‘The Mule’, Kisah Seorang Manula yang Menjadi Kurir Narkoba

“I was a terrible father, a terrible husband. I blew my chance. I didn’t deserve forgiveness. This is the last one. So help me God, this is the last one. For what it’s worth, I’m sorry for everything.” – Earl Stone.

Berbicara tentang legenda hidup Hollywood, tentu tidak akan lepas dari nama Clint Eastwood. Sineas berusia 88 tahun ini mengawali karir di dunia seni peran dari tahun 1955. Selain itu, Clint juga aktif di berbagai bidang perfilman lainnya sehingga namanya sangat dihormati hingga kini. Situs IMDb mencatat, Clint Eastwood berperan di 72 film, memproduseri 45 film, dan menyutradarai 40 film. Dari riwayat filmography yang panjang itu, Clint berhasil membawa pulang empat Oscar dari total 158 nominasi di semua penghargaan. “The Mule” menjadi karya Clint Eastwood yang paling baru. Disutradarai, diproduseri, dan dibintangi sekaligus oleh dirinya sendiri, “The Mule” secara tak diduga tampil bagus di box office Amerika. Diambil dari Box Office Mojo, gross dari “The Mule” sudah tembus 100 juta dolar Amerika. Jelas, Clint masih memiliki sentuhan magis yang tak lekang oleh zaman.

“The Mule” bercerita tentang seorang kurir berusia 90 tahun bernama Earl Stone (Clint Eastwood). Ia merupakan seorang workaholic yang awalnya berkarir sebagai florist. Sifat rajinnya sebagai pekerja memiliki efek samping pada relasinya kepada keluarga. Earl jadi kurang disukai oleh istrinya dan anaknya. Satu-satunya anggota keluarga yang masih membela Earl adalah cucunya. Suatu hari, Earl terhimpit masalah finansial. Ia kemudian mendapat jalan pintas menjadi kurir narkoba. Tugasnya sederhana, mengantar narkoba dari satu tujuan ke tujuan lain. Begitu selesai dihantarkan, Earl mendapatkan imbalan berupa uang tunai.

Cerita dari “The Mule” sebetulnya simpel saja, yaitu mengisahkan tentang kegiatan kurir Earl dan bagaimana usahanya untuk selamat. Berbekal mobil truk pick-up, kita akan mengikuti perjalanan Earl dari pengiriman pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Agar menjadi lebih menarik, perjalanan kurir ini digabungkan dengan dua konflik sampingan, yaitu kasus penyelundupan narkoba yang sedang ditangani kepolisian dan masalah keluarga yang menjadi problem pribadi Earl. Dua konflik sampingan ini akan memperkenalkan penonton pada karakter pendukung yang menarik seperti Agen Bates (Bradley Cooper), Agen Trevino (Michael Pena), Laton (Andy Garcia), dan Julio (Ignacio Serricio).

Konposisi antara konflik utama dan konflik sampingan menjadi poin plus film ini. Bagaimana “The Mule” bercerita dari satu bagian ke bagian lain berjalan dengan smooth. Hasilnya adalah, kita bisa terus mengikuti sambil berinvestasi kepada karakter Earl. Salah satu yang sepertinya membuat poin ini bisa muncul adalah teknik editing yang baik. Dalam beberapa kali, sineas memanfaatkan teknik editing “dissolve”. Teknik editing ini adalah teknik yang menampilkan transisi satu shot ke shot yang lain secara soft. Gambar shot pertama akan memudar perlahan kemudian diganti ke shot berikutnya, yang mana shot berikutnya sudah bercerita tentang hal lain.

Poin kedua yang membuat flow cerita “The Mule” mengalir enak adalah aktingnya. Pujian terbesar tetap wajib dialamatkan kepada Clint Eastwood karena dalam usia 88 tahun, ia masih piawai dalam menampilkan perkembangan karakter yang ia mainkan secara apik dari babak ke babak. Dinamika ini membuat kita bisa memberikan perhatian padanya, didukung pula performa apik dari para pemeran pendukung lainnya. Untuk yang satu ini, sanjungan dialamatkan pada Dianne Wiest yang berperan menjadi istri dari Earl, yaitu Mary.

Tidak lupa, Clint juga menyertakan percikan-percikan lainnya. Dalam hal ini adalah kritik sosial dan juga pemanfaatan karakter dalam unsur naratif yang ditampilkan secara komedi. Terdapat beberapa scene yang dialog-dialog antara Earl dan orang-orang yang ditemuinya. Di situ kita bisa melihat bahwa dialog yang ada memberi kritik sosial tertentu. Tidak jarang bagian-bagian ini sukses membuat tawa, hanya saja di sisi lain pendekatan komedi macam ini juga memperlihatkan eksposisi karakter utama yang nampak sengaja dibuat kuno. Earl tampak seperti ‘Captain America’ yang dibekukan dari zaman dulu lalu dihidupkan kembali, atau ‘Flinstone’ yang hidup di goa. Banyak hal yang tidak ia ketahui atau belum ia pelajari dan ini cukup mengherankan bagi karakter itu sendiri. Dia benar-benar hidup di masa lalu! Tapi ya, kalau yang dicari adalah hiburannya sih tetap lucu-lucu aja ya.

Satu lagi yang menjadi “let down point” dari sini adalah ketika Earl mengomentari satu objek tertentu yang mana objek itu terbilang sensitif. Terdapat beberapa kali Earl melakukan ini dan salah satu jokes yang ada di dalamnya jadi jatuh “kentang”. Sifat ignorance-nya membuat semua tetap berjalan tanpa meninggalkan kesan menyenangkan. Justru bagian yang tidak terlalu mengundang gelak tawa adalah yang paling mengena. Maksudnya adalah ketika muncul dialog “witty” yang lebih bersifat menyinggung, bukan menunjukkan kelemahan karakter Earl secara spesifik. Beberapa kali Earl menyinggung tentang pemakaian internet dan ketergantungan generasi sekarang, (yang dideskripsikan sebagai “you people”) terhadap internet. Ini terasa menyentil dan semakin membuat cerita menjadi sesuatu yang tidak seperti yang diduga sebelumnya. Terdapat banyak warna di dalamnya.

Untuk pemanfaatan karakter, “The Mule” menampilkan eksploitasi dari sosok Earl yang sudah uzur dengan baik. Salah satu alasan yang ditunjukkan adalah, secara eksplisit film menunjukkan jawaban mengapa Earl sulit untuk dilacak dan selalu selamat dari ancaman, yaitu karena dia adalah seorang kakek-kakek, berkulit putih pula. Mudahnya begini. Apa yang biasanya muncul di pikiran kita ketika dihadapkan pada seorang kakek-kakek? Rasa hormat tentu saja. Tapi selain itu, ada juga rasa kasihan karena umurnya yang sudah renta. Nah, ini dimanfaatkan oleh film untuk memperkuat cerita dan juga memunculkan sesuatu yang fun karena kalau dilihat-lihat jatuhnya jadi lucu juga. Selain dipengaruhi tampilan, posisi dari karakter Earl yang sebetulnya sudah sering ditampilkan dalam film membuat konflik mempunyai kedalaman yang “tidak semudah itu”.

Kemudian bagaimana caranya film bermain-main diantara perasaan deg-degan dan perasaan haru patut diacungi jempol. Meski berjalan stagnan, namun “The Mule” tetap konstan dalam bercerita sehingga eskalasi konflik bisa diketahui dengan jelas dan pada akhirnya menimbulkan perasaan deg-degan layaknya nonton film horor. Aneh juga, padahal “The Mule” ini lebih berat ke drama dan tidak ada darahnya sama sekali. Cukup menunjukkan kengerian yang intense tapi ini bisa membuat mata terus melekat ke layar sambil harap-harap cemas takut si kakek tertimpa sesuatu.

Kemudian penonton juga akan merasakan sense of dramatic yang tidak jarang mengharukan di setiap sequence yang mempertemukan Earl dan keluarga. Lagi, selain dihiasi oleh penampilan solid dari para cast, poin ini memiliki senjata lain yang ampuh yaitu scoring. Gubahan musik di film ini diarsiteki oleh Arturo Sandoval, musisi jazz Amerika yang memiliki spesialisasi di trompet. Alunan jazz dari tiupan trompet Arturo sangat mewakili tuntutan naratif yang ada dalam scene keluarga, yang mana membawa pesan lain yang tidak kalah pentingnya. Menyayat hati, mewakili kepedihan Earl, yang meratapi hidupnya yang berantakan.

Satu kebosanan dari drama-kriminal ini adalah karakter antagonisnya. Film ini sempat menunjukkan aura positif ketika karakter antagonis ditampilkan dari awal hingga pertengahan film. Mereka terlihat sama saja dari sampulnya, terutama karena “The Mule” merupakan film yang melibatkan campur tangan kartel, tapi seiring berjalannya waktu, kita melihat ada perkembangan di sana. Para antagonis ini tidak digambarkan sebagai manusia satu dimensi. Menggembirakannya, perkembangan ini dipicu oleh Earl sehingga ada semacam nuansa yang baru, yang tidak hanya bekerja dengan baik untuk keunikan cerita tapi juga efektif dalam memberikan hiburan.

Meski dibuat dari kisah nyata yang diangkat dari artikel New York Times tahun 2014 dengan judul “The Sinaloa Cartel’s 90-Year Old Drug Mule”, kita tidak tahu pasti seberapa akuratnya “The Mule” versi layar lebar ini. Maka nanti akan ada sesuatu yang terjadi di tahap konfrontasi, sehingga semua kembali seperti yang sudah-sudah. Terdapat hal-hal yang secara mengejutkan lebih longgar dari yang sebelumnya. Tapi karena apa yang nampak sudah terlanjur berbeda, treatment ini menunjukkan kelemahan dalam ancaman. Beruntung, karena subtext berkembang jadi besar dari ketika film memasuki masa akhir tahap konfrontasi, maka semua masih bisa tertolong.

Film yang dituturkan secara straightforward namun sepanjang alirannya kita menemui banyak hal. Mulai dari intensity, humor, drama, hingga nilai-nilai yang dekat dengan keseharian, semua diberikan bersama dengan kelebihan dan kekurangan. Terlepas dari itu, siapa sih yang bisa menyangka bahwa ini semua ini dilakukan oleh sutradara berusia 88 tahun?

Apalagi sang sutradara membintangi sendiri filmnya dan ia memerankan karakter yang berusia lebih tua dibanding dirinya. “The Mule” memiliki sesuatu yang tidak ada di “Gran Torino” dan tidak salah jika kita berpendapat bahwa ini merupakan versi lebih lembutnya. Mulai dari penuansaan, scoring dan lagu yang diputar, kemudian penggambaran karakter utama, sampai jokes yang ada. Clint bersama dengan penulis naskah Nick Schenk menawarkan sisi yang jelas berbeda. Salut untuk usahanya kali ini, sekaligus juga memupus keraguan setelah film terakhirnya “The 15:17 to Paris” (2018) flop di pasaran.

Untuk Chillers penggemar Clint Eastwood, tak ada salahnya meluangkan waktu untuk menonton film ini di bioskop terdekat di kota kamu.

 

Director: Clint Eastwood

Starring: Clint Eastwood, Bradley Cooper, Dianne Wiest, Taissa Farmiga, Alison Eastwood, Michael Pena, Andy Garcia, Ignacio Serrichio, Laurence Fishburne, Robert LaSardo, Eugene Cordero, Manny Montana, Clifton Collins Jr.

Duration: 116 Minutes

Score: 8.0/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here