‘Widows’, Perjuangan Para Janda Ketika Ditinggal Pergi Suaminya

0
209

“Now the best thing we have going for us, is being who we are. Because no-one thinks we have the balls to pull this off.” – Veronica.

Bisa dibilang, film ini merupakan film yang sangat kuat. Dilihat dari orang-orang yang mengarsiteki dibalik layar, hingga ensemble cast-nya, semuanya adalah bakat-bakat hebat. “Widows” merupakan karya terbaru sutradara Steve McQueen, yang meraih penghargaan Oscar lewat film drama dengan tema perbudakan “12 Years A Slave” (2013). Ia mengaku sudah ingin me-remake “Widows” sejak ia menonton serial televisinya pada tahun 1983. Kini mimpi itu terwujud, bahkan lebih dari yang ia duga sebelumnya. Gillian Flynn, penulis yang terkenal lewat kisah-kisah misterius seperti “Gone Girl” dan “Dark Places” bergabung ke dalam tim. Belum selesai, Hans Zimmer, komposer kondang Hollywood yang bisa dibilang langganan Oscar, juga ikut mengaransemen musik film ini. Terakhir, jajaran pemain top mengisi line-up, mulai dari yang memerankan tokoh antagonis sampai protagonis. Dari yang merupakan aktor veteran, kondang, sampai yang baru-baru ini mencuat, semuanya kumpul! Bagaimana kita bisa menolak kalau materinya sudah begitu menjanjikan seperti ini?

Tentu sulit untuk menolaknya karena Widows ternyata juga relevan dengan social issue yang kini tengah merebak dalam industri perfilman Hollywood. Empat orang janda ditinggal oleh suami-suami mereka yang mati secara tragis. Selain membuat duka dan memperberat beban hidup, para janda ini juga tidak tahu-menahu jika suami-suami mereka meninggal menyisakan masalah besar. Para suami ternyata melakukan tindakan kriminal dan apa yang mereka perbuat itu berhubungan dengan salah satu orang paling berpengaruh di kota. Otomatis, karena ini menyangkut kehidupan si orang penting ini, maka hal tersebut sekarang juga menyangkut kehidupan si para janda. Mereka diancam, diteror, dan pada akhirnya janda-janda ini memutuskan untuk tidak diam dan melakukan sesuatu.

“Widows” dimulai dengan sebuah sequence yang sangat powerful. Dibuat layaknya montage, di sini penonton akan ditunjukkan rangkaian scene yang di mana satu rangkaian merujuk kepada perkenalan karakter-karakter penting yang ditampilkan secara hangat, kemudian yang satu lagi adalah rangkaian scene dengan elemen aksi yang tinggi. Teknik pemotongan adegan yang pas berhasil membuat kita langsung masuk ke dalam cerita karena sequence ini berjalan dinamis, diisi oleh emosi, dan juga menghentak. Ini merupakan salah satu highlight yang brilian lagi efektif, di mana Steve McQueen sukses memadukan dua hal yang bertolak belakang dengan sangat baik yaitu unsur drama dengan action. Belum selesai, Steve juga sukses menampilkan eksposisi dengan cerdas. Salah satu concern pertama yang ada mengenai “Widows” adalah bagaimana caranya film memperkenalkan para janda dan masalah-masalah mereka. Lewat sequence pertama, kecemasan tersebut langsung sirna. Tidak banyak omong, langsung gaspol!

Kemudian yang tersaji setelahnya adalah konflik cerita yang dibuat meluas dan semakin meluas seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan story arc dari para janda. Dua hal itu dibuat berjalan beriringan, hingga nanti film memasuki tahap resolusi. Untuk konfliknya sendiri, “Widows” memang menggabungkan tiga hal yaitu drama, crime dan politik. Tapi hal tidak serta-merta membuat Widows kehilangan arah. Ketiga hal itu diikat dengan baik dalam plot-nya sehingga semuanya jadi saling mendukung, bukan terpisah. Sayangnya, ada beberapa kelemahan dalam tahap konfrontasi. Ini membuat lubang yang menganga lebar, dan sayangnya, jila melihat kepada film-film bertema heist, biasanya beberapa bagian ini ditunjukkan dengan jelas sehingga ritme film menjadi lebih cepat. Sebuah pilihan yang tidak populer, yang mana membuat “Widows” lebih memilih untuk menyelami permasalahannya yang luas secara perlahan.

Satu yang paling menonjol dari kelemahan tersebut adalah sedikit kurangnya film dalam hal menampilkan keberlanjutan setelah turning point pertama. Mudahnya begini, biasanya film-film bertema heist memiliki waktu di mana sang protagonis mengetahui sasaran dan akhirnya memelajari sasaran tersebut hingga hari-h pelaksanaan. “Widows” sesungguhnya punya sesuatu yang lebih dari itu, di mana para janda bahkan belum tahu apa sasaran mereka yang juga merupakan kunci agar mereka selamat dari waktu tenggat. Tapi ternyata, cerita justru berputar-putar menceritakan hal lain sehingga penonton bisa jadi kaget ketika tahu-tahu wanita-wanita itu mengetahui tempat yang tergambar dalam blueprint. Kemudian yang kedua, ada satu titik di mana karakter Veronica (Viola Davis) memecahkan kode penting yang berhubungan dengan rencana besar. Tapi sayangnya film menampilkan hal penting tersebut secara mentah. Tidak jelas bagaimana cerita Veronica bisa mengetahui kode itu. Tiba-tiba scene-nya ada dan terasa kurang harmonis dengan plot yang sedang dibangun.

Beranjak ke tahap resolusi, Widows sudah keburu kehabisan waktu. Apa yang ditampilkan tidak seperti yang diduga sebelumnya. Unsur aksi jujur sangat sedikit di sini, lalu juga kelewat simpel. Halangan yang muncul ada yang sukses membangkitkan adrenalin, tapi ada juga yang zonk akibat lemahnya konfrontasi akhir antara para janda dengan satu antagonis tertentu. Final dari tahap resolusi justru menampilkan kejutan yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, kemudian apa yang akan terjadi ke depan pun dapat diprediksi. Di satu sisi ini memunculkan kekuatan dari film secara jelas, namun di sisi lain arahan tersebut sebetulnya tidak meninggalkan impresi tertentu. Ibarat dj sedang siaran radio single, punchline-nya masih kurang nendang.

Cara film menampilkan kedalaman karakter patut diacungi jempol. Di awal, kita bisa melihat bahwa Steve McQueen memutuskan untuk menampilkan para karakter dengan pemilihan cast yang memiliki risiko tersendiri. Bukan bermaksud ofensif tapi pemilihan Viola Davis sebagai karakter utama dalam sebuah film yang pada akhirnya ditutup oleh aksi merupakan pilihan berani. Ia sama sekali tidak terlihat tangguh dan menarik secara fisik. Kesannya memang ibu-ibu banget. Kemudian Michelle Rodriguez yang tampil berbeda 180 derajat dibanding ketika ia ada di film-film sebelumnya. Jarang kita melihat Michelle yang tidak kuat secara fisik. Mengangkat beban sambil berlari saja tidak kuat. Ini jarang terjadi! Tapi justru, dengan begini film terlihat menunjukkan penghargaan tersendiri. Selain itu, penempatan ini juga menunjukkan keberanian karena tidak ada satu pun karakter yang pada akhirnya menonjol. Kerapuhan dan kelemahan seseorang tampil apa adanya. Tidak lupa, kapasitas sang aktor dalam menampilkan karakter masing-masing juga cocok dengan tuntutan naratif di mana para janda harus kuat dalam menghadapi duka sekaligus cobaan berita yang menanti di depannya.

Untuk aspek motivasi, pada awalnya “Widows” seperti kembali ompong. Tapi, jika dilihat-lihat lagi, ternyata hanya terdapat minor problem saja. Alasan para janda untuk beraksi ternyata ditampilkan secara jelas walaupun sangat berbahaya. Teruntuk para karakter pendukung, keputusan yang mereka ambil sangat gila meski didasari oleh motif yang masih masuk akal. Masalah terbesar justru ada di karakter Mr. Rawlins yang diperankan Liam Neeson. Senang rasanya melihat kondisi bahwa dia tidak tampil semudah itu. Karakter Mr. Rawlins hadir diluar dugaan, namun apa yang ia kerjakan di awal masa sungguh menimbulkan pertanyaan. Atas dasar apa ia melakukan hal itu? Tidak terlalu jelas. Jika melihat pada eksposisi karakter, Mr. Rawlins juga bukan tipe orang susah. Kelemahan-kelemahan ini membuat “Widows” tidak terlalu apik dalam menyusun cerita. Mereka sukses menunjukkan hal yang tidak biasa, namun tidak dengan hal-hal biasa yang sebetulnya penting juga untuk dilihat eksekusinya seperti apa.

Untuk urusan visual, “Widows” memberikan keindahan lewat kolaborasi apik antara Steve McQueen, sinematografer Sean Bobbitt, dan colorist Tom Poole. Lewat arahan yang diinginkan Steve, Sean dan Tom kemudian mewujudkan gambar demi gambar yang bisa berbicara lewat warna dan ruang. Aspek sinematografi dari “Widows” dibuat sedemikian rupa agar apa yang terlihat di layar merupakan mood dari scene yang ada. Beberapa teknik yang diterapkan secara apik adalah pencahayaan, layer warna, dan power window.

Contoh yang menarik untuk ditelusuri adalah ketika film menampilkan Veronica yang sedang berada di apartemennya. Teknik pewarnaan di satu saat berhasil menonjolkan nuansa “cold” yang merupakan gabungan antara warna dasar putih dengan warna interior biru. Kemudian di saat yang lain, mise-en-scene bisa menarik elemen somber yang mengisolasi Veronica lewat komposisi hitam dengan abu-abu, sementara warna dari cuaca luarnya dibuat lebih cerah dengan hadirnya jingga. Warna-warna yang muncul ini seakan berbicara mengenai kesendirian yang dialami Veronica akibat ditinggal suaminya. Lalu space yang ada mewakili cerita lainnya dari karakter Veronica yang kini tidak hanya haris hidup di dalam kemewahan, namun juga di dunia yang lebih gritty dari Kota Chicago.

Lalu set berikutnya adalah set di mana para janda bertemu. Tempat ini jelas berbeda dengan apa yang para janda itu tinggali, di mana markas mereka jauh dari kesan comfy. Ini bukannya tanpa alasan. Markas ini punya hubungan erat dengan unsur cerita dan dibutuhkan teknik tingkat tinggi dari Sean dan Tom sehingga film bisa turut menonjolkan beragam warna yang dikolaborasikan dengan pas. Mulai dari yang gelap, kehijauan, tungsten, hingga cerah. Mulai dari warna yang ada di background, hingga warna yang terpancar dari kulit para aktris. Bertemunya warna-warni ini dan berbagi frame merupakan tantangan besar yang harus dilalui. Untuk mengatasi itu, Sean mengatur pencahayaan di dalam markas agar poin terpenting dari frame tetap terlihat jelas, tidak kemerahan atau berubah jadi kelabu.

Kemudian Tom memanfaatkan teknik Power Window, di mana ia mengisolasi beberapa bagian dalam frame untuk meningkatkan kekontrasan warna. Untuk yang satu ini dia memanfaatkan warna kebiruan agar kekontrasan warna bisa mentransisi tone dari hangat ke dingin, yang merupakan pertanggungjawaban dari tuntutan narasi film itu sendiri. Hasil akhirnya terlihat cantik karena apa yang diinginkan tersalurkan dengan baik dan tidak memaksa. Menonjolnya warna baik dari para janda maupun latar dibelakangnya semakin didukung lewat teknik polarizing filter dari Sean. Ia merefleksikan warna (terutama pada wajah para pemain) dengan memanfaatkan kombinasi pencahayaan kemudian interior dan exterior. Digabung dengan kekontrasan Power Window, hasil akhir betul-betul menonjolkan warna yang seakan mengatakan bahwa para janda harus menghadapi sikon yang kacau, dunia yang kotor, yang ternyata dibawa oleh orang-orang tercinta.

Berlanjut ke bagian berikutnya di mana terjadi intensitas yang tinggi ketika karakter Jatemme Manning masuk untuk mengintimidasi korbannya. Di sini kita tidak hanya akan melihat kualitas akting yang bengis dari seorang Daniel Kaluuya dan akhir yang menggetarkan, namun visual yang tampil juga justru ditampilkan berbeda dengan momen-momen serupa dari film lainnya. Warna tetap ditampilkan secara natural di mana terdapat pencahayaan yang cukup, dan ini sudah kelihatan beda karena biasanya, film lain menampilkan warna yang cenderung lebih gelap pada momen seperti itu. Unsur visual yang timbul dari pencahayaan dan warna, yang justru tampil bertolakbelakang dengan unsur naratif, tidak membiaskan adegan. Justru ini menciptakan tantangan bagi aktor yang bersangkutan, and Daniel just nailed it.

Kemudian untuk angle kameranya, ada satu sequence yang diambil secara long take, di mana sequence tersebut merupakan highlight dari film ketika menampilkan isu politik dan sosial yang ada di dalam konflik cerita. Secara cerdas kamera ditempatkan pada posisi yang tidak biasa, yaitu di bagian depan mobil (kap mobil), namun dengan cara ini film justru sukses menangkap sebuah penggambaran yang kontras dari daerah yang menjadi latar tempat kisahnya. Lewat pembagian proposisi gambar yang pas, penonton akan disuguhkan pemandangan “dua alam” kota Chicago yang langsung terpisah hanya dalam satu belokan saja. Cara pengambilan gambar ini jelas menunjukkan kepiawaian Steve dan Sean dalam memainkan komposisi. Efek visual yang ditimbulkan akibat pergesekan antara obyek kap mobil dengan obyek lingkungan sekitar menghasilkan perspektif yang dalam teknik pengambilan gambar “Canted Framing” sering diasosiasikan dengan situasi yang kacau, menggelisahkan, dan tidak beres.

“Widows” adalah karya yang cukup memuaskan dari mereka yang berkolaborasi dalam isi cerita, dan mereka yang dengan susah-payah menampilkannya ke depan mata. Unsur drama yang kelam dan penceritaan yang complicated tampil berkuasa, dalam balutan visual yang cantik dari proses yang rumit. Film berhasil menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan oleh sutradaranya yang kaliber Oscar lewat aspek mise-en-scene yang bagus dan gaya yang groundbreaking. Pengaruh khas dari Gilliann Flynn juga tidak lupa turut dimunculkan. Sayang, cerita yang kedodoran pada bagian tengah dan lemah di third act bikin aftertaste dari “Widows” berasa mengganjal di akhir. Belum lagi Cynthia Erivo yang awalnya dikira bakal keluar bak petarung, eh ternyata tidak ada bedanya sama seorang kurir.

 

Director: Steve McQueen

Starring: Viola Davis, Michelle Rodriguez, Elizabeth Debicki, Cynhtia Erivo, Daniel Kaluuya, Colin Farrell, Liam Neeson, Robert Duvall, Brian Tyree Henry

Duration: 129 Minutes

Score: 7.8/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here