“Salvation can be yours. An offering of blood will set you free. I want to play a game.” – John Kramer

Rasanya seperti baru kemarin saat film Saw pertama kali dirilis pada tahun 2004 dan menuai sukses yang luar biasa. Setelah itu, tahun demi tahun Lionsgate merilis film Saw terbarunya, hingga berhenti pada instalasi ketujuh, Saw 3D, pada tahun 2010. Bagaimanapun, 7 tahun setelahnya, franchise horor ini kembali melalui instalasi kedelapannya, Jigsaw.

Sayangnya, sama seperti franchise horor lainnya, Jigsaw tidak dapat memberikan kesuksesan yang berarti bagi franchise ini. Film yang hanya berdurasi 92 menit ini terasa sangat kurang, apalagi jika dibandingkan dengan film Saw VI (2009) yang dinilai lumayan memuaskan para pecinta horor karena plot twist­­-nya yang terasa original.

Memang, menonton Jigsaw akan terasa bagaikan melakukan sebuah perjalanan penuh nostalgia. Dimulai dari background musik yang terasa familiar dan dilanjutkan dengan adegan-adegan yang telah terbiasa disaksikan dalam franchise-nya, sebenarnya banyak yang dapat diolah dalam film ini.

Namun semuanya kandas dari segi para pemainnya yang terasa serba tanggung. Belum lagi, kurangnya adegan gore yang selalu menjadi ciri khas franchise Saw. Untungnya, film ini dapat Chillers saksikan tanpa perlu menyaksikan 7 film sebelumnya. Meski, setelah menonton Jigsaw, belum tentu juga Chillers berniat untuk menonton 7 film pendahulunya.

Film dibuka dengan adegan seorang penjahat yang dikejar-kejar oleh belasan polisi, sebuah adegan aksi yang jarang sekali terlihat dalam franchise Saw. Adegan pembuka yang cukup menjanjikan ini membawa secercah harapan dalam instalasi kedelapan Saw. Sayangnya, harapan tersebut kandas begitu film ini memperkenalkan deretan karakter yang sangat tanggung. Semuanya, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan kepiawaian karakter Mark Hoffman yang diperankan dengan sangat apik oleh Costas Mandylor.

Seperti film-film pendahulunya, beberapa adegan dalam Jigsaw juga mengetengahkan prosedur kepolisian. Dimana polisi dan koroner berusaha memecahkan misteri para korban yang terperangkap dalam sebuah permainan mengerikan dalam rangka menebus dosa yang pernah mereka lakukan. Semuanya dilengkapi dengan suara khas Tobin Bell yang dipastikan dapat membuat orang yang mendengarnya merinding.

Sebenarnya, banyak hal yang dapat digali dalam film ini. Contohnya, referensi petunjuk mengenai warisan nama ‘Jigsaw’ dari John Kramer untuk pengikutnya. Atau petunjuk nyata akan adanya sekelompok orang yang memuja-muja ‘Jigsaw’.  Sungguh teramat disayangkan bahwa semuanya hanya divisualisasikan secara metafora saja, tanpa adanya sesuatu yang nampak riil. Belum lagi adegan akhirnya yang tampak seperti kehilangan momentum, meski susunan cerita dan petunjuk-petunjuk palsu telah disebar dengan cukup rapi dan menyakinkan.

Jigsaw mungkin tidak sejelek Saw 3D (2010), namun tetap merupakan sebuah film franchise yang seakan telah kehilangan jiwanya. Dengan kata lain, film yang disutradarai oleh Peter Sprieg dan Michael Sprieg (Daybreakers, Predestination) berdasarkan naskah yang ditulis oleh Josh Stolberg dan Peter Goldfinger ini terasa sangat hambar serta lebih cocok untuk dinikmati melalui DVD. Memang plot twist yang diletakkan di penghujung film terasa sedikit membantu, tapi tetap saja tidak dapat menyelamatkan film ini.

Bagi Chillers yang merupakan penggemar setia franchise Saw, Jigsaw merupakan salah satu film yang cukup pantas untuk dinikmati. Meski tidak memberikan sesuatu yang baru, paling tidak film ini dapat mengobati kerinduan para penggemar setianya, setelah abstain selama tujuh tahun. Jigsaw telah dapat dinikmati di bioskop-bioskop Indonesia, segeralah tonton film ini sebelum masa tayangnya berlalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here