‘The Nutcracker and the Four Realms’, Indahnya Remake Disney Klasik Terbaru

0
166

“It’s Christmas Eve. A time of mystery, expectations, who knows what might happen?”- Drosselmeyer.

Selain membuat versi live-action dari kisah-kisah ‘princess’ mereka, Disney juga tidak lupa untuk me-remake cerita-cerita klasik lainnya. “Alice in Wonderland” menjadi contoh sukses dengan raihan pendapatan global mencapai sekitar US$ 1.3 miliar. Melihat prestasi tersebut, sudah barang tentu Disney ingin menerapkan formula serupa untuk mendulang sukses. Tapi, alih-alih kembali menampilkan Alice, Disney memilih dunia fantasi lainnya, yaitu dari film “The Nutcracker and the Four Realms”. Ini merupakan film adaptasi terbaru yang akan mengajak penonton ke dalam petualangan penuh warna tak terlupakan.

Terinspirasi dari cerita karangan E.T.A. Hoffman yang berjudul “The Nutcracker and the Mouse King” pada 1816, Disney memperkenalkan Clara (Mackenzie Foy), seorang gadis cerdas berusia 14 tahun yang memiliki ketertarikan pada ilmu sains. Suatu hari, Clara secara tak terduga memulai perjalanannya ke sebuah dunia paralel yang aneh untuk mencari kunci. Benda ini sangat dibutuhkan karena kunci itu adalah kunci yang bisa membuka hadiah dari mendiang ibunya. Sesampainya di dunia paralel, Clara bertemu dengan seorang tentara Nutcracker. Clara kemudian disambut oleh para penguasa dari wilayah-wilayah yang ada di sana.

Jangan salah persepsi ketika menonton film ini. The Nutcracker adalah film yang berfokus pada kisah dari karakter Clara, bukan karakter Nutcracker. Awal cerita pun akan langsung memperkenalkan Clara kepada penonton, dan scene ini dilengkapi oleh serangkaian adegan yang tidak hanya menonjolkan presisi, namun juga keunikan dari tokoh utama. Clara adalah gadis yang cerdas dan tertarik pada sesuatu yang sifatnya “against the type”. Sains adalah hal yang begitu difavoritkan olehnya, dan hal ini pasti tidak sama dengan kegemaran gadis lainnya yang lebih kepada hal-hal berbau tata rias dan adibusana. Meski begitu, anomali ini sebetulnya masih berada di koridor yang formulaic dari kisah putri-putri Disney. Di mana mereka memang digambarkan memiliki traits yang tidak biasa.

Satu yang menjadi tantangan adalah bagaimana film dapat membuat kita dapat masuk kepada hal yang lebih mendalam lagi. Aspek emosi harus bisa dipancarkan dengan baik karena Clara di dalam filmnya juga digambarkan sebagai seorang anak piatu. Meski hidup serba berkecukupan, ada hal penting yang sebetulnya hilang dalam kehidupan Clara. Kehilangan ini coba ditampilkan tidak dalam satu arah saja, yaitu dari dalam diri Clara sendiri, melainkan juga berefek kepada hubungannya dengan sang ayah. Lebih dari itu, relasi antara Clara dengan ibunya ternyata akan berpengaruh besar terhadap aspek naratif ke depannya.

Sayangnya, film “The Nutcracker and the Four Realms” ini menyisakan banyak lubang di dalam ceritanya. Ada beberapa poin yang membuat kita akan bertanya-tanya, atau justru menganggap film kurang greget. Pertama adalah mengenai sejarah dari dunia paralel Nutcracker. Dari awal film langsung mengarahkan kamera kepada karakter Clara, sedangkan penonton tidak diberi tahu secara lebih jelas mengapa Clara bisa sangat terkoneksi dengan dunia paralel. Emosi antara Clara dengan mendiang ibunya memang bisa dimengerti, namun tidak begitu dengan dunia paralel. Ini juga berakibat dari cerita aslinya yang menempatkan ibunda Clara sebagai pencipta dunia Nutcracker. Tidak adanya prolog atau bagian-bagian dari film yang menampilkan hal ini membuat tahap persiapan dari film menjadi tidak terlalu kuat.

Yang kedua adalah menyangkut segala tetek-bengek permasalahan yang ada di dalam dunia paralel. Ini menyisakan banyak plot hole yang menganggu kenikmatan kita dalam menonton. Mulai dari penyebab mengapa mendiang ibu Clara melakukan hal yang tidak disangka-sangka, kemudian mengapa hal itu berbuntut panjang terhadap kelangsungan kehidupan di keempat realms. Semuanya hanya ditampilkan mentahnya saja. Lagi-lagi, tidak ada tambahan tertentu yang menjelaskan secara lebih rinci mengenai hal ini.

Jika di poin sebelumnya hal tersebut bisa ditanggulangi dengan memasukkan prolog, untuk bagian ini mungkin bisa diakali dengan menyertakan beberapa flashback. Kekurangan yang terjadi pada poin kedua ini lalu memunculkan kelemahan film berikutnya, yaitu tidak cukup berani untuk mengeksplorasi diri. Sesungguhnya ‘The Nutcracker’ memiliki banyak lubang yang bisa dimanfaatkan. Sayangnya peluang tersebut tidak diambil, padahal “Beauty and the Beast” bisa melakukannya, tapi kenapa yang ini tidak? Toh juga eksplorasi yang dilakukan masih memiliki hubungan dengan cerita aslinya.

Kemudian mengenai peluang berikutnya yang disia-siakan. Kali ini skalanya lebih besar, yaitu mengenai tiga dari empat alam yang ada. Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, di dalam cerita Clara disambut oleh para gubernur dari wilayah-wilayah yang ada di dunia paralel. Mereka adalah Sugar Plum (Keira Knightley), pemimpin dari Land of Sweets, Hawthrone (Euginio Derbez) – pemimpin dari Land of Flowers, dan Shiver (Richard E. Grant) – pemimpin dari Land of Snowflakes.  Kalau sudah begini, pastinya film seharusnya menunjukkan dong bagaimana keempat alam itu ditampilkan. Penonton ingin melihat lebih dekat seperti apa Negeri Manisan, Negeri Salju, dan Negeri Bunga yang ditampilkan secara lebih ‘friendly’ di awal.

Sayangnya, tidak banyak yang dapat kita gali dari sana. Tercatat hanya ada satu sequence yang mencakup gambar dari seluruh negeri, dan jelas itu tidak cukup. Penonton butuh lebih banyak penggambaran. Penonton ingin lebih banyak petualangan, namun tidak cukup. Tidak ada lagi yang istimewa dari keempat realms selain bentuk luarnya saja. Cerita lebih fokus pada apa yang terjadi di istana pusat yang mirip St. Basil’s Cathedral sehingga lebih tepat jika film ini disebut sebagai “The Nutcracker and the Mouse King” dibanding “The Nutcracker and the Four Realms”.

Hanya satu realm yang ditampilkan dengan cukup memuaskan yaitu ‘Land of Amusements’ yang dipimpin oleh Mother Ginger (Helen Mirren). Memang sih, backstory dari realm ini tidak begitu jelas. Mengapa ‘Land of Amusement’ memiliki konotasi negatif di dalam dunia paralel hanya ditampilkan dari satu sudut pandang saja. Tetapi, ada beberapa poin lainnya yang membuat realm ini memiliki nilai lebih. Pertama adalah penuansaan yang terasa kengeriannya. Ini sebetulnya sama dengan bagaimana caranya film menampilkan ‘Land of Flowers’, ‘Snowflakes’, dan ‘Sweets’. Hanya saja di sini jelas, ‘Land of Amusements’ memiliki aura yang paling berbeda sehingga mengurangi kebosanan akan vibe yang senada. Bagi penonton anak-anak, ini bisa jadi akan sedikit menyeramkan tapi di sisi lain penampilan seram dari ‘Land of Amusement’ memang sesuai yang dibutuhkan oleh tuntutan naratif.

Kemudian yang berikutnya adalah mengenai production design. ‘Land of Amusement’, dengan kehampaan yang menyelimutinya, memiliki satu bangunan ikonik yang terlihat menarik. Bangunan tersebut merupakan tempat tinggal Mother Ginger yang besar dan dapat berjalan sendiri. Bangunan berukuran raksasa ini merupakan gabungan dari tenda sirkus, dengan patung Mother Ginger di bagian atasnya. Kredit patut disematkan kepada desainer produksi Guy Hendrix Dyas dan tim karena sukses menciptakan objek yang intimidatif.

Ia dan tim dari departemen seni film ini membuat raksasa berukuran 40 kaki, dengan desain tenda sirkus selebar 30 kaki. Tentu ini bukan pekerjaan mudah, apalagi rancangannya juga harus disesuaikan lagi dengan ambience ‘Land of Amusement’ yang dark. Terakhir, penampilan dari para badut-badut yang ada di realm itu menjadi scene stealer film. Melihat dari unsur tata riasnya, badut-badut ini tampil cukup mengerikan (apalagi bagi kalian yang takut badut), dengan dominasi warna putih di bagian muka tentunya. Kemudian penggambaran ini semakin didukung oleh aspek ‘mise-en-scene’ lainnya seperti akting dari para pemeran badut yang “imut-imut ngeselin”, dan juga koreografi dengan unsur sirkus yang begitu menghibur saking atraktifnya.

Tapi ngomong-ngomong soal penampilan yang menghibur, walau memiliki badut-badut lucu yang sukses mengukir senyum, film juga menampilkan “satu badut lainnya” yang sayangnya sangat menyebalkan. Ya, dia adalah Sugar Plum yang diperankan oleh Keira Knightley. Melihat penampilannya seperti itu, rasanya ingin menangis. Ini tidak seperti apa yang kita inginkan dari Keira, meski dia ingin memerankan karakter yang bertolak belakang dengan karakter-karakter sebelumnya sekalipun. Sugar Plum ditampilkan begitu cartoonish. Wardrobe yang sangat ceria semakin ditunjang oleh output suaranya yang cempreng gila! Setiap mendengar satu patah kata yang keluar dari Sugar Plum, rasanya ingin menutup kuping saja. Beruntung, tidak selamanya ia begitu. Ada character development yang dimiliki oleh Sugar Plum menjelang tahap resolusi, namun itu tidak banyak membantu. Imej awalnya sudah keburu jelek.

Pada akhirnya kekuatan film ini terletak di bagian visual dan memang hanya menonjol di sana. Colorful, mulai dari warna-warna cerah hingga gelap. Sequence dari tarian ballet yang diperagakan dengan sangat apik oleh Misty Copeland merangkum semua di pertengahan film. Tapi di luar itu, film ini tidak terlalu greget. An uneven festivity with glamour props only.

Film ‘The Nutcracker and the Four Realms’ sudah bisa Chillers saksikan di bioskop terdekat di kota kamu.

 

Director: Lasse Hallstorm, Joe Johnston

Starring: Mackenzie Foy, Keira Knightley, Helen Mirren, Eugenio Debrez, Morgan Freeman, Ellie Bamber, Matthew Macfadyen, Misty Copeland, Richard E. Grant, Jack Whitehall, Nick Mohammed, Jayden Fowora-Knight

Duration: 99 Minutes

Score: 6.5/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here