuk lebih kalem dan dingin setelah Asger mengalami seluruh permasalahan gila yang penuh dengan depresi ini. Mungkin saja, tone seperti ini yang akan coba dirubah oleh Hollywood di remake-nya nanti. Mereka bisa menambahkan sedikit warna sehingga tidak kelihatan terlalu stress.

Dengan konsep yang unik, pembawaan yang menarik, dan perencanaan yang matang, “The Guilty” menjadi film yang mampu membuat kasusnya terus menekan secara konstan dan mengasyikkan. Terima kasih atas sumber daya yang minim, Gustav Moller sukses membuat penonton tidak sudi untuk melepas pandangannya dari layar barang sedetik. Yes, this movie never lose its audiences! Akan menjadi pengalaman yang berkesan untuk dapat menontonnya karena jarang film semacam ini akan ditemui lagi dalam waktu cepat. Cinematic experience yang dihasilkan dari sebuah kerja minimalis menunjukkan betapa cerdasnya sineas dalam meramu materi. Kekurangan pasti ada, namun itu tidak mengganggu kenikmatan karena hanya muncul layaknya percikan. Hasilnya tetap keluar layaknya underdog yang awalnya tak disangka namun malah tampil brilian.

Buat Chillers yang tertarik dengan film “The Guilty”, film ini masih diputar dua kali lagi saat ‘Europe on Screen 2019’ di IFI Thamrin pada 22 dan 27 April 2019 pukul 19.30.

 

Director: Gustav Moller

Starring: Jakob Cerdergren, Jessica Dinnage, Omar Shargawi, Johan Olsen

Duration: 85 Minutes

Score: 8.3/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here