‘The Secret Life of Pets 2’, Serunya Hewan Piaraan Bertualang

“Oh, I just love him immediately. It’s like we’re his parents. It’s like you’re the dad and I’m the mom, and we’re in a relationship and this is our baby.” – Gidget.

Periode summer movies seperti ini tidak lengkap jika belum diramaikan dengan film animasi. Nah kebetulan, sebelum kita menonton “Toy Story 4”, film animasi yang bakal menjadi pusat perhatian, kita bisa dulu nih pemanasan sama film yang satu ini. “The Secret Life of Pets 2” adalah sekuel dari film pertama yang rilis tahun 2016 lalu.

Lewat premis yang mirip dengan “Toy Story”, tentang bagaimana jadinya hewan piaraan jika sedang ditinggal pemiliknya, “The Secret Life of Pets” menghibur dengan kelucuan dan kegemasan khas hewan-hewan piaraan. Di film kedua film akan semakin besar dengan bertambahnya aspek-apsek penting seperti karakter baru, tempat-tempat baru, sikon baru, dan tentunya masalah baru.

Di sini Max (Patton Oswalt) dan Duke (Eric Stonestreet) mendapatkan teman baru. Ia adalah Liam, anak dari pernikahan puannya. Seiring berjalannya waktu, Liam tumbuh menjadi seorang bocah yang lucu. Max yang awalnya seakan tersiksa dengan kehadiran Liam mulai menyayangi Liam dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada tuan kecilnya itu.

Ya, Max akan melindungi Liam segenap hati hingga suatu hari ayah dan ibu Liam mengajak seluruh keluarga untuk berlibur ke pedesaan. Sementara itu di apartemen, kita akan dipertemukan kembali dengan teman-teman Max. Seiring perginya Max ke pedesaan, para hewan piaraan ini juga disibukkan dengan urusan masing-masing. Snowball (Kevin Hart) kegandrungan menjadi seorang superhero. Kemudian Gidget (Jenny Slate) diberi tugas untuk menjaga sebuah benda penting.

Ada sesuatu yang menarik di dalam tahap persiapan. “The Secret Life of Pets 2” ternyata tidak memainkan pola yang sama dengan film-film lain yang menyertakan hewan piaraan di dalamnya. Khususnya bagi anjing, seringkali kita melihat sebuah pola tertentu yang berfungsi untuk membentuk motivasi dan dunia cerita, dan permasalahan di dalam pola tersebut sudah biasa ada.

Hal ini sempat muncul ketika tahap persiapan sedang dibangun, kemudian berbelok hingga menghasilkan sebuh motivasi baru. Motivasi di mana Max, sang anjing piaraan, tidak merasa dirinya tersingkirkan maupun terancam. Justru sebaliknya, ia merasa senang akan kehadiran anggota keluarga yang baru. Bahkan, secara brilian kesenangan ini diubah menjadi rasa takut, yang mana seakan menyiratkan salah satu perilaku manusia yaitu sifat “parno”.

Kemudian di sini penonton juga bisa melihat bagaimana usaha film dalam menjadikannya sebuah sekuel yang pantas ditonton. Jika berbicara skala, film kedua ini jelas lebih besar dibanding film pertamanya. Skalanya lebih besar, mulai dari situasi dan kondisi (sikon) yang sudah jauh berbeda.

Kehadiran Liam akan mengubah Max menjadi hewan piaraan yang semakin dewasa. Kemudian film ini juga terasa lebih “adventurous” dengan menghadirkan set-set baru. Jika sebelumnya tuntutan naratif lebih menempatkan aksinya di kota, maka sekarang akan ada dua tempat baru yang menjadi medannya, yaitu pedesaan dan sirkus. Terakhir, film juga memiliki karakter-karakter baru yang tidak kalah penting, baik di pedesaan maupun di kota dan tempat sirkus.

Masuk ke tahap konfrontasi, film mulai berubah. Ini akibat plot-nya yang bercabang tiga. Ini menjadi pertaruhan yang besar bagi “The Secret Life of Pets 2” karena sangat menarik untuk melihat bagaimana respon penonton akan hal ini karena pada masa tersebut, konflik utama dan konflik sampingan memiliki porsi seimbang.

Kita jadi kurang mengerti mana yang mesti didahulukan karena semuanya jadi sama-sama mengambil tempat. Film terlihat kehilangan fokus mau menceritakan tentang apa sebenarnya. Di sisi lain, penonton yang sudah tertarik dengan motivational setting di tahap sebelumnya bisa jadi tidak excited lagi karena masalah sudah bertumpuk.

Belum lagi terdapat satu masalah yang pada akhirnya sia-sia tanpa menghasilkan makna yang jelas. Ketakutan terbesarnya, ini akan membuat penonton boring dan ketiduran di pertengahan masa. Salah satu dari dua masalah yang tiba-tiba muncul pun sangat predictable.

Selain itu, penulisannya juga terhitung kasar sehingga tidak dapat membuat kita untuk invest kepada masalahnya. Beruntung, proses yang ada cukup menghibur dan menyertakan humor yang suka kita saksikan di media sosial jadi ada unsur konektivitas di sana. Selain itu, akan ada juga sequence yang cukup intens di area sirkus.

Untuk unsur komedinya, “The Secret Life of Pets 2” sangat mengandalkan kebolehan Kevin Hart sebagai pengisi suara Snowball. Meski jika dilihat dari tampilannya Snowball adalah seekor kelinci, namun aura dan gaya khas Kevin tidak hilang sama sekali. Energi positif coba dipancarkan, bahkan lewat humor-humor “silly” yang penuh dengan omong kosong.

Karakter Snowball di sini seperti cara film untuk tetap memasukkan unsur paling populer dalam dunia perfilman sekarang, tanpa ada sedikit pun niat untuk benar-benar serius di dalamnya. Untuk para karakter baru, karakter Daisy (Tiffany Haddish) menjadi duet bagi Snowball.

Seperti biasa, setting dari kerja sama antar dua karakter ini bukan sesuatu yang baru. Kita akan memahaminya dan itu masih cukup menghibur. Sayang tidak ada yang benar-benar bisa membuat kita lebih peduli pada eksistensinya, selain niat baik yang dimunculkan secara tiba-tiba.

Bagaimana dengan Rooster? Oh, dia justru lebih menarik. Karakter ini mengingatkan kita pada apa yang dituliskan oleh Taylor Sheridan pada karakter-karakter di film “Wind River” (2017). Bahwa sesosok karakter dibentuk sedemikian rupa berlandaskan dengan apa yang ada di sekelilingnya.

Dalam hal ini yang dimaksud sekelilingnya adalah daerah peternakan yang jauh berbeda dengan kota. Melihat dari tuntutan naratif, maka tak pelak cerita yang menyertakan Rooster di dalamnya harus memiliki pengaruh dengan tempat ia berada, dan film melakukan itu. Terlihat sekali, tempat memengaruhi karakter lebih daru karakter memengaruhi tempat itu.

Di luar jenis anjingnya yang memang seekor anjing penjaga, karakter Rooster begitu kuat akibat perannya di peternakan. Hal tersebut kemudian dibenturkan dengan sifat dan juga pergumulan hati Max dan akhirnya membuat relasi antar keduanya lebih bernilai.

Sayang, karena pemilihan plot yang bercabang, kita harus membagi kisah antara Rooster dan Max ini dengan dua story lain. Hal tersebut membuat cerita tidak memiliki cukup ruang untuk bisa menonjol padahal konflik utama dari film kali ini terdapat di sana.

Tahap resolusi menjadi sebuah akhir yang seru meski masih belum cukup gereget. Meski begitu, tahap resolusi ini memiiki kepentingan di awal karena menjadi muara dari seluruh cerita. Sayang, pertemuan dari cerita-cerita yang awalnya terpisah tidak berkesan. Hanya seperti formalitas saja.

Yang penting tiga-tiganya nyambung, setelah itu semua beres. Film sesegera mungkin ingin kembali “on fire”, sehingga semua sajian dengan intensitas yang lebih tinggi dibuat dengan cepat. Cuma, tidak ada aksi yang melibatkan seluru karakter dalam skala yang besar seperti film pertama.

Kali ini keseruannya terkesan kurang “grande” karena proses yang berbeda dan motivasi karakter utama yang terlalu dipaksakan pada konflik yang ada di tahap tersrbut. Anyway, karakter Gidget masih memiliki peran yang sama dalam babak ini. Ia adalah kartu As dalam menyelesaikan misi.

Bagi sebuah film sekuel, “The Secret Life of Pets 2” sudah menerapkan kebijakan yang tepat. Mereka ingin membuat filmnya lebih besar lagi. Baik dari segi sinematik maupun naratif, semuanya terlihat memiliki skala yang berbeda dari pendahulunya.

Tampilan animasi untuk tempat-tempat barunya terlihat bagus. Penuansaannya “spot on” sehingga film memiliki rasa petualangan yang kental. Karakter-karakter barunya pun banyak yang dibentuk tidak hanya lucu, namun memiliki ciri khas tersendiri.

Tapi, plot yang mereka tulis dalam segi naratif justru mencerminkan sesuatu yang “lebay”. Menjadi berkembang dan lebih besar bukan berarti membuat ceritanya menjadi lebih kompleks dengan menerapkan sistem yang “njelimet”.

Itu justru membuat penonton bisa kehilangan fokus karena kisahnya menjadi tak tentu arah. Sayang sekali padahal nilai moral yang ingin disampaikan sangat bagus dan eksposisinya juga sudah mantap. Overcrowded stories that seems more like a three-separated-shorts and lack of momentum that can actually build all the plotline altogether.

 

Director: Chris Renaud

Starring: Patton Oswalt, Kevin Hart, Jenny Slate, Lake Bell, Tiffany Haddish, Harrison Ford, Eric Stonestreet, Dana Carvey, Nick Kroll, Ellie Kamper, Chris Renaud

Duration: 86 Minutes

Score: 7.0/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here