Akhirnya, penantian panjang untuk menyaksikan film superhero Indonesia yang berkualitas bisa dibilang pupus. Itulah kesan yang menempel di kepala usai menyaksikan film aksi Valentine produksi Skylar Pictures. Mengapa saya berani berpendapat demikian? Karena film ini tidak hanya berhasil memberikan sajian yang memuaskan namun juga menyiratkan harapan adanya masa depan yang menjanjikan untuk genre film superhero lokal. Oleh karena itu kali ini mungkin saya mengapresiasi film ini agak emosional.

Sebagai orang yang dari kecil suka dengan hal-hal yang berbau superhero, sudah tentu saya tidak hanya ingin menonton film superhero Hollywood saja, tapi juga menonton film superhero dari berbagai belahan dunia lainnya, baik itu yang  merupakan produksi film Eropa maupun Asia. Sebagai penyuka hal-hal yang berbau superhero dan film, sudah lama saya mendamba adanya film superhero asli negeri sendiri yang berkualitas. Namun, permasalahannya, di tengah geliat menggembirakan kebangkitan film nasional satu dekade belakangan ini, genre film superhero masih belum juga memperlihatkan geliat yang ditunggu-tunggu.

Padahal, kalau mau diusut usut film superhero juga memiliki sejarahnya tersendiri di peta perfilman nasional. Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa dulu kita punya film-film superhero seperti Rama Superman Indonesia, Darna Ajaib dan juga Gundala Putera Petir. Kalau dari segi sumber materi juga kita punya deretan superhero lokal yang beragam. Jangankan untuk macam superhero-superhero muka lama yang sudah dikenal (Godam, Aquanus, Maza, Merpati, Darna, Tira, dan sebagainya), bahkan dari deretan generasi barunya pun kita punya banyak nama potensial, seperti Carok dan juga para superhero dari lini Skylar Comics. Tapi, sebelum kehadiran Valentine momentum untuk film superhero lokal masih memperlihatkan masa depan buram.

Harapan sempat terbuka saat beredar kabar bahwa versi baru Gundala sedang digarap di bawah penyutradaraan Hanung Bramantyo. Namun, tahun demi tahun berlalu, tidak ada perkembangan signifikan dari proyek itu. Malah faktanya, sebelum Valentine, justru film superhero lokal yang pertama kali muncul ke permukaan dan memproklamirkan diri sebagai film superhero, hanya Garuda Superhero (GS). Yang sayangnya, meski kentara ambisiusnya, pengeksekusiannya mengecewakan dan maaf saja, hasilnya jauh di bawah harapan. Sebenarnya, setelah GS masih ada Satria Heroes, namun dalam hemat saya pribadi, film ini berada di genrenya sendiri yakni tokusatsu, yang rasanya kurang cocok jika dimasukkan ke dalam golongan film superhero atau dibandingkan dengan golongan tokoh-tokoh lainnya yang dibahas di sini.

Berbicara mengenai film Valentine sendiri, saya pertama kali mendengar perihalnya saat berkesempatan memandu acara bincang-bincang mengenai masa depan film superhero nasional dan melakukan tanya jawab langsung dengan Marcelino Lefrandt (lihat foto di bawah) di sebuah event di Jakarta.  Dari situ saya memantau terus perkembangan mengenai Valentine ini, apalagi saat mendapat informasi bahwa Skylar berencana menghadirkan sebuah cinematic universe dari tokoh-tokoh komik mereka, salah satunya Valentine.

Namun, seperti kita tahu, proyek produksi Valentine sempat mengalami proses berlarut-larut. Pihak Skylar sendiri lebih dulu merilis proyek lain yang juga dibintangi Estelle Linden, Mereka Yang Tak Terlihat, di mana pada saat acara pemutaran perdana MYTT, untuk pertama kalinya saya menyaksikan premis dan trailer Valentine. Akhirnya dari penuturan sang aktris sendiri didapat informasi mengenai tanggal pasti dirilisnya film ini serta perihal apa yang menyebabkan penundaan masa tayangnya.

Sinopsis Resmi Film Valentine

Bono (Matthew Settle) merupakan seorang sutradara yang memiliki ide membuat film superhero wanita bernama Valentine. Meskipun idenya selalu ditolak oleh produser film, namun baginya pantang untuk menyerah. Bersama rekannya Wawan (Arie Dagienkz), seorang makeup artis dan wardrobe, ia berencana membuat dummy film sang superhero sedang membasmi kejahatan dan direkam secara candid.

Ketika putus asa karena tak kunjung menemukan pemeran yang cocok sebagai tokoh utamanya, tak disangka Bono bertemu dengan Srimaya (Estelle Linden) yang sedang terlibat perkelahian dengan salah satu pengunjung kafe. Sri yang diam-diam memiliki obsesi menjadi artis menerima tawaran Bono untuk bermain dalam dummy filmnya.

Bono, Sri, dan Wawan pun beraksi melumpuhkan maling dan perampok-perampok mini market. Hingga suatu saat, tanpa sengaja mereka menggagalkan aksi perampokan bank profesional. Sejak saat itulah nama Valentine pun melambung. Namun, hal tersebut juga membahayakan nyawa mereka.

Sudah menarik minat sejak dari materi trailernya saja, di luar dugaan, sajian Valentine tampil begitu impresif dan melebihi ekspektasi yang diperkirakan, rasanya itulah rangkaian kata yang pas untuk mengomentari upaya pertama sepak terjang tokoh Skylar Comics ini. Valentine memang dibuka dengan awal yang standar dan kisah yang disajikan memang tidaklah baru, bahkan sepintas mengingatkan pada Kick Ass, namun dari sini berkembang storyline orisinal yang menarik dan berbeda.

Valentine juga berhasil mempresentasikan bagaimana gambaran wujud superhero di kehidupan nyata.  Banyak berisikan nod pada kisah-kisah komik superhero (terutama Batman-red), salah satu angin segar yang di sini adalah pilihan untuk menghadirkan bahwa karakter di balik topeng Valentine dari awal hingga menjelang akhir melakukan aksinya karena terpaksa, dan mengharapkan pamrih, sebelum kemudian menjalani takdirnya sebagai seorang superhero sejati di akhir film.

Satu aspek yang menjadi nilai plus besar adalah kentara benar pihak kreator paham benar anatomi filmnya. Tidak seperti faktor utama kegagalan Garuda Superhero karena berusaha konsisten untuk tampil serius (meski justru malah makin terlihat konyol), hal itu berhasil dihindari secara elegan di sini. Valentine tidak segan tampil konyol, lewat joke-joke ringan yang disisipkannya di awal-awal, sehingga saat proses transformasinya menjadi sosok heroine, rootnya sudah jelas.

Aspek yang membuat film ini menarik adalah sukses terjaganya flow cerita dan luasnya cakupan yang dirambahnya. Meski masih kentara ada beberapa kelemahan di pengeksekusiannya, namun secara garis besar, skripnya digarap lumayan matang. Arah penceritaannya lumayan jelas, alurnya mudah diikuti, bahkan berani menyuguhkan twist.

Adegan koreografi pertarungannya lumayan apik. Untuk hal ini pujian layak diberikan pada Estelle Linden yang performanya di sini bisa tampil meyakinkan sebagai sosok heroine tangguh. Linden piawai memperlihatkan tahapan transformasi karakter yang dimainkannya. Segi aksinya pun secara general jauh dari mengecewakan meski tidak ditunjang dengan CGI yang memadai, yang rasanya mengingat ini bukan film superhero yang dikembangkan dengan bujet ekstravaganza , rasanya bolehlah dimaklumi.

Dari jajaran pemainnya, apresiasi terbesar sudah pasti harus diberikan pada Estelle Linden, namun selain dirinya, penampilan Matthew Settle dan Arie Dagienkz juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ketiganya mampu membentuk chemistry meyakinkan yang membuat interaksi antara ketiganya tidak terkesan dibuat-buat.

Secara keseluruhan, selain faktor spesial efeknya yang sama sekali tidak smooth, Valentine merupakan sajian lezat yang nikmat disantap dan untuk ukuran film-film superhero (secara global) punya nilai sedikit di atas rata-rata. Apresiasi lebih juga harus diberikan karena keberanian film ini untuk tampil agresif (dirilis berdekatan dengan perilisan Thor: Ragnarok dan Justice League) dan ambisius (bravo untuk penggambaran retro-modern Batavia City yang fiksional namun mendekati kenyataan).  Pengeksekusiannya jauh dari sempurna memang namun sangat mudah untuk melihat bahwa film ini dibuat oleh orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan kecintaan mendalam pada film-film superhero.

Pendek kata, Valentine adalah film superhero lokal langka yang sangat sayang dilewatkan begitu saja. Pengemasannya tidak superior namun sangat menghibur, dengan catatan Anda kesampingkan jauh-jauh kualitas CGI di film ini, dan fokuskan pada penuangan ceritanya. Bahkan menurut penilaian pribadi, selain merupakan salah satu film tanah air yang kualitasnya di atas rata-rata yang dirilis tahun ini, film ini juga bahkan layak masuk ke dalam deretan film superhero terbaik 2017.

Melalui Valentine, start yang bagus berhasil dibuat oleh oleh Skylar sebagai langkah pertama mewujudkan cinematic universenya, yang rasanya berkaitan dengan salah satu adegan mid-credit scenes yang dihadirkannya membuat rasanya semakin tidak sabar untuk melihat sepak terjang lanjutannya di masa depan.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here