“I’m not a queen, or a monster. I’m the God of Death! What were you the God of, again?” – Hela.

Entah disadari atau tidak, selama ini karakter Thor merupakan karakter yang tidak telalu banyak dikembangkan oleh pihak Marvel. Hal tersebut terlihat dari film pertamanya yang lumayan mengecewakan dan diikuti dengan film keduanya yang meskipun mengalami peningkatan tapi tidak terlalu memuaskan juga.

Bisa jadi, faktor penentunya adalah dari pihak Marvel sendiri. Sudah jadi rahasia umum bahwa Marvel  memiliki reputasi sebagai studio yang paling tidak ramah dengan sutradaranya dalam industri perfilman Hollywood.

Seiring dengan perjalanan waktu, tampaknya Marvel Studios mulai membenahi diri. Hasilnya, beberapa film Marvel yang paling sukses merupakan film-film yang digarap lengkap dengan esensi eksentrik sang sutradara. Hal tersebut dapat dilihat jelas dalam dua film The Guardians of the Galaxy. Dimana keduanya bisa dibilang lebih merupakan film James Gunn daripada film superhero Marvel. Demikian pula dengan Scott Derrickson yang berhasil menggambarkan visualisasi fantasmagoria yang mewah dalam Doctor Strange. Tapi, tampaknya kedua film tersebut tidak akan dapat dibandingkan dengan Thor: Ragnarok garapan Taika Waititi.

Thor: Ragnarok bisa dikatakan sebagai  fitur Hollywood pertama yang digarap oleh Taika Waititi. Namun apa yang dilakukan oleh sutradara asal New Zealand  terhadap film ini jauh lebih dalam daripada sekedar menambah karakter baru atau unsur komedi. Taika Waititi berhasil memasukkan sebuah kesadaran akan perubahan baru yang penuh warna dan ide spektakuler berkaitan dengan keseluruhan film superhero Marvel. Hasilnya, sungguh luar biasa, Thor: Ragnarok berhasil menjadi sebuah film superhero Marvel yang paling menyenangkan untuk disaksikan.

Adegan awal dalam film ini dibuka dengan pertarungan kocak antara Thor (Chris Hemsworth) dengan Surtur. Setelah menang, Thor pun kembali ke Asgard dengan keinginan untuk bertemu dengan Odin (Anthony Hopkins). Alaih-alih bertemu dengan Odin, Thor malah bertemu dengan Loki (Tom Hiddleston) yang menyaru menjadi Odin. Thor dan loki pun pergi bersama untuk mencari Odin.

Sayangnya, begitu bertemu dengan Odin, sang penguasa Asgard tersebut malah tewas di hadapan kedua anak lelakinya. Setelah Odin tewas, di hadapan Thor dan Loki mendadak muncul Hela (Cate Blanchett), putri pertama Odin, sang Dewi Kematian sekaligus pewaris sah tahta Asgard. Thor dan Loki berusaha keras menghalangi Hela, namun keduanya ternyata sama sekali bukan tandingan seorang Dewi Kematian.

Setelah pertempuran yang tidak imbang tersebut, Thor mendapati dirinya terperangkap di Planet Sakaar dan harus memenangkan pertandingan gladiator jika hendak meninggalkan planet tersebut. Dan lawan pertama yang harus dihadapinya adalah Hulk.

Meski dari premisnya terasa bagaikan sebuah film standar Marvel yang berkutat dengan kehancuran dunia, dalam kasus ini adalah Asgard, namun adegan pertama dari film ini  memberikan perbedaan yang sangat jelas dengan film superhero Marvel lainnya. Dalam film ini Chillers akan disuguhi oleh karakter kocak Thor yang dibawakan dengan baik oleh Chris Hemsworth. Dimana Thor selalu mencoba melakukan hal yang baik dan benar, meski tidak dapat melakukannya dengan cara yang pintar. Bisa dikatakan bahwa dalam Thor: Ragnarok, humor dan pengembangan versi karakter berada dalam sebuah level yang jauh berbeda.

Perubahan-perubahan tersebut terasa sangat ampuh dalam memberikan suasana yang berbeda dan membuat keseluruhan film ini terasa menyenangkan. Beberapa detil yang terasa berkesan adalah desain Planet Sakaar yang retro futuristik, aransemen musik dari Mark Mothersbaugh, karakter Korg yang dimainkan dengan apik oleh Taika Waititi sendiri, hingga Immigrant Song (Led Zeppelin) yang berkumandang setiap kali sang jagoan bertarung dengan lawannya. Selain itu, alunan musik elektronik yang mendominasi film-film juga turut memberikan warna yang berbeda dalam Thor: Ragnarok.

Jujur saja, jenis musik seperti ini merupakan sesuatu yang relatif baru dalam film superhero Marvel, meski dalam The Guardians of the Galaxy musik era tahun 80 an juga menawarkan nuansa sejenis namun dengan perspektif yang berbeda. Seluruh hal tersebut berhasil dikemas secara menawan dan spektakuler dengan komposisi yang pas oleh Taika Waititi.

Tentu saja, Thor: Ragnarok masih memiliki tiga unsur terpenting dari film superhero Marvel. Ketiga unsur terpenting tersebut adalah aksi pertempuran yang spektakuler, permasalahan pelik akhir dunia, dan makhluk-makhluk CGI raksasa. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan karakter serta interaksi antar karakter yang berhasil dibawakan dengan apik oleh para pemeran utamanya juga menjadi faktor penentu dalam film ini.

Salah satu bintang utama yang berperan sangat menawan adalah Cate Blanchett yang berperan sebagai Hela. Artis yang telah meraih dua piala Oscar ini berhasil membawakan peran Hela dengan sangat menarik. Meski karakter Hela yang diperankannya digambarkan sebagai villain paling kuat dan keji di film ini namun tetap terlihat sangat elegan baik dalam bertingkah laku maupun dalam bertarung.

Thor: Ragnarok merupakan film yang wajib Chillers tonton. Selain terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan film-film superhero Marvel lainnya, Thor: Ragnarok terasa sangat menghibur dan menyenangkan. Thor: Ragnarok hadir di bioskop-bioskop Indonesia pada tanggal 25 Oktober 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here