“Critique is so limiting and emotionally draining. A bad review is better than sinking into the great glut of anonymity.” – Morf Vandewalt.

Melangsungkan premiere pertamanya di Sundance, “Velvet Buzzsaw” memberikan teror yang cukup menarik untuk kita nikmati. Di film ini kita bisa melihat dan juga merasakan, bagaimana jadinya jika sebuah seni ‘membunuh’ kita di dunia yang nyata. Karena berada dalam lingkup dunia seni, maka teror di “Velvet Buzzsaw” ini pastinya akan menyajikan mise-en-scene yang nampak segar. Menjadikan galeri seni, pameran, dan museum sebagai tempat jagalnya, Velvet coba menghiasi instalasi-instalasi yang terpajang dengan tambahan lumuran darah dan teriakan-teriakan histeris.

Tapi di balik itu, sebetulnya yang juga menjadi perhatian dari Velvet adalah orang-orangnya. Disutradarai oleh Dan Gilroy, “Velvet Buzzsaw” merupakan reuni dari tim “Nightcrawler” (2014). Selain Dan Gilroy yang kembali duduk di kursi sutradara, di jajaran cast ada nama Jake Gyllenhaal dan Rene Russo. Tiga nama ini adalah nama-nama besar yang ada di “Nightcrawler” dan lewat Velvet, mereka ingin membuat kekacauan yang lebih gila namun dengan nuansa yang jauh berbeda. Jake dan Rene sendiri sukses memerankan karakter yang dua-duanya sama-sama mengagumkan. Jake menjadi Morf Vandewalt, kritikus yang bisa menjatuhkan karir seseorang hanya dengan modal menulis saja. Kemudian Rene berperan sebagai Rhodora Haze, pemilik galeri yang kenal dekat dengan Morf.

Tentu di dalam film ini kita akan melihat karakter-karakter lainnya yang tak kalah menarik, dan beberapa dari mereka memiliki nama yang tidak kalah “nyeni”-nya. Yang paling menonjol tentu Josephina, salah satu karyawan galerinya Rhodora yang memiliki hubungan yang complicated dengan Morf. Suatu hari, Josephina mengalami kejadian tak diduga di apartemennya. Ia menjadi saksi dari kejadian tersebut dan lebih jauh, Josephina menemukan barang-barang yang sepertinya sayang kalau dibuang begitu saja. Setelah dilihat dan mendapatkan “advance review” dari Morf, barang-barang tersebut diketahui memiliki nilai yang sangat berharga dan dianggap punya pasar yang luas.

Setelah temuan Josephina itu tersebar kemana-mana, “Velvet Buzzsaw” menjadi ajang orang-orang tamak. Ketika seni sudah dicampurkan dengan bisnis, maka apapun bakal rela dilakukan untuk meraih keuntungan dari karya seni yang dijual. Film menceritakan hal ini dengan baik, di mana kita bisa melihat beberapa usaha yang dilakukan oleh para pemilik galeri demi mendapatkan profit dari lukisan Vetril Dease yang katanya visioner dan menghipnotis tersebut. Morf, yang memberikan dua kata testimoni tadi, kemudian tertarik untuk melakukan riset terhadap Vetril guna mempublikasikan biografi tentangnya. Apa yang ia temukan setelahnya akan membuat film ini menjadi lebih intense dalam bercerita.

Nilai berikutnya muncul dari karakter Morf. Sebelum itu, ada sedikit plus minus mengenai eksposisi karakter yang satu ini. Morf ditampilkan begitu menarik dengan kerumitan yang ia miliki. Sikap dan penilaiannya terhadap sebuah karya, kemudian hubungan percintaannya membuat karakter ini menjadi kompleks. Ini juga semakin didukung oleh gayanya dengan rambut pendek berponi ala orang culun dilengkapi oleh kacamata yang semakin menegaskan kesan chic. Jika dilihat dari sisi tampilan, bentukan Morf jelas lebih disukai dibandingkan dengan apa yang dipakaikan ke tubuh Jake dalam film “Okja”.

Yang jadi sedikit membosankan adalah vibe nyentrik dan kerumitan karakter yang sangat tipikal. Tidak bisakah seorang seniman itu tampil lebih biasa? Gaya dan karakter yang kompleks membuat Morf sebetulnya tidak ada bedanya dengan yang lain. Adanya sisi lain dari Morf yang membuat dirinya memiliki nilai lebih, dan patut digarisbawahi bahwa itu sama sekali tidak ada urusannya dengan poin-poin yang edgy. Mau ngomongin soal representasi? Silahkan. Tapi hal tersebut kini bukan sesuatu yang baru, apalagi spesial.

Masuk ke value yang dibawa dari Morf, “Velvet Buzzsaw” menyampaikan kritik sosialnya terhadap seni dari sudut pandang kritikus atau pengulas. Hal ini juga sebetulnya nyambung dengan kekhawatiran beberapa reviewer atau blogger film yang merasa diri mereka digunakan dalam lingkup komoditas seni. Selain itu, hal ini juga sedikit menyentil mereka-mereka yang suka mengkritik tanpa filter agar bisa dianggap keren. Morf memiliki kemampuan itu, bahkan lebih. Ia bisa mematikan karir seseorang. Lewat film ini, kamu akan temukan akibat dari apa yang awalnya dianggap keren tersebut niscaya bakal kembali kepadamu. Tapi tetap saja, berkat akting yang brilian dari Jake, Morf merupakan karakter yang keren. Dia tidak takut mengutarakan apa yang ia inginkan, meski kadang salah tempat atau menyakiti perasaan orang lain. Ia hanya berusaha selektif dengan caranya sendiri. Bukan kejutan jika nanti akan ada banyak quote bagus yang diucapkan dari karakter ini.

Masalah terbesar dari film adalah bagaimana mereka membuat eksekusi adegan-adegan kekerasan yang melibatkan korban. Biasanya di bagian semacam ini dibutuhkan perencanaan yang matang. Mulai dari aspek naratifnya, kemudian vibe dan latar tempat yang menimbulkan kesan ngeri, pemanfaatan props, musik, tempo yang berkaitan dengan sinematografi, arahan akting dan akting dari pemeran. Semua harus dipergunakan dengan baik dan Velvet tidak melakukannya secara penuh di seluruh “death scene”-nya. Hampir tidak ada satu pun kematian yang berkesan. Dua diantaranya sangat janggal. Ada yang disebabkan oleh kurangnya motivasi yang ditunjukkan oleh karakter yang bersangkutan sehingga penonton belum berinvestasi kepada cerita. Kemudian ada yang menimbulkan pertanyaan terkait arahan yang diberikan kepada sang aktor yang nantinya akan memunculkan sebuah pertanyaan mendasar, “ngapain dia ke sana?”.

Satu “death scene” juga terkesan menggampangkan alias “gitu doang”. Set up adegannya sih oke, hanya penyelesaian akhirnya nanggung. Jika dikaitkan dengan unsur naratif, di mana korban sedang menonton satu cuplikan dari pemutar kaset jadul, mungkin penonton bahkan bisa membuat klimaks adegan yang lebih nendang dan lebih “nyeni” dibanding apa yang ditunjukkan di dalam film. Cukup gunakan imajinasi liarmu karena film ini memang maunya begitu. Di sini juga terlihat masalah lainnya, di mana teknik cutting secara cepat nampak kurang efektif dalam membuat kita terkejut. Memang hal ini sesuai dengan unsur naratif, di mana lukisan-lukisan Ventril mengundang aroma-aroma spiritual. Tapi, eksekusi akhir yang cepat dan patah membuat semua jadi drop.

“Death Scene” yang paling favorit di “Velvet Buzzsaw” saja masih memiliki beberapa lubang yang menganga lebar. Pertama, sama dengan salah satu “death scene” yang dibahas sebelumnya, adegan yang satu ini juga memiliki kelemahan dalam menyampaikan motivasi karakter dalam melakukan sesuatu. Arahan akting yang membuat adegan menjadi irit dialog bikin penonton harus mau berusaha dalam mencerna keinginan si karakter. Untungnya, flaw ini dibayar tuntas oleh main scene-nya. Visual yang gore dan kualitas akting yang bagus dari sang aktris membuat pembunuhan ini sangat meyakinkan dan ini lah yang terbaik. Sayang, ada satu kelemahan pada aftermath, di mana ke-edgy-an menjadi bumerang yang akan membuat penonton ngeri tapi juga tertawa sekaligus karena saking konyolnya. Memang orang-orang ini tidak mencium bau amis apa?

Mengulas “Final Destination” versi dunia seni pastinya belum lengkap tanpa membahas tentang pengambilan gambar-gambarnya. Sebagai film yang mengandung unsur seni yang tinggi, tentu penonton akan penasaran untuk melihat seberapa apiknya film mengaplikasikan seni lewat teknik sinematografi. Digawangi oleh Robert Elswit yang sebelumnya merupakan sinematografer film “Mission: Impossible – Rogue Nation”, “Velvet Buzzsaw” memiliki beberapa shots yang asik. Berdasarkan tuntutan naratifnya, highlights dari gambar yang dirancang Robert adalah pemandangan kota Los Angeles, lalu shot yang menempatkan bola mata Morf agar dapat “berbicara”, dan permainan sudut pandang memanfaatkan salah satu instalasi seni.

Berbicara mengenai awal film, pergerakan kamera di masa-masa ini juga cukup dinamis. Scene demi scene yang ada di Basel teratur dalam menyorot karakter demi karakter dan kadang saling menghubungkan beberapa diantaranya. Kita bisa menikmati pameran sambil bilang, “oh ada si A, ada si B, eh ada si C juga!” sambil mencerna sifat masing-masing tokoh dengan santai. Pergerakan kamera dan akting akan sangat krusial karena ini membantu penonton juga untuk bisa memahami siapa memerankan siapa. Beberapa kali film memperkenalkan seorang karakter yang diomongin oleh karakter lainnya, alias diomongin di belakang. Hanya saja, di banyak kesempatan, shot dari film juga nampak tak ada bedanya dengan serial tv. Kemudian kualitas animasi yang sarat akan unsur api juga masih kasar sekali. Well, untuk menjadi sesuatu yang bernilai di sini tidak cukup dengan terlalu bergantung pada sesuatu yang “artsy”.

Ditambah kejelian dari departemen sound dalam salah satu adegan yang menyertakan keganasan akting Jake Gyllenhaal, “Velvet Buzzsaw” adalah teror berdarah yang memiliki charm-nya sendiri. Sayang, film lebih berat ke Velvet daripada ke Buzzsaw-nya. Velvet yang dimaksud adalah bagian-bagian yang terlihat “nyeni” dan keren, di mana film mengeksplorasi wilayah tersebut dengan baik, didukung “stellar cast” yang tampil kuat. Buzzsaw di sini adalah terornya yang masih terhitung nanggung. Komersialisasi seni tidak termasuk dalam hal ini, yang mana ditunjukkan dengan jelas. Teror lebih mengarah ke bagaimana film membangun misterinya, which is berada di posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan isu yang mereka bawa. Selain itu, adegan-adegan yang menegangkan juga lebih banyak yang tidak meninggalkan kesan. Mungkin memang seharusnya Buzzsaw, karena kalau “Buzzkill”, sedikit pun tidak.

Bila dibandingkan dengan film Dan Gilroy sebelumnya yakni “Nightcrawler”, film ini masih jauh dibawahnya, namun buat kamu yang penasaran dengan “Velvet Buzzsaw”, film ini sudah bisa kamu tonton di jaringan berbayar Netflix mulai 1 Februari.

 

Director: Dan Gilroy

Starring: Jake Gyllenhaal, Rene Russo, Zawe Ashton, Toni Collette, Natalia Dyer, Daveed Diggs, Tom Sturridge, John Malkovich, Billy Magnussen, Nitya Vidyasagar, Mark Steger, Mig Macario

Duration: 112 Minutes

Score: 7.0/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here