Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta, Film Kolosal Raja Mataram Terbesar

291

“Hari ini, aku bersumpah akan mengemban tahtaku sebagai amanat rakyat” – Sultan Agung.

Banyak sekali film kolosal Indonesia yang pernah mewarnai jagat film layar lebar Indonesia. Sejak era 70-an hingga di era keemasannya pada tahun 80-90an, film-film kolosal bertema kerajaan seperti Saur Sepuh 1-5 (1988-1992) ataupun Tutur Tinular 1-4 (1989-1992) bersanding manis dengan film-film laga legendaris macam Si Buta dari Gua Hantu (1970), Panji Tengkorak (1971), dan Jaka Sembung (1981).

Meski begitu, era kejayaan film semacam ini mulai memudar saat serial TV bermunculan dan beralihnya tren ke film – film remaja dan horror yang mendominasi layar lebar mulai dari tahun 2000-an hingga saat ini. Memang tak mudah membuat film bergenre seperti ini, selain dibutuhkan dana yang tidak sedikit, sumber daya manusia mulai dari crew hingga cast yang dibutuhkan pun juga tak kalah banyaknya.

Belum lama ini film kolosal Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta beredar pada awal Agustus 2018. Film yang mengangkat pemimpin Kerajaan Mataram yang sangat terkenal pada awal abad 17 ini memulai kisahnya saat Sultan Agung masih muda yang kala itu masih bernama Raden Mas Rangsang (Marthino Lio). Raden Mas Rangsang dititipkan sang ayah sejak berusia 10 tahun di Padepokan Ki Jejer (alm.Deddy Soetomo) untuk mendalami agama dan beladiri.

Di padepokan itulah dirinya berkenalan dan jatuh cinta dengan Lembayung (Putri Marino). Kedua sejoli ini sama-sama cerdas dan pintar. Dalam satu scene bahkan sempat digambarkan kedekatan intim keduanya yang terbilang intens dari waktu ke waktu.

Raden Mas Rangsang yang merupakan anak dari istri kedua Raden Mas Jolang dengan Gusti Ratu Banowati (Christine Hakim), tadinya tak berharap menjadi raja karena dirinya bukan merupakan putra mahkota. Adipati Martapura yang merupakan pewaris tahta dari istri pertama, Gusti Ratu Tulung Ayu (Meriam Bellina) dipaksa mundur karena mengalami tuna grahita.

Konflik internal yang mulai bermunculan di sekitar istana ini dipicu oleh wafatnya Raden Mas Jolang secara misterius ketika sedang berburu. Kejadian ini memicu Raden Mas Rangsang naik tahta di usia relatif muda, 20 tahun.

Ketika Kerajaan Mataram menghadapi masa sulit, kisah cinta Mas Rangsang-Lembayung juga turut berakhir. Perbedaan kasta di antara mereka, membuat semua serba sulit, terlebih ketika naik tahta menjadi Raja Mataram, Raden Mas Rangsang pun menjadi Sultan Agung (Ario Bayu), dan menikah dengan putri Adipati Batang (Anindya Putri) yang sudah direncanakan sebelumnya.

Cerita kemudian bergeser beberapa tahun ke depan. Mataram menghadapi musuh baru dan kuat. VOC yang semestinya merupakan firma dagang dari Belanda, perlahan mulai mencaplok satu per satu wilayah Nusantara. Dimulai dari Banda, VOC yang dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen mulai menduduki Jayakarta. Karakter Sultan Agung pun turut berubah dari Mas Rangsang yang santun dan humoris menjadi lebih tegas dan keras. Bahkan ketika perwakilan VOC datang ke Mataram, dirinya bahkan tak mau tunduk, apalagi bekerjasama dengan Belanda.

Pada akhirnya Sultan Agung memutuskan untuk menyerang Belanda di Batavia dan mengerahkan semua kekuatan yang dimilikinya, mulai dari adipati di bawah kekuasaannya, bahkan membuat senjata yang mirip dengan yang dimiliki Belanda. Penyerangan ke Batavia ini juga tak luput dari pengkhianatan orang-orang terdekat di sekelilingnya yang menganggap Sultan Agung hanya mengorbankan rakyat Mataram demi ambisi pribadinya. Namun dari sini terlihat bagaimana karakter Sultan Agung yang sebenarnya dalam menghadapi Belanda, sangat berbeda dari yang kita tahu dari buku-buku pelajaran sekolah.

Film berdurasi 148 menit ini cukup panjang untuk menggambarkan sosok Sultan Agung sebagaimana mestinya. Beberapa kekurangan memang masih tampak terlihat, seperti efek CGI yang terlalu kentara, namun penggunaan bahasa Jawa yang bercampur dengan bahasa Indonesia yang mendominasi film yang secara keseluruhan memang sangat menarik dan dapat dinikmati dengan baik hingga akhir.

Pujian khusus untuk sosok Sultan Agung saat muda (diperankan oleh Marthino Lio) dan saat menjadi raja (oleh Ario Bayu) sangat baik. Begitu pula dengan sosok fiktif Lembayung muda (diperankan Putri Marino) dan dewasa (diperankan Adinia Wirasti) memang sangat mirip dari segi fisik dan karakter menjadi poin lebih dari film ini.

Hanung Bramantyo sebagai sutradara pun banyak menggali informasi dari banyak sumber tertulis, baik dari catatan penjelajah-penjelajah Eropa, yang ditulis dan dibukukan oleh HJ De Graf. Catatan-catatan ini menghadirkan perspektif Belanda terhadap Mataram, karena ditulis tentang hubungan mereka dengan kerajaan, dan bukan ditulis oleh orang dalam keraton. Sumber lain yang jadi rujukannya adalah Babad Tanah Jawi, sebuah kitab yang dianggap sebagai catatan resmi tentang sejarah keraton, Babad Mataram serta Babad Sultan Agung.

Memang tak mudah mencari referensi terbaik untuk film-film semacam ini. Terlebih bagaimana hubungan antara Sultan Agung yang terkenal keras tanpa kompromi dengan orang-orang terdekatnya seperti istri dan anaknya, pengambilan keputusan yang ia ambil ataupun pengkhianatan yang ia alami dengan para adipatinya.

Namun film semacam ini patut dihargai sebagai penghormatan atas jasa-jasa Sultan Agung semasa hidupnya melawan penindasan penjajah yang dilanjutkan oleh para penerusnya hingga kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

 

Director: Hanung Bramantyo

Starring: Marthino Lio, Ario Bayu, Putri Marino, Ardinia Wirasti, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Deddy Oetomo, Meriam Bellina, Christine Hakim, Anindya Putri, Rukman Rosadi, Asmara Abigail, Hans de Kraker

Duration: 148 minutes

Scoring: 7.8/10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here