‘Wonder Park’, Fantasi Indah Membuat Sebuah Taman Hiburan

“My whole life I dreamed of building an amusement park, but then it came to life.” – June.

Taman bermain menjadi salah satu hal yang paling diingat sewaktu kita kecil, bahkan ini bisa sampai ke level terobsesi. Vibe tempatnya yang ramai dan seru, kemudian wahana-wahananya yang menantang membuat sebuah taman bermain terlihat sangat berwarna. Kita pergi ke taman bermain entah itu bersama keluarga atau teman-teman untuk berbahagia bersama-sama. Bahkan sesampainya di rumah, beberapa dari kita masih belum bisa move-on dari asyiknya taman bermain sehingga menyalurkannya dengan cara bermain “Roller Coaster Tycoon” di personal computer masing-masing. Keajaiban seperti ini juga dirasakan oleh June. Ia percaya akan “The power of amusement park” dan mewujudkannya dengan cara yang luar biasa. June betul-betul membuat taman bermainnya sendiri, lengkap dengan maskot-maskotnya yang lucu.

“Wonder Park” diawali oleh scene yang menunjukkan hal ini. Betapa June sangat kreatif dalam menciptakan taman bermain yang ramai dikunjungi orang. Daya imajinasinya luar biasa, dan usaha June dalam membuat taman bermain ini didukung juga sepenuhnya oleh ibu dan ayahnya. Khusus bagi sang ibu, perannya digambarkan cukup vital dalam kreasi taman bermain ini. Jika June adalah otaknya, sang ibu merupakan penyemangat utama dan juga memiliki andil pamungkas dalam terbentuknya satu wahana. Keadaan mulai berbalik 180 derajat setelah ibunya June harus pergi dari rumah. Tidak ditemani lagi oleh sang ibu, June menjadi tidak stabil. Ia berubah menjadi gadis pemurung yang pesimis dan temperamental. Ia pun membenci karyanya sendiri dan menganggapnya tidak nyata.

Dari sini kita bisa melihat eksposisi karakter utama dengan jelas. June menjadi begitu berbeda tanpa kehadiran sosok ibu di sisinya. Ia merasa depresi, sehingga membuang semua mimpi yang sudah susah payah dirajut bersama. Klimaksnya adalah ketika kakek dan nenek berkunjung ke rumah June. Di sana, apa yang kita perkirakan akan meletus pada akhirnya meletus beneran. Sayang, cerita mulai dipaksakan setelah momen ini berakhir. Menjelang turning point pertama, June berjanji pada ayahnya kalau dia akan ikut camp Matematika bersama teman-temannya. Di sini kita akan melihat apa yang biasanya disebut dengan “Inciting Incident”, yaitu sebuah peristiwa atau tindakan yang menjadi pemicu terjadinya turning point pertama. Masalahnya adalah, cerita yang melatari inciting incident ini tidak ada hubungannya dengan character’s arc yang sudah dibuat. Masalahnya berbeda dan sulit untuk menemukan koherensi dari sana, makanya cerita jadi terkesan dipaksakan.

Selain itu, humornya juga bukan selera kebanyakan orang. Ibarat film indie, banyak humor yang dilontarkan di paruh pertama ini bersifat niche. Hanya bisa dimengerti dan dinikmati oleh segelintir orang. Apesnya, segelintir orang yang dimaksud bukan mereka yang, istilah kata, aware dengan segala sesuatu yang berbau pop-culture. Bukan, bukan itu. Segelintir orang yang dimaksud adalah mereka yang merupakan orang-orang super pintar, yang saking pintarnya sampai membuat jokes dari rumus fisika atau matematika. Ketika humor-humor seperti ini dilempar ke penonton awam, zonk! Tidak ada yang tertawa. Bagus jika film ingin “embrace” penonton lain agar mereka merasa terwakili, tapi dengan pengorbanan yang ada sepertinya unsur humor seperti ini malah menjadi senjata makan tuan. Malah terkesan sia-sia.

Setelah turning point pertama, kita akan berpindah. Apa yang diciptakan oleh June menjadi sebuah realita. Ia melihat taman bermainnya sendiri, lengkap dengan maskot-maskotnya. Ada Boomer, seekor beruang berwarna biru yang tugasnya adalah menyambut pengunjung yang datang. Lalu ada Greta, babi hutan betina yang memberikan komando pada maskot-maskot lainnya. Untuk urusan teknis, ada dua ekor berang-berang yaitu Gus dan Cooper yang tugasnya adalah memperbaiki wahana yang rusak. Di bagian pelayanan ada Steve, seekor landak yang berbicara dengan logat Inggris medok. Terakhir, ada Peanut, monyet berwarna cokelat yang keahliannya adalah menghibur tamu-tamu dan menciptakan wahana baru dengan spidol ajaibnya.

Tetapi, ada yang berbeda dengan Wonder Park kali ini. Film menampilkan visualisasi Wonder Park yang jelas tak sama dengan apa yang dilihat di awal film. Taman bermain ini sekarang terlihat tidak memiliki pengunjung, bernuansa suram, layaknya kota hantu. Untuk hal ini, kita bisa memahami salah satu fungsi setting dalam mendukung tuntutan naratifnya, yaitu sebagai aspek yang membangun mood atau suasana. Yang paling memiliki andil di sini adalah elemen natural. Suasana agak mendung ikut menghiasi taman.

Ini sering digunakan untuk memberi nuansa yang kurang enak, bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi dan dalam kasus Wonder Park ini bisa jadi buruk lagi. Lalu hal-hal kecil seperti dedaunan yang berserakan dan wahana yang terlantar makin menguatkan energi negatif. Ke depannya penonton akan diberi tahu bahwa ada sesuatu yang bisa membuat Wonder Park menjadi sesuram ini. Tentu saja “sesuatu” ini akan bersangkutan dengan eksposisi dari karakter June yang sudah diceritakan di awal masa.

Masih di awal tahap konfrontasi, June dan penonton juga akan disambut dengan segerombolan “Chimpanzombie”. Ini adalah boneka kecil-kecil yang berbentuk simpanse, yang awalnya diciptakan sebagai suvenir untuk pengunjung yang datang ke Wonder Park. Sejak Wonder Park bermasalah, para boneka simpanse ini menjadi hidup dan mulai merusak wahana satu demi satu. Sifat mereka yang selalu datang bergerombol dan suaranya yang masih dibuat imut-imut bikin Chimpanzombie sangat menggemaskan tapi memberi kesan annoying di saat yang sama.

Uniknya adalah, tidak terlihat perubahan yang signifikan dari penampilan para Chimpanzombie, padahal mereka di sini bisa dikatakan sudah berubah menjadi para pemeran antagonis. Biasanya, ada perubahan-perubahan tertentu ketika ada karakter yang berubah menjadi jahat. Paling umum sih bisa dilihat dari matanya. Cuman untuk Chimpanzombie ini semua nampak sama. Di sisi lain ini membuat tingkat kegemasan mereka tidak berkurang, which is good.

Chemistry antar karakter yang muncul, baik dari sesama maskot atau antara June dan para maskot, terjalin dengan baik. Kita bisa menikmati peran mereka masing-masing, interaksi dan dinamika yang ada di dalamnya. Jangan bayangkan para maskot akan langsung begantung kepada June ketika June datang dan bertemu dengan mereka. Terdapat issue yang dimiliki oleh kelompok ini kepada June dan issue tersebut bisa diolah sedemikian rupa sehingga mampu membuat relationship mereka jadi lebih berasa. Tidak flat.

Khusus untuk Peanut, karakter ini bisa dibilang merupakan maskot yang spesial. Namun, bencana yang menimpa Wonder Park memengaruhi dirinya. Film menampilkan keringkihan Peanut ini sehingga penonton bisa bersimpati. Seiring berjalannya waktu, kita jadi tertarik untuk melihat bagaimana karakter ini berkembang.

Untuk ceritanya sendiri, “Wonder Park” memiliki formula yang kurang lebih sama dengan yang dimiliki oleh film “Wreck it Ralph 2: Ralph Breaks the Internet”. Bedanya, jika Ralph itu fokusnya ada pada jalinan persahabatan, “Wonder Park” lebih kepada studi karakter. Bagaimana dampak dari perbedaan sifat June setelah ia dihantam oleh ujian yang berat, dan apa respon yang akan ia lakukan setelahnya. Terdapat plus-minus mengenai itu. Untuk minus-nya, film tidak memiliki eskalasi konflik yang gereget. Paling yang greget cuma saat June meyakinkan teman-teman maskotnya. Itu berhasil memberi kesan mendalam.

Selebihnya adalah usaha-usaha yang sekedar aji mumpung, meski tetap memberikan sajian humor agar kita tetap merasa terhibur. Nilai plus-nya adalah berkaitan dengan value dari film. “Wonder Park” memberikan pesan positif agar kita tidak menyerah kepada mimpi, dan percaya akan kekuatan imajinasi yang bisa mengubah segalanya. “Sh*t happens”, “people change” itu betul. Tapi bukan berarti hal-hal semacam itu membuat kita meninggalkan apa yang sudah diperjuangkan. Siapa tahu justru itu lah yang membuat kita spesial.

Ditambah dengan gambar animasi yang di dunia modern seperti sekarang ini termasuk ke dalam kategori yang biasa-biasa saja, “Wonder Park” adalah film keluarga yang oke, namun tidak istimewa. Tantangannya seakan-akan terlihat mengancam, padahal masih terhitung ringan dan mudah diatasi. Faktor drama membuat semua menjadi lebih sulit dan bertele-tele. Meski begitu, cerita yang ada secara keseluruhan berhasil membuat kita penasaran untuk mengikuti perkembangan dari karakter utama. Berarti di sini jelas, konflik mana yang lebih menarik dan dari situ lah “Wonder Park” paling enak untuk dinikmati.

 

Director: David Feiss, Robert Iscove, Clare Kilner

Starring: Sofia Mali, Brianna Denski, Jennifer Garner, Ken Hudson Campbell, Kenan Thompson, Ken Jeong, Mila Kunis, John Oliver, Norbert Leo Butz, Matthew Broderick.

Duration: 85 Minutes

Score: 7.3/10

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here