Buat kamu yang pernah menonton serial “Touken Ranbu: Hanamaru” (2016-2018) dan “Katsugeki/Touken Ranbu” (2017) mungkin tak akan kebingungan melihat versi live action terbaru ini, karena film terbaru ini merupakan remake dari “Katsugeki/Touken Ranbu” (2017) yang terdiri dari 13 episode.

“Eiga: Tôuken Ranbu” adalah adaptasi terbaru dari salah satu dari browser game populer Touken Ranbu yang dikembangkan oleh Nitroplus dan DMM. Dalam game tersebut, pemain dapat mengumpulkan antropomorfikasi dari pedang-pedang Jepang untuk melawan musuh yang berniat mengubah sejarah. Berbeda dari Kantai Collection, Touken Ranbu menggambarkan pedang-pedang bukan sebagai gadis cantik (bishoujo), tapi sebagai cowok-cowok ganteng yang disebut touken danshi.

Pada suatu malam 21 Juni 1582, daimyo Jepang Oda Nobunaga tiba-tiba dibangunkan pelayannya, Mori Ranmaru, saat Kuil Honnō-ji yang ditempatinya diserang oleh Jenderal Akechi Mitsuhide. Pada waktu yang sama di masa depan, di tahun 2205, Saniwa, seorang bijak yang diberi kekuatan untuk menghidupkan pedang legendaris dan menghidupkannya. Saniwa kemudian memanggil Mikazuki Munechika (Hiroki Suzuki) untuk memberitahukan tentang rencana Time Retrograde’s Army (Pasukan Revisionis Sejarah) dan menjaga Oda Nobunaga tetap hidup dengan menyelamatkannya dari serangan kuil Honnō-ji.

Saniwa kemudian mengirim tim yang terdiri dari enam pedang: Mikazuki Munechika, Yamanbagiri Kunihiro (Yoshihiko Aramaki), Yagen Toushirou (Ryo Kitamura), Heshikiri Hasebe (Masanari Wada), Fudou Yukimitsu (Taizo Shiina), dan Nihongou (Hiroaki Iwanaga) kembali ke masa lalu untuk menghentikan rencana pasukan Time Retrograde.

Kembali di kuil Honnō-ji, Nobunaga dan pelayannya, Mori Ranmaru, berusaha untuk menahan benteng sementara pasukan Akechi menyerang kuil. Namun, orang-orang Akechi berhasil membunuh orang-orang Nobunaga. Melihat tidak ada jalan keluar, Nobunaga mundur ke kamarnya dan memerintahkan Mori untuk menahan pasukan itu. Sementara pasukan Akechi maju, pasukan Time Retrograde tiba-tiba muncul di tempat kejadian dan menyerang pasukan Akechi. Hasebe, Fudou, dan Nihongou kemudian tiba di tempat kejadian dan melawan pasukan Time Retrograde. Namun Nobunaga kemudian berhasil melarikan diri, dan tiba-tiba semua pihak berusaha mengejar Nobunaga, termasuk para touken danshi yang harus menyusun strategi baru untuk menghadapi pasukan Time Retrogade yang ternyata juga ingin menyerang markas mereka.

Buat kamu yang masih awam atau belum paham dengan cerita Tôuken Ranbu, pada intinya kedelapan touken danshi yang berasal dari 8 pedang terkenal ini berusaha meluruskan sejarah, dan menghalangi pihak-pihak yang berusaha mengubah sejarah yang sudah terjadi.

Film live action ini disutradarai oleh Saiji Yakumo yang pernah menggarap “Mars: Tada, Kimi wo Aishiteru” (2016) dan “The Dark Maidens” (2017) dengan naskah cerita ditulis oleh Yasuko Kobayashi (serial TV Attack on Titan).

Versi live action ini tampil dengan cerita yang lebih dark dan lebih serius, namun dengan tampilan kostum berwarna cerah yang sangat eye catching. Make-up yang sangat apik membuat aktor-aktor yang memerankan touken danshi ini mampu disulap menjadi cowok-cowok cantik, yang pastinya akan membuat para fansnya kegirangan melihat karakter idola mereka tampil lebih hidup.

Untuk alur ceritanya jujur saja akan membuat beberapa orang akan merasa kebingungan, karena menggunakan alur maju mundur dengan pola tak beraturan, sangat tak nyaman untuk dinikmati, walaupun pada akhirnya bisa memahami cerita sebenarnya.

Permasalahan kemudian berlanjut ke efek CG yang masih rough, koreografi battle yang apa adanya, juga sinematografi yang terbilang buruk, seakan memperpanjang masalah dari film yang sempat memukau lewat tampilan trailer-nya yang menjanjikan.

Di sisi lain, penggambaran karakter dan hubungan mereka di film ini melibatkan sejumlah referensi yang mungkin akan sulit ditangkap oleh sebagian penonton yang awam dengan anime-nya, tidak (belum) pernah main game-nya atau tidak begitu paham dengan sejarah Jepang; kecuali jika kamu melakukan riset atau inferensi terkait premis dasarnya. Banyaknya karakter yang ada juga menyulitkan untuk mengingat nama-nama mereka. Tetapi tanpa sepenuhnya mengerti referensi-referensi tersebut, penggambaran karakter dan dinamika interaksi yang mereka tunjukkan, sudah cukup bagi audiens yang mencoba memahami sejumlah karakter yang baru pertama kali mereka lihat ini.

Buat kamu yang penasaran dengan versi live action ini, tak ada salahnya menonton “Eiga: Tôuken Ranbu” di sejumlah bioskop CGV, Cinemaxx dan Flix di Indonesia.

 

Director: Saiji Yakumo

Starring: Hiroki Suzuki, Yoshihiko Aramaki, Ryō Kitamura, Masanari Wada, Hiroaki Iwanaga, Fuma Sadamoto, Norito Yashima, Taizo Shiina, Tomoki Hirose, Koji Yamamoto

Duration: 105 Minutes

Score: 7.0/10

1 COMMENT

  1. numpang ngasih masukan:

    1) ini bukan remake, tapi murni adaptasi original dan tidak ada sangkut pautnya dengan adaptasi yang lain (meskipun aktor yang diambil sama dengan aktor stage/butai).

    2) jika yang dimaksud dengan bad cg = petal sakura, saya tidak bisa setuju, karena kelopak sakura sudah jadi ikon/ciri khas penting dari serial ini. tanpa ada itu, film ini rasanya seperti sayur kurang garam.

    3) ini yang paling fatal, soal koreografi battleーperlu ditekankan sekali lagi bahwa ini bukan film dengan aksi brutal, melainkan film yang mengedepankan estetika & keindahan. sama seperti judul serial ini, “touken ranbu” yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “tarian pedang”, sehingga wajar jika para toudan tidak menghabisi lawan mereka secara barbar. selain itu, gerakan (garis bawahi) setiap pedang sengaja disesuaikan dengan karakter & tipe dari masing-masing pedang itu sendiri, dan tentu saja gerakan-gerakan tersebut diarahkan oleh ahlinya, sehingga hasilnya tidak main-main. terakhir, para toudan itu sejatinya memang senjata, bukan “orang yang menggunakan senjata” sehingga gerakan memang sengaja dibuat berbeda dari tokoh samurai di film-film bertema serupa

    4) terakhir, film ini memang cukup sulit dimengerti oleh orang awam, terlebih banyak sekali hal-hal tersirat yang hanya bisa dimengerti/disadari oleh mereka yang cukup jeli. sebagai contoh, tanaman yang terinjak dalam film bukan sembarang tanaman, melainkan bunga wasurenagusa (forget me not). bagi yang sudah cukup lama tenggelam di fandom ini, mereka pasti bisa mengerti apa kaitan bunga tersebut dengan mikazuki.

    mungkin sekian saja masukan dari saya.
    trims.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here